Ikuti Kami

Subscribe

Diari

Ibu Sempurna dalam Pandangan Masyarakat

Ummu Sulaim
Ummu Sulaim

BincangMuslimah.Com – Menjadi seorang ibu adalah salah satu pengalaman yang paling berharga bagi setiap perempuan, bahkan dalam Islam seorang ibu menempati posisi yang begitu i stimewa. Salah satu hadits mengatakan :

“Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapa kah aku harus berbakti pertama kali?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ibumu!’. Kemudian orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Rasulullah SAW  menjawab, ‘Ibumu!’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu!’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘ Kemudian siapa lagi’, Rasulullah SAW menjawab, ‘Kemudian ayahmu’. (HR. Bukhori Muslim)

Namun pengalaman menjadi seorang ibu sering kali dirasa berat bahkan tidak sedikit perempuan di dunia ini merasa gagal menjalankan peran ini  disebabkan oleh kontruksi sosial masyarakat sekitar yang berisi berbagai macam kriteria, tuntutan dan penilaian bagi seorang ibu. Dalam pandangan mereka, seorang perempuan harus mampu menjadi ibu yang sempurna sesuai dengan kriteria yang mereka suguhkan.

Tidak sedikit pandangan masyarakat yang mengatakan bahwa perempuan bisa dikatakan menjadi ibu yang sempurna apabila memenuhi sekian kriteria. Diantaranya adalah memiliki skill domestic yang mumpuni yakni pandai memasak, karena ibu diidentikkan dengan hal tersebut supaya bisa menyediakan pola makan yang ideal, MPASI yang cocok untuk anaknya juga menyediakan hidangan kesukaan suaminya.

Anak tidak hanya butuh seorang ibu yang sekedar pandai memasak, mereka butuh ibu yang selalu hadir dengan penuh kasih sayang kepada mereka dalam bentuk apapun, tidak terbatas pada makanan yang enak. Suami juga lebih bahagia istrinya bahagia menjalani perannya daripada stress di dapur.

Bukankah istri yang bahagia jauh lebih menyenangkan bagi suami karena membuat mereka tenang dalam bekerja dan tentunya lebih produktif?

Lakukanlah hal lain yang bisa membuat ibu bahagia. Ingat bahwa setiap kita memiliki medan perang yang berbeda-beda. Para ibu di luar sana yang pandai memasak bisa jadi menghadapi struggling dan harus berjuang lebih dalam hal lain. kita tidak pernah tahu hal itu.

Selain pandai memasak, ibu juga harus memiliki skill domestik yang lain. yakni menjaga rumahnya agar selalu tampak rapi. Kita tidak pernah tahu bahwa  mungkin seorang ibu sudah sekian kali dalam sehari merapikan mainan anaknya yang tersebar hampir di semua ruangan untuk menjaga rumahnya tetap rapi.

Anak lebih butuh ibu yang mendukung tumbuh kembang kreatifitas dan imajinasinya melalui bermain daripada ibu yang stress dengan keadaan rumahnya.

Bukahkah memiliki partner bermain yang asyik lebih membahagiakan bagi anak dari pada sekedar suasana ruangan yang selalu rapi?

Bukankah dengan bermain anak dapat mengenali bakat dan ibu bisa membantu mereka menggalinya?

Bukankah hal tersebut lebih penting bagi masa depan merasa disbanding suasana rumah yang selalu rapi? Ya, rumah berantakan yang terkadang dinilai sebagai ketidakmampuan seorang ibu dalam ranah domestik justru dalam sisi yang lain adalah sebuah harapan dan kebahagian bagi seorang anak untuk menikmati masa kecil mereka yang tak akan terulang di lain hari.

Selanjutnya ibu dituntut untuk cerdas, memiliki banyak ide, kreatif. Tentunya juga berpenghasilan agar dapat membantu keuangan keluarga. Ibu yang tidak berpenghasilan dianggap tidak mandiri dan hanya merepotkan suami, padahal setelah menikah, bukankah seorang perempuan memang menjadi tanggung jawab suaminya?.

Kriteria ibu sempurna dalam masyarakat kita tidak berhenti hanya di sini. Bagi seorang perempuan yang berpenghasilan dan mandiri pun, mereka akan mendapatkan warning bahwa seorang perempuan tidak boleh terlalu mandiri, dikahwatirkan nanti suaminya merasa kurang berharga dan lain sebagainya. Seberat inikah menjadi seorang ibu atau perempuan? begini salah, begitupun juga salah. Yang tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga dinilai terlalu merepotkan suami. Yang bekerja dan mandiri juga dibatasi. Mengapa menjadi seorang perempuan dan ibu begitu menghadapi banyak dilemma?

Tidak berhenti sampai di situ, seorang ibu harus tetap menjaga penampilan dan selalu menarik di depan suami. Katanya, supaya suaminya tetap cinta dan menjaga keutuhan keluarga. Terkadang waktu ibu sudah habis untuk mengurus anaknya dari pada sekedar mengurus penampilannya. Bukankah ibu yang baik itu bukan sekedar yang mementingkan penampilannya, tetapi yang mengutamakan keluarganya?

Cinta itu bukan melulu tumbuh karena kecantikan yang standarnya terkadang tidak masuk akal. Rasa cinta juga akan semakin bertambah ketika suami dan istri saling menerima dan mendukung. Pun menjaga keutuhan keluarga bisa dilakukan dengan menjaga komunikasi dan tidak melulu dengan tampil cantik.

Tuntutan – tuntutan atas kriteria ibu yang sempurna itu hanya menjadi beban bagi seorang ibu dan membuat mereka semakin tidak bahagia dalam menjalankan peran mulianya.  Tidak ada ibu yang sempurna, yang ada adalah ibu yang selalu mengupayakan hal terbaik bagi anaknya.

Merry Riana, seorang motivator terkenal di Indonesia mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada ibu yang sempurna. Oleh karena itu, jangan pernah berusaha untuk menjadi ibu yang sempurna, tetapi berusalah menjadi ibu yang bahagia.

Anak tidak membutuhkan ibu yang sempurna, tetapi mereka membutuhkan ibu yang bahagia. Berhentilah menuntut diri menjadi ibu yang sempurna, karena tidak ada yang sempurna di dunia ini. Perempuan diciptakan oleh Allah untuk menjadi ibu bukan memuaskan penilaian dan tuntutan orang lain, namun untuk mencetak generasi rabbani yang berdedikasi tinggi. Yang mampu mengenalkan anak kepada Tuhan-Nya sehingga kelak mereka memiliki akidah yang kuat.

Kita diharuskan untuk selalu belajar. Kita boleh belajar agar bisa pandai memasak. Kita boleh bekerja agar tetap produktif dan bisa membantu keuangan keluarga. Kita boleh menjadi perempuan yang menarik dan juga mandiri. Kita berhak memilih dan memutuskan apapun. Tapi lakukanlah semua itu dengan bahagia tanpa beban dan takut akan stigma juga tuntutan yang terkedang sangat tidak realistis.

Mungkin saat ini konstruk sosial belum menguntungkan untuk kita karena begitu tingginya  standar kesempurnaan bagi seorang ibu. Toh tugas kita adalah menjadi pribadi, istri dan ibu yang bahagia bukan memenuhi tuntutan dan kriteria mereka.

Untuk semua ibu, calon ibu dan perempuan di luar sana, kita mampu menjalankan peran mulia ini. Kita memang tidak mampu menjadi ibu yang ideal nan sempurna seperti kata mereka. Tetaplah mencari cara dan melakukan yang terbaik. Luangkan waktu untuk menyayangi diri sendiri. Mintalah bantuan saat memerlukan. Tetaplah tumbuh dan berkembang dan menjadi pendukung untuk sesama ibu. Selamat hari ibu untuk semua ibu, calon ibu dan semua perempuan. kita bisa!

Rekomendasi

Faktor-Faktor Psikologis yang Mempengaruhi Baby Blues pada Ibu

peran ibu peran ibu

Parenting Islami: Peran Ibu dalam Pembaruan Pendidikan di Masa Pandemi

peran ibu peran ibu

Mengoptimalkan Peran Perempuan Sebagai Benteng Toleransi

membahagiakan ibu membahagiakan ibu

Benarkah Surga Ada di Bawah Telapak Kaki Ibu?

Isnawati Yusuf
Ditulis oleh

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Peneliti Pendidikan Islam

Komentari

Komentari

Terbaru

Beberapa Hal Yang Patut Diketahui Perempuan Ketika Mengalami Nifas

Muslimah Daily

menolak dijodohkan menolak dijodohkan

Lima Bahasa Cinta: Suami Istri Perlu Tahu

Diari

An-Nur 32 An-Nur 32

Tidak Menyebutkan Jumlah Mahar, Sahkah Akad Nikah?

Kajian

Resensi Buku: Perempuan Ulama di Atas Panggung Sejarah

Diari

Hak Khiyar dalam Pernikahan

Kajian

Pemahaman Fase Menopause Bagi Perempuan Berusia 40an dan Cara Mengatasinya

Diari

Parenting Islami: Ini Adab Ketika Bersin yang Perlu Diajarkan Kepada Anak

Keluarga

Hukum Tayamum bagi Istri yang Dilarang Bersuci Menggunakan Air oleh Suami

Ibadah

Trending

Tiga Wasiat Terakhir Sayyidah Fatimah Kepada Sang Suami

Keluarga

Tengku Fakinah, Ulama Perempuan Hebat dari Tanah Rencong

Muslimah Talk

Toleransi: Perjumpaan Islam dengan Nasrani dan Romawi

Kajian

The Queen’s Gambit: Representasi Diskriminasi pada Perempuan

Muslimah Daily

Ini Lima Hal yang Patut Diketahui Muslimah sebelum Menerima Pinangan

Ibadah

hukum menikah - Pernikahan tanpa pacaran hukum menikah - Pernikahan tanpa pacaran

Tidak Hanya Laki-laki, Perempuan Juga Berhak Memilih Calon Suaminya!

Kajian

Perempuan dalam Perspektif Tafsir Klasik dan Kontemporer

Kajian

Cara Mengajarkan Anak Membaca Al-Qur’an Menurut Quraish Shihab

Keluarga

Connect