Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Benarkah Hukum Menggagalkan Pertunangan Haram?

Amalan yang Disunnahkan saat Melamar

BincangMuslimah.Com Salah satu kesunnahan sebelum membangun bahtera rumah tangga adalah dengan adanya Khitbah atau istilah yang biasa kita sebut dengan lamaran atau tunangan. Dalil yang menjadi dasar disunnahkannya tunangan adalah hadis-hadis nabi diantaranya adalah:

إذا خطب أحدُكم المرأةَ ، فإنِ استطاعَ أنْ ينظرَ منها إلى ما يدعوه إلى نكاحِها فلْيفعلْ

“Apabila kalian hendak meminang wanita, maka jika mampu untuk melihatnya, maka lakukanlah.” (HR. Abu Dawud)

Dan hadis nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

أظهروا النكاح وأخفوا الخِطبة

“Umumkanlah pernikahan dan rahasiakanlah pertunangan.” (HR. Ahmad)

Perlu dibedakan dan dijelaskan pengertian antara tunangan dan pernikahan. Karena keduanya memiliki konsekuensi yang sangat berbeda

Tunangan adalah sebuah ikatan janji untuk melaksanakan pernikahan. Kendati demikian, perlu diketahui bahwa pernikahan dan tunangan adalah dua hal yang berbeda.

Definisi pernikahan itu sendiri adalah ikatan janji antara pasangan suami istri yang dilaksanakan dengan memenuhi rukun-rukun pernikahan. Sedangkan pada tunangan belum ada ikatan secara resmi dalam kaca mata agama dan masih hanya sebatas tunangan saja. Konsekuensinya adalah ketika seseorang telah melakukan tunangan bukan berarti semua hal dapat dilakukan (halal). Diharamkan melakukan perbuatan yang dapat mengantarkan kepada zina. Hal ini penting untuk diketahui karena oleh banyak orang sering disalahpahami bahwa setelah tunangan maka boleh seenaknya sendiri melakukan hal apa saja tanpa terkecuali.

Sering terjadi setelah melakukan tunangan, seiring berjalannya waktu dari kedua pihak merasa ragu dan tidak cocok sehingga ingin menggagalkan pertunangannya. Lalu bagaimana Islam memandang hukum menggagalkan tunangan?

Syaikh Mansur ibn Yunus al-Buhuti yang biasa kita kenal dengan Imam al-Buhuti dalam kitabnya Kasyf al-Qinna’, Juz 5 hal. 20, memerinci hukum menggagalkan pertunangan:

وَلاَ  يُكْرَهُ لِلْمَرْأَةِ غَيْرَ الْمُجْبَرَةِ الرُّجُوْعُ عَنْ اْلإِجَابَةِ لِغَرَضٍ صَحِيْحٍ وَلاَ يُكْرَهُ لِلْوَلِيِّ لأَنَّهُ عَقْدُ عُمْرٍ يَدُوْمُ الضَّرَرُ فِيْهِ فَكَانَ لَهَا اْلاحْتِيَاطُ لِنَفْسِهَا وَالنَّظَرُ فِيْ حَظِّهَا وَالْوَلِيُّ قَائِمٌ مَقَامَهَا فِيْ ذَلِكَ وَبِلاَ غَرَضٍ صَحِيْحٍ يُكْرَهُ الرُّجُوْعُ مِنْهُ وَمِنْهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ إخْلاَفِ الْوَعْدِ وَالرُّجُوْعِ عَنِ الْقَوْلِ وَلَمْ يَحْرُمْ ِلأَنَّ الْحَقَّ بَعْدُ لَمْ يَلْزَمْ

“Tidak dimakruhkan bagi wali yang memiliki kuasa atas perempuan (Ghair al-mujbarah/Perawan) untuk menarik kembali khitbah yang sudah disepakati sebab sebuah tujuan. Tidak pula dimakruhkan bagi perempuan yang independen (Mujbarah/ Janda). Hal itu diperbolehkan jika terdapat tujuan yang dapat dibenarkan. Sebab, pernikahan adalah merupakan sesuatu yang sakral yang tidak semua orang bisa melakukannya, dan merupakan ikatan yang berkelanjutan yang dampaknya akan dirasakan selamanya. Maka seorang perempuan atau wali bisa lebih hati-hati dalam mempertimbangkannya. Jika menggagalkan tanpa adanya tujuan yang dibenarkan, maka dimakruhkan menarik kembali dari khitbah yang telah disetujui. Karena, hal ini termasuk dari bentuk pengingkaran terhadap janji. Namun hukum ini tidak sampai mencapai taraf haram, karena hak yang ada dalam khitbah yang telah disepakati bukanlah hak yang mengikat.”

Dengan Ibaroh di atas bisa diperinci mengenai hukum menggagalkan tunangan:

Pertama, menggagalkan pertunangan apabila disertai dengan alasan dan tujuan yang jelas, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Kedua, jika menggagalkan pertunangan tanpa disertai dengan alasan dan tujuan yang jelas, maka hukumnya adalah makruh, karena hal ini sama saja seperti mengingkari sebuah kesepakatan.

Ketiga, hukum ini tidak sampai pada taraf haram, karena pada dasarnya pertunangan bukanlah hal yang mengikat.

Wallahu A’lam…

 

Rekomendasi

Ziadatul Widadz
Ditulis oleh

Aktivis IKSASS (Ikatan Santri Salafiyah Syafi'iyah) Surabaya

1 Komentar

1 Comment

    Komentari

    Terbaru

    Kuasai Tiga Ilmu Memahami Hadis di Sekolah Hadis El-Bukhari Institute

    Kajian

    hikmah menyusui dua tahun hikmah menyusui dua tahun

    Dua Syarat Seorang Bayi Dihukumi Anak Susuan

    Kajian

    Hukum Masturbasi Dalam Islam Dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

    Kajian

    mengulang pernikahan; Doa untuk Pengantin Baru mengulang pernikahan; Doa untuk Pengantin Baru

    Berapa Usia Ideal Perempuan untuk Menikah?

    Kajian

    Ketentuan Malam Pertama Bagi Pengantin Baru Menurut Sunnah Rasulullah

    Ibadah

    Hukum Memberi Nafkah Terhadap Kerabat

    Kajian

    Keluarga Islami watak alamiah perempuan Keluarga Islami watak alamiah perempuan

    Pentingnya Memahami Watak Alamiah Perempuan dalam Sabda Rasul

    Kajian

    Antara Islam dan Kebebasan Menurut Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi

    Kajian

    Trending

    Toleransi: Perjumpaan Islam dengan Nasrani dan Romawi

    Kajian

    The Queen’s Gambit: Representasi Diskriminasi pada Perempuan

    Muslimah Daily

    melamar perempuan iddah melamar perempuan iddah

    Ini Lima Hal yang Patut Diketahui Muslimah sebelum Menerima Pinangan

    Ibadah

    Hukum Tayamum bagi Istri yang Dilarang Bersuci Menggunakan Air oleh Suami

    Ibadah

    Perempuan dalam Perspektif Tafsir Klasik dan Kontemporer

    Kajian

    hukum menikah - Pernikahan tanpa pacaran hukum menikah - Pernikahan tanpa pacaran

    Tidak Hanya Laki-laki, Perempuan Juga Berhak Memilih Calon Suaminya!

    Kajian

    Tiga Contoh Perilaku Rendah Hati yang Diajarkan dalam Al-Qur’an

    Muslimah Daily

    Apa Saja Ciri-ciri Rendah Hati?

    Muslimah Daily

    Connect