Ikuti Kami

Muslimah Talk

Ketika Agama Membela Korban: Keberpihakan Islam dalam Isu Aborsi 

Ketika Agama Membela Korban: Keberpihakan Islam dalam Isu Aborsi 
freepik.com

BincangMuslimah.com – Agama menjadi salah satu faktor utama yang membentuk pandangan masyarakat, termasuk dalam isu aborsi. Namun, hingga kini, tafsir keagamaan yang berkembang seringkali tidak menghadirkan perspektif perempuan. Akibatnya, diskusi tentang isu aborsi bagi korban kekerasan seksual berlandaskan pada tafsir agama yang bias gender. Apalagi diperkuat oleh standar moral yang justru membebankan perempuan. 

Penolakan terhadap aborsi bagi korban kekerasan seksual sering kali berakar dari pemahaman yang menyamakan pemerkosaan dengan perzinaan. Dalam pandangan ini, kehamilan diluar pernikahan dianggap sebagai hasil hubungan yang melanggar norma agama dan moral (zina), tanpa mempertimbangkan konteks yang terjadi. 

Padahal. pemerkosaan dengan perzinaan adalah dua hal yang sangat berbeda, baik secara definisi maupun konsekuensi moral serta hukumnya. Jika zina terjadi atas dasar kesepakatan dan pengambilan keputusan secara sadar, maka pemerkosaan berlangsung di bawah paksaan, intimidasi, dan kekerasan. Dalam perzinaan, relasi yang terjalin adalah dua subyek yang setara, sedangkan dalam pemerkosaan, terjadi relasi timpang yakni saat pelaku memaksa korban tunduk.

 

Islam Berpihak Pada Korban Kekerasan Seksual   

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi keadilan (al-adl) memiliki prinsip yang melindungi korban kekerasan seksual, termasuk dalam akses terhadap kesehatan reproduksi. Salah satu prinsip utama dalam Islam yang relevan dengan konteks ini adalah Da’rul Mafasid Muqaddamun ‘ala Jalbil Mashalih, yaitu kaidah fiqh yang menekankan bahwa mencegah kemudaratan (keburukan) lebih utama daripada mengambil manfaat. Dalam konteks korban kekerasan seksual, prinsip ini adalah dasar untuk berpihak pada korban kekerasan dengan memastikan mereka mendapatkan perlindungan dan hak yang layak, termasuk akses terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi.  

Baca Juga:  Etika Buka Bersama di Bulan Ramadan

Berdasarkan prinsip ini, maka harus mengutamakan pemulihan bagi korban kekerasan seksual baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Dr. KH. Faqih Abdul Kodir menyatakan bahwa boleh melakukan aborsi untuk menyelamatkan jiwa, kehormatan, dan kehidupan seorang perempuan. Artinya, dalam kasus pemerkosaan, keputusan terkait tubuh perempuan harus mempertimbangkan martabat dan hak korban. Hal ini bukan sekedar melihat dari sudut pandang hukum atau norma sosial yang bias.  

Selain itu, KH. Husein Muhammad dalam bukunya Fiqh Perempuan juga menekankan bahwa aborsi diperbolehkan jika kehamilan terjadi akibat pemerkosaan, selama janin belum mencapai usia 120 hari. Pendapat ini merujuk pada batasan yang disebutkan dalam berbagai pandangan fiqh mengenai usia ruh ditiupkan ke dalam janin, yang dalam banyak mazhab Islam ditetapkan pada usia 120 hari. 

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan melakukan aborsi dalam dua kondisi. Pertama, jika terdapat alasan medis yang mengancam nyawa ibu atau menyebabkan kondisi kesehatan yang buruk. Kedua, jika kehamilan terjadi akibat pemerkosaan, yang berisiko menimbulkan dampak psikologis dan sosial yang berat bagi korban. 

 

Islam Mewajibkan Peduli Pada Korban Kekerasan 

Islam mengajarkan nilai-nilai kasih sayang, keadilan, dan perlindungan terhadap mereka yang mengalami penderitaan, termasuk korban kekerasan seksual. Sayangnya, dalam realitas masyarakat, banyak korban yang justru mendapatkan stigma, pengucilan, dan penghakiman dari lingkungan sekitarnya. Padahal, Islam mengedepankan prinsip kepedulian dan keberpihakan kepada mereka yang mengalami ketidakadilan. 

Prinsip perlindungan terhadap korban ini juga tercermin dalam kebijakan nasional berupa Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, yang mengatur ketentuan aborsi bagi korban tindak pidana kekerasan seksual (TPKS). Regulasi ini menjadi langkah maju dalam pemenuhan hak korban kekerasan seksual. Terutama dalam memastikan akses terhadap layanan kesehatan reproduksi yang aman dan legal. 

Baca Juga:  Dalam Bingkai Diskriminasi: Perempuan & Etnis Tionghoa di Indonesia

Namun, regulasi saja tidaklah cukup. Implementasi kebijakan ini akan maksimal jika masyarakat memiliki empati dan kesadaran akan pentingnya melindungi korban kekerasan seksual. Sebagai warga negara, kita memiliki tanggung jawab untuk memastikan kebijakan yang telah dibuat benar-benar memberikan manfaat bagi korban. Termasuk dengan menolak stigma, mendukung akses terhadap layanan yang mereka butuhkan, serta mendorong lingkungan yang lebih aman dan inklusif. 

Selain itu, sebagai umat Muslim, memahami bahwa Islam berpihak pada keadilan berarti turut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang mendukung korban. Untuk mewujudkan hal ini yakni dengan memastikan korban mendapatkan hak-hak yang seharusnya mereka peroleh tanpa diskriminasi ataupun penghakiman. 

Rekomendasi

puasa ramadan perempuan hamil puasa ramadan perempuan hamil

Hamil di Luar Nikah, Bolehkah Aborsi?

Surah an-Najm Ayat 45-46: Penentuan Jenis Kelamin pada Bayi Surah an-Najm Ayat 45-46: Penentuan Jenis Kelamin pada Bayi

Mengintip Pro dan Kontra Layanan Aborsi pada Korban Pemerkosaan, Perlukah?

praktik aborsi darurat medis praktik aborsi darurat medis

Hukum Praktik Aborsi Karena Alasan Darurat Medis

Bolehkah Aborsi Kandungan Korban Perkosaan? Membaca Fikih dan Hukum dengan Empati Bolehkah Aborsi Kandungan Korban Perkosaan? Membaca Fikih dan Hukum dengan Empati

Pemaksaan Aborsi dalam Pandangan Islam

Ditulis oleh

Tertarik pada isu Perempuan dan Inklusi. Berprofesi sebagai pengajar ilmu agama di Cianjur. Aktif dalam berbagai komunitas yang fokus pada isu perempuan

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect