BincangMuslimah.Com- Saat bulan Ramadan tiba, umat Islam begitu semangat dan antusias dalam mempersiapkan segala hal baik persiapan jasmani dan rohani. Dalam hal keibadahan misalnya, ada yang sudah menargetkan khatam membaca Al-Qur’an, rencana iktikaf, bersedekah dan lain sebagainya. Akan tetapi sebagian juga ada yang menjalankan puasa hanya sekedar menggugurkan kewajiban. Sehingga sayang sekali apabila kedatangan Ramadhan sebatas momen rutinitas ibadah semata.
Puasa Tidak Hanya Sekedar Menahan Lapar dan Haus
Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Musnad Ad-Darimi, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:
عنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الظَّمَأُ، وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
Artinya: Dari Abu Huroiroh, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “ betapa banyak orang yang berpuasa, yang puasanya tidak lebih dari hanya sekedar menahan dahaga saja. Dan betapa banyak orang melakukan sholat malam namun ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadang”HR.Ad-Darimi[1]
Hadits ini menjelaskan bahwa seorang muslim hendaknya menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Menjahui hal-hal yang dapat mengurangi keutamaan serta pahala berpuasa, salat ataupun ibadah lainnya. Hal ini senada dengan makna Q.S. Al-Baqarah[2]:183 yakni,
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183)
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.Q.S. Al-Baqarah[2]:183
Jika kita merenungi kembali makna ayat ini, menurut syekh Wahbah az-Zuhaili perintah berpuasa tidak hanya sebatas pemenuhan kewajiban perintah Tuhan. Melainkan juga memiliki tujuan la’allakum tattaquun yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Puasa menjadi penyuci dan pendidik jiwa disaat sepi maupun ramai serta mendatangkan keridhaan Tuhan. Kendati demikian, meski puasa merupakan salah satu upaya untuk menumbuhkan ketaqwaan kepada Allah, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan guna mencapai tujuan tersebut.
Enam Tips dan Manfaat Puasa Menurut Syekh Wahbah az-Zuhaili
Berikut enam tips dan manfaat berpuasa yang ditinjau dari berbagai aspek baik jasmani, rohani dan sosial menurut syekh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsirnya Al-Munir[2] :
Pertama, Memupuk rasa takut “ khasyah” kepada Allah baik pada saat sepi maupun ramai. Orang yang sedang berpuasa berarti tidak ada yang mengawasi kecuali Tuhan-Nya. Seseorang yang sedang lapar dan haus kemudian ia mencium aroma atau melihat makanan kemudian ia menahan diri untuk tidak melakukan hal yang membatalkan puasa atas dasar iman. Maka ia telah mengejawantahkan makna takut kepada Tuhan.
Begitupula apabila syahwat terlihat begitu menarik di mata seseorang. Tetapi ia menahan untuk tidak menturutkan dorongan syahwatnya, maka ia berarti sedang memupuk rasa malu kepadaTuhannya.
Kedua, Mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Melalui berpuasa seseorang dapat meredakan syahwat, mengurangi pengaruh serta kendalinya. Karena dengan berpuasa dapat mengembalikan syahwat seorang kembali normal dan tenang.
Sebagaimana dalam Shahih Bukhori Rasulullah menggambarkan seseorang yang belum siap menikah yaitu dengan melakukan puasa.
……قال لنا النبي صلى الله عليه وسلم يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنه له وجاء.
….Telah bersabda kepada kami Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam “Wahai para pemuda barangsiapa di antara kalian mampu maka menikahlah dan barang siapa yang belum sanggup menikah maka hendaknya is berpuasa, sebab berpuasa itu meredakan syahwat”.HR.Bukhori
Berupaya Memperoleh Ketakwaan Saat Puasa
Ketiga, Melatih diri untuk munculkan perasaan peka dan rasa kasih sayang kepada sesama manusia, saling memberi dan menolong sesama yang membutuhkan. Dengan berpuasa seseorang akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang orang sesngsara yang tidak memiliki makanan sehingga akan timbul empati dan kepedulian kepada orang-orang sekitar.
Kedua, Merealisasikan konsep persamaan dan keadilan diantara manusia. Melalui puasa semua manusia adalah sama baik yang kaya dan miskin, orang terpandang ataupun rakyat biasa, semua melakukan kewajiban yang sama.
Ketiga, Mendidik diri dengan kedisiplinan dalam menjalankan etika-etika berpuasa. Dengan puasa seseorang dapat melatih ketahanan dirinya baik jasmani dan rohani dalam kurun waktu tertentu yaitu sejak sahur hingga waktu berbuka.
Keempat, Menjaga kesehatan dan menyibukkan diri dengan hal positif. Dengan mengonsumsi makanan yang halal dan tayyib. Tidak berlebihan saat berbuka dan sahur akan membuat tubuh sehat. Karena puasa merupakan moment untuk memperbarui struktur fisik, menguatkan kesehatan dan menyegarkan organ tubuh. Selain itu saat berpuasa hendaknya seseorang memantabkan tekadnya untuk konsentrasi secara pikiran dan menyibukkan diri dengan hal-hal positif seperti menuntut ilmu.
Demikianlah enam tips menurut syekh Wahbah az-Zuhaili apabila seseorang hendak berupaya memperoleh ketaqwaan dengan berpuasa. Ia menganjurkan untuk mencapai tujuan ini hendaknya seseorang juga menjaga lisan dan pandangan.
Ketika berpuasa hendaknya menjaga diri dari melakukan yang tidak bermanfaat seperti menggibah dan menonton yang dilarang. Dalam pandangannya menahan diri dari pembatal puasa yang abstrak sama halnya dengan menahan diri pembatal puasa yang bersifat materi. Wallahu a’lam bi showab
