Ikuti Kami

Tak Berkategori

Peran Khalifah di Bumi yang Terbakar dalam Kebakaran Hutan

BincangMuslimah.Com – Indonesia sedang menghadapi krisis kebakaran hutan yang parah pada 2026. Orang Indonesia menyebutnya karhutla, singkatan dari kebakaran hutan dan lahan. Api melahap hutan, kebun, dan gambut di banyak pulau. Asapnya menyelimuti kota, desa, bahkan negara tetangga. Fenomena El Niño tahun ini sangat kuat. Sebagian orang menjulukinya Godzilla El Niño. Pemerintah menyatakan kondisi saat ini terburuk dalam satu dekade.

Kabut asap membuat puluhan ribu warga mengalami gangguan pernapasan. Polusi udara juga meningkat di Singapura dan Malaysia. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, seorang perempuan dan anaknya memakai masker sambil menatap dari atas jembatan. Kabut tebal menyelimuti air di bawah mereka. Di Pontianak, Kalimantan Barat, para pelajar berlatih baris-berbaris di halaman Masjid Raya Mujahidin pada 23 September 2026. Udara di sekitar mereka berasap.

Berapa Luas Lahan yang Terbakar

Angka luas kebakaran berbeda di setiap sumber. Satu data menyebut lebih dari 1,32 juta hektare lahan terdampak. Data lain menyebut lebih dari 7,4 juta hektare terbakar atau terdampak sepanjang 2026. Kedua angka itu jauh melampaui rata-rata nasional selama 20 tahun terakhir.

Para analis memperkirakan luas area terbakar dan emisi (gas yang api lepaskan ke udara) tahun ini bergerak menuju rekor 2015. Pada 2015, api menghanguskan 2,6 juta hektare lahan. Kebakaran itu melepas 333 megaton karbon (satu megaton sama dengan satu juta ton) ke udara.

Kualitas udara ikut memburuk dengan cepat. Data pemantauan langsung mencatat bahwa di Kalimantan Tengah, indeks kualitas udara Amerika Serikat (US Air Quality Index, ukuran tingkat polusi udara) pernah melonjak sampai 724. Angka di atas 300 sudah masuk kategori berbahaya. Udara di sana jauh melewati batas aman bagi manusia.

Ketika El Niño Mengeringkan Negeri

El Niño (pemanasan suhu laut di Samudra Pasifik yang mengubah pola cuaca dunia) membuat Indonesia sangat kering. Hujan datang terlambat. Musim hujan yang warga tunggu bergeser jauh dari jadwal biasa. Tumbuhan mengering dan gambut kehilangan air. Kondisi itu membuat lahan mudah terbakar.

Indonesia termasuk negara yang paling parah terkena panas, kekeringan, dan kebakaran pada tahun El Niño. Satu percikan api kecil cukup untuk memicu kebakaran besar. Angin kencang lalu mendorong api ke segala arah. Perubahan iklim ikut memperparah kondisi ini.

Pihak berwenang memperingatkan bahwa kebakaran bisa berlanjut sampai November. Pada bulan itu, para ahli memperkirakan El Niño mencapai puncaknya. Di beberapa tempat, api sudah menyala selama tiga bulan. Warga masih harus menunggu hujan yang belum juga turun.

Baca Juga:  Perempuan Haid, Bisakah Mendapat Lailatul Qadar?

Gambut, Api yang Menyala di Bawah Tanah

Gambut (tanah rawa yang terbentuk dari sisa tumbuhan yang membusuk dalam waktu sangat lama) menjadi sumber masalah utama. Selama bertahun-tahun, orang menggali kanal di jutaan hektare rawa gambut. Mereka mengeringkannya untuk penebangan kayu dan pertanian. Setelah kering, gambut menjadi sangat mudah terbakar.

Api di gambut menyala jauh di bawah permukaan tanah. Petugas sulit memadamkannya karena bara terus membara di kedalaman. Asapnya keluar pelan-pelan dan bertahan berminggu-minggu.

Warga Bangka Belitung mengalami sendiri bahaya itu. Kepala Kabupaten Bangka Selatan, Riza Herdavid, menjelaskan bahwa warga mengira api sudah padam. Padahal bara masih menyala di bawah gambut. Ketika angin berubah arah, api dengan cepat bergerak ke permukiman. Desa itu berdiri di atas bekas lahan gambut di kawasan lindung. Pengembang mengubahnya menjadi kompleks perumahan pada tahun lalu.

Peran Perusahaan dan Pembukaan Lahan

Banyak kebakaran bermula dari ulah manusia. Pelaku sering membakar lahan secara ilegal untuk membuka kebun dengan biaya murah. Cara itu dipakai oleh perusahaan besar pemegang konsesi (izin mengelola lahan) dan juga oleh petani kecil. Industri minyak sawit sering menjadi tujuan pembukaan lahan tersebut.

Data tahun ini menunjukkan peran perusahaan yang besar. Konsesi perusahaan menyumbang sekitar 74 persen hotspot (titik panas yang menandai lokasi api) di Kalimantan. Pemerintah Indonesia kini menyelidiki sedikitnya 19 perusahaan atas dugaan pembakaran ilegal. Sebuah gugatan hukum bahkan menuduh Indonesia melakukan kelalaian berat (gross negligence) dalam menangani kebakaran dan kabut asap.

Sebuah artikel di MuslimMatters pada 2019 menyoroti industri yang sama. Penulisnya, Dardir, menyebut bahwa setiap jam, hutan seluas 300 lapangan sepak bola dibuka di seluruh dunia untuk produksi minyak sawit. Minyak sawit muncul di banyak makanan olahan, kosmetik, dan produk perawatan tubuh. Ia mengajak pembaca memilih produk berlabel RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil, lembaga yang mengesahkan minyak sawit berkelanjutan). Label itu menandai minyak sawit yang produsen buat dengan menghormati lingkungan dan masyarakat sekitar.

Kisah dari Bangka Belitung

Kebakaran di Provinsi Bangka Belitung, Pulau Sumatra, menjadi salah satu kisah paling memilukan. Warga pertama kali melihat api mendekati desa mereka pada hari Sabtu. Mereka mencoba memadamkannya sendiri dengan pompa air portabel. Api akhirnya menghanguskan hampir 300 rumah. Ratusan orang mengungsi. Badan penanggulangan bencana setempat menyebut hampir 1.000 orang meninggalkan desa itu.

Baca Juga:  Makna dan Pentingnya Zakat Fitrah

Seorang warga bernama Leni, perempuan berusia 55 tahun, kini tinggal di tempat penampungan bersama keluarganya. Ia menceritakan bahwa rumahnya sudah lenyap. Ia hanya sempat menyelamatkan diri dan membawa anak-anaknya. Ia panik dan kehabisan waktu untuk mengambil barang apa pun. Kisah Leni mewakili ratusan keluarga lain. Mereka kehilangan rumah dalam hitungan jam. Kini mereka membangun hidup dari awal di pengungsian.

Satwa yang Kehilangan Rumah

Api juga menghancurkan rumah satwa liar. Kelompok pelestari di Kalimantan Barat menyelamatkan orangutan yang terjebak kebakaran. Badan Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat mencatat sedikitnya 46 orangutan, satwa yang sangat terancam punah, sudah selamat sejak Agustus. Awal pekan ini, petugas memindahkan delapan orangutan dengan mobil dan perahu ke hutan lindung Batu Nyambu.

Jumlah korban satwa masih belum jelas. Para ahli memperingatkan bahwa angkanya mungkin sangat besar. Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam, atau IUCN, melaporkan bahwa api sudah memengaruhi habitat tempat tinggal 52 persen populasi orangutan Borneo.

Petugas menemukan lutung perak, monyet ekor panjang, dan bekantan mati di antara abu atau di tepi kolam yang mengering. Gajah, owa, trenggiling, dan penyu juga berisiko terkena dampaknya. Setelah api padam pun, banyak hewan masih menghadapi kekurangan habitat, mangsa, dan air akibat kerusakan api serta kekeringan.

Wilayah yang Paling Parah Terdampak

Api menyebar di banyak pulau besar. Di Kalimantan, provinsi Barat, Tengah, Selatan, dan Timur menghadapi kebakaran besar, kabut asap beracun, dan lonjakan polusi udara. Pada 13 Oktober, tentara dan petugas pemadam bekerja keras menahan api di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Di Sumatra, kebakaran besar menyala di Riau, Jambi, dan Sumatra Selatan. Bangka Belitung juga mengalami kebakaran yang menghanguskan hampir 300 rumah. Di Papua, api menyebar luas di sebagian besar wilayah Papua Selatan dan Papua Barat. Kondisi kering juga memicu kebakaran di Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Maluku mengalami hal yang sama. Di Jawa Timur, api membakar sebagian kawasan, termasuk Gunung Bromo.

Bencana dalam Pandangan Islam

Banyak umat Muslim bertanya apa makna di balik bencana seperti ini. Bencana alam mengandung kasih sayang Allah kepada manusia. Setiap peristiwa di dunia memiliki hikmah. Karena itu, manusia perlu mencari pelajaran dari setiap musibah.

Pelajaran pertama mengingatkan kita pada kekuasaan Allah. Alam bergerak mengikuti sunnatullah (hukum Allah yang berlaku di alam semesta). Manusia tak mampu mengatur letusan gunung atau pasang surut laut. Hal itu membuat kita lebih rendah hati dan taat.

Baca Juga:  Ragam Fungsi Matahari yang Tercuplik dalam Alquran

Pelajaran kedua mendorong kita memperdalam ilmu. Dengan ilmu yang benar, manusia dapat mengurangi dampak bencana, meski belum bisa menghapusnya. Contohnya rumah tahan gempa dan alarm otomatis untuk letusan gunung. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 190 dan 191 bahwa penciptaan langit dan bumi menjadi tanda bagi orang yang berakal. Mereka mengingat Allah saat berdiri, duduk, dan berbaring.

Pelajaran ketiga mengingatkan bahwa dunia ini sementara. Surah Ghafir ayat 39 menyebut kehidupan dunia sebagai kesenangan sesaat, sedangkan akhirat menjadi negeri yang kekal.

Pelajaran keempat mengajak kita berhenti merusak bumi. Surah Ar-Rum ayat 41 menyatakan bahwa kerusakan muncul di darat dan laut akibat perbuatan manusia. Allah membiarkan mereka merasakan sebagian akibatnya agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Dardir menambahkan pandangan lain dalam artikelnya. Ia mengutip Surah Al-An’am ayat 165 yang menyebut manusia sebagai khalifah (pemimpin atau pengelola) di bumi. Menurutnya, Allah memberi manusia amanah (tanggung jawab yang harus dijaga) untuk merawat bumi. Pada 2019 ia juga menulis bahwa dalam ekosistem hutan tertentu, api menjadi bagian dari secondary succession (proses hutan tumbuh kembali setelah mengalami gangguan). Api membuka kanopi sehingga sinar matahari mencapai tanah dan melepas zat hara.

Menanam dan Menolong sebagai Jalan Bergerak

Islam mengajarkan umatnya untuk menanam. Rasulullah bersabda bahwa setiap Muslim yang menanam pohon atau tanaman, lalu manusia, burung, atau hewan memakan hasilnya, akan mendapat pahala sedekah. Dardir menyebut pahala itu sebagai sadaqah jariyah (pahala yang terus mengalir). Rasulullah juga bersabda bahwa orang yang memegang bibit kurma saat kiamat tiba sebaiknya menanamnya jika sempat.

Dardir mencontohkan Tembok Hijau Besar (Great Green Wall) di Afrika. Gerakan yang dipimpin negara Afrika itu bercita-cita menanam hutan sepanjang 8.000 kilometer, dari ujung ke ujung benua. Ia juga menyebut India yang menambah luas hutannya sebesar 1 persen dalam dua tahun.

Warga biasa juga bisa membantu korban kebakaran tanpa pergi ke lokasi. Teknologi saat ini memudahkan orang menyalurkan bantuan dari jauh. Dompet Dhuafa menyalurkan donasi korban bencana dalam bentuk obat-obatan, kasur, makanan, terpal, dapur umum, dan kebutuhan darurat lainnya. Menolong sesama menjadi cara bersyukur atas udara segar yang masih kita hirup.

Rekomendasi

Larangan bagi Perempuan yang Haid dan Nifas Larangan bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

Larangan bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

sayyidah nafisah guru syafi'i sayyidah nafisah guru syafi'i

Nafisah: Sosok Guru Perempuan Imam Syafii

Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan

Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Ditulis oleh

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Larangan bagi Perempuan yang Haid dan Nifas Larangan bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

Larangan bagi Perempuan yang Haid dan Nifas

Ibadah

sayyidah nafisah guru syafi'i sayyidah nafisah guru syafi'i

Nafisah: Sosok Guru Perempuan Imam Syafii

Muslimah Talk

Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan

Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan

Muslimah Talk

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Kajian

Cara Anak Muda Muslim Menjawab Krisis Lingkungan

Muslimah Talk

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Ibadah

Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera

Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera

Muslimah Talk

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Muslimah Talk

Trending

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

sayyidah nafisah guru syafi'i sayyidah nafisah guru syafi'i

Nafisah: Sosok Guru Perempuan Imam Syafii

Muslimah Talk

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

feminiskah aisyah feminiskah aisyah

Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

Kajian

Connect