Ikuti Kami

Kajian

Bayar Zakat Melalui Amil atau Langsung ke Tetangga yang Miskin?

zakat amil tetangga miskin

BincangMuslimah.Com – Sebagai seorang muslim, di setiap bulan Ramadan kita diwajibkan untuk membayar zakat fitrah. Setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kita menunaikan ibadah zakat fitrah sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat sehat, harta, dan lain-lain sehingga mampu menuntaskan ibadah puasa.

Dari sekian banyak pembahasan tata cara membayar zakat, ternyata kadang kala kita masih bingung soal kepada siapa zakat kita serahkan. Apakah kita berikan melalui amil zakat atau langsung ke tetangga yang miskin?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pahami terlebih dahulu apa itu amil. Di dalam Alquran surat At-Taubah ayat 60, Allah Swt. menyebut amil sebagai salah satu kelompok yang berhak menerima zakat. Ayat tersebut berbunyi,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”

Para ulama fikih berbeda pendapat soal definisi amil zakat. Pertama, Hanafiyah yebut amil zakat sebagai orang-orang yang ditunjuk pemerintah (pihak berwenang) untuk mengumpulkan zakat masyarakat muslim. 

Sedangkan menurut mayoritas ulama fikih, amil zakat adalah mereka yang mengumpulkan zakat sekaligus membagikannya kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. 

Mungkin kita sempat bertanya-tanya, mengapa seorang amil zakat juga berhak menerima zakat? Jika coba kita renungkan, sebenarnya tugas seorang amil zakat yang tidak lah mudah. 

Mereka mengumpulkan atau bahkan menarik zakat dari orang-orang yang memenuhi syarat wajib zakat. Kemudian menghimpun data siapa saja kah orang-orang yang berhak mendapatkan zakat di berbagai daerah hingga tidak ada yang terlewat. Lalu mendistribusikan zakat yang terkumpul kepada para penerimanya secara rata. Oleh karena tugas beratnya tersebut, seorang amil mendapat zakat sebagai imbalan atas apa yang telah dikerjakannya.

Baca Juga:  Hijab dan Perempuan Sebelum Islam (3)

Di zaman Nabi Muhammad saw., seluruh urusan zakat umat muslim dikelola oleh amil zakat yang saat itu  terdapat lembaga bernama “Baitul Mal”.  Nabi Muhammad saw. mengirim utusan-utusannya ke berbagai daerah untuk menarik zakat dari orang-orang yang telah memenuhi syarat wajib zakat. Kemudian orang-orang Baitul Mal lah yang mendistribusikan zakat tersebut kepada orang-orang yang berhak mendapatkannya. 

Tidak hanya di zaman Nabi Muhammad saw., cara pengelolaan demikian juga dilanjutkan di era Khalifah Abu Bakar r.a. dan Umar bin Khattab r.a. Para Sahabat sepakat bahwa seorang pemimpin wajib menarik zakat warganya yang muslim. Sebab kewajiban zakat sendiri merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim.

Mengaca pada praktek zakat di zaman Nabi Muhammad saw. dan Sahabat, maka membayarkan zakat lewat amil lebih dianjurkan dari pada menyerahkan langsung kepada mustahik (orang yang menerima zakat). Selain sebagai bentuk meneladani Nabi Muhammad saw., membayar zakat lewat amil juga lebih praktis dan lebih terjamin tepat sasaran dalam penyalurannya.

Harus diakui bahwa pada umumnya masyarakat muslim tidak memiliki informasi yang cukup mengenai calon penerima zakat. Sehingga sangat mungkin terjadi jika akhirnya penerima zakat tersebut ternyata belum memenuhi syarat sebagai penerima zakat. 

Dengan membayarkan zakat melalui amil, kita bisa menjaga perasaan rendah diri para mustahik apabila berhadapan langsung dengan para muzakki (pembayar zakat). Serta mencegah  timbulnya sifat riya’ atau pamer seorang muzakki saat memberikan zakat secara langsung.

Itulah hal-hal yang menjadi alasan mengapa membayar zakat melalui amil lebih diutamakan dari pada menyerahkan langsung kepada tetangga atau orang yang fakir miskin. Meskipun hukum memberikan zakat secara langsung kepada penerimanya juga boleh-boleh saja.

Rekomendasi

Ditulis oleh

Tanzila Feby Nur Aini, mahasiswi Universitas al-Azhar, Kairo di jurusan Akidah dan Filsafat. MediaI sosial yang bisa dihubugi: Instagram @tanzilfeby.

Komentari

Komentari

Terbaru

Biografi Yenny Wahid Biografi Yenny Wahid

Biografi Alissa Wahid: Pejuang Moderasi Beragama Perempuan Indonesia

Muslimah Talk

meletakkan al-Qur'an di lantai, Mengenal Hermeneutika Feminisme: Metode Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Feminisme meletakkan al-Qur'an di lantai, Mengenal Hermeneutika Feminisme: Metode Penafsiran Al-Qur’an Berbasis Feminisme

Langkah-langkah dalam Memahami Alquran

Ibadah

Hukum Mengonsumsi Obat Penunda Haid saat Haji Hukum Mengonsumsi Obat Penunda Haid saat Haji

Hukum Mengonsumsi Obat Penunda Haid saat Haji

Kajian

denda larangan haji denda larangan haji

Denda yang Harus Dibayar saat Melanggar Larangan Haji

Ibadah

Tiga macam ibadah haji Tiga macam ibadah haji

Tiga Macam Ibadah Haji, Apa Saja?

Kajian

Puasa Dzulhijjah Qadha Ramadhan Puasa Dzulhijjah Qadha Ramadhan

Niat Menggabungkan Puasa Dzulhijjah dengan Qadha Ramadhan

Ibadah

fomo media sosial islam fomo media sosial islam

Upaya Menghindari Fomo dalam Kacamata Islam

Muslimah Talk

puasa syawal senilai setahun Niat Puasa Dzulhijjah puasa syawal senilai setahun Niat Puasa Dzulhijjah

Niat Puasa Dzulhijjah Lengkap dengan Latin dan Artinya

Ibadah

Trending

Empat Karakteristik Kebudayaan Islam yang Dibawa Rasulullah

Kajian

Sayyidah Aisyah Sayyidah Aisyah

Belajar dari Fitnah yang Menimpa Sayyidah Aisyah  

Muslimah Daily

Makna Tawakkal atau Berserah Diri kepada Allah

Ibadah

butet manurung model barbie butet manurung model barbie

Butet Manurung, Dari Sokola Rimba Hingga Global Role Model Barbie

Diari

Kesalehan dan Domestikasi Perempuan Kesalehan dan Domestikasi Perempuan

Halal Lifestyle; Tawaran Gaya Hidup untuk Muslim Perkotaan

Muslimah Talk

Shafiyyah huyay istri nabi Shafiyyah huyay istri nabi

Shafiyyah binti Huyay, Perempuan Yahudi yang Masuk Islam dan Jadi Istri Nabi

Khazanah

18 Rukun yang Wajib Dipenuhi dalam Shalat

Ibadah

Resensi Buku Feminisme Muslim di Indonesia

Diari

Connect