Ikuti Kami

Subscribe

Muslimah Daily

Cara Nabi Menyelesaikan Masalah Rumah Tangga (Seri 2)

BincangMuslimah.Com – Tidak semua masalah rumah tangga bisa diselesaikan dengan senyuman dan senda gurau. Adakalanya masalah serius, tentu harus ditangani dengan serius. Serius bukan berarti emosi, marah, atau dengan kekerasan. Hal inilah yang dilakukan Rasulullah dalam suatu waktu, yaitu dengan memberikan teguran yang sopan atau menasehati dengan cara yang baik kepada istrinya yang telah khilaf, atau berbuat kesalahan. Begitulah salah satu cara Nabi menyelesaikan masalah rumah tangga

Dalam suatu hadist riwayat Ath-Thabrani di Kitab Mu’jam Al-Kabir, pernah suatu kali Sayyidah ‘Aisyah cemburu kepada Khadijah, istri Nabi Muhammad yang telah meninggal.

Kecemburuan ini timbul karena Nabi Muhammad senantiasa mendoakan Khadijah jika mengingatnya. Doa Nabi ini mengganggu Aisyah karena menurutnya Khadijah sudah tiada tetapi masih dan selalu dipuji oleh Rasulullah sebagaimana berikut ini;

قالت عائشة رضي الله عنها: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ذكر خديجة لم يكد يسأم من ثناء عليها، واستغفر لها، فذكرها يوما، فحملتني الغيرة، فقلت: لقد عوضك الله من كبيرة السن! قالت: فرأيته غضب غضبا شديدا، أسقطت في خلدي، وقلت في نفسي: اللهم إن أذهبت غضب رسولك عني لم أعد أذكرك بسوء مابقيت. فلما رأى النبي صلى الله عليه وسلم مالقيت، قال ((كيف قلت؟ والله لقد آمنت بي إذ كذبني الناس، وآوتني إذ رفضني الناس، ورزقت مني الولد إذ حرمتموه مني)) قالت: فغذا وراح علي بها شهرا.

Artinya; “Dari ‘Aisyah r.a. berkata, “ketika Rasulullah saw teringat Khadijah, beliau tidak bosan memuja dan memohonkan ampunan untuknya. Pada suatu hari, Nabi Muhammad menyebut nama Khadijah ra. Sampai aku cemburu, lalu aku berkata, “Sungguh Allah telah menggantikan untukmu dari “perempuan berumur itu!’ Kemudian aku melihat Rasulullah saw sangat marah sehingga aku menyesal. Aku berjanji pada diriku sendiri, “Ya Allah, jika Engkau hilangkan kemarahan utusan-Mu sebab perkataanku, maka aku tidak akan mengatakan buruk tentang Khadijah sepanjang hidupku.

Ketika mendengar apa yang aku katakan Nabi berkata “Apa yang telah kamu katakan tadi? Aku bersumpah demi Allah, sungguh Khadijah beriman kepadaku tatkala manusia menganggapku dusta, mendatangiku ketika manusia menolakku, memberikan kepadaku keturunan pada saat para wanita-wanita lain tidak memberikannya.” (HR. Thabrani)

Ucapan Sayyidah di atas pada hakikatnya menyinggung Rasulullah saw yang sangat mencintai dan menghormati Khadijah. Penyebab ketersinggungan Nabi dijelaskan dalam paragraf terakhir dari hadis di atas.

Dari kisah di atas, di antara faktor terbesar yang membuat Sayyidah Aisyah menyampaikan “komplainnya” adalah kecemburuan beliau kepada Sayyidah Khadijah. Kecemburuan ini direspon Nabi Muhammad sebagai kecemburuan berlebihan dari redaksi hadis

لقد عوضك الله من كبيرة السن

Yang kurang lebih artinya “sesungguhnya Allah telah memberi ganti untukmu dari (perempuan) yang sudah lanjut usia itu”.

Perkataan ini kemudian menjadikan Nabi Muhammad marah dan seketika menegur Aisyah untuk tidak berlebihan dalam menanggapi emosinya. Karena sebagaimana diketahui bahwa Sayyidah Khadijah lebih dari seorang pendamping dan istri. Beliau telah menemani Nabi berdakwah, mengerahkan seluruh tenaga dan materinya untuk Nabi, dan bahkan memberikan Nabi keturunan yang itu tidak dianegurehkan Allah kepada istri lainnya termasuk Sayyidah ‘Aisyah. Teguran Nabi ini secara jelas disampaikan kepada Aisyah agar tidak lagi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Penulis melihat bahwa kecemburuan adalah hal yang wajar dan lumrah bagi setiap pasangan. Akan tetapi itu justru menjadi masalah jika kecemburuan itu sudah di luar batas kewajaran dan sampai menjelekkan atau berlanjut pada sikap-sikap yang tidak diinginkan. Metode ini sangat cocok diaplikasikan untuk kasus-kasus serius yang membutuhkan klarifikasi langsung agar prasangka pasangan bisa terpatahkan. Selain itu, teguran dilakukan apabila pasangan baik suami atau istri telah sampai pada batas kewajaran dalam merespon dan menanggapi suatu masalah.

Baik dalam bentuk nasihat atau teguran, keduanya tentu harus disampaikan di waktu yang tepat. Adakalanya secara langsung, dan adakalanya dibicarakan melalui nasihat-nasihat yang membutuhkan waktu khusus untuk membicarakan hal itu. Tentu dengan bahasa yang baik dan dapat diterima dengan lapang dada oleh kedua belah pihak. Demikianlah cara Nabi menyelesaikan masalah rumah tangga, semoga kita semua bisa mencontohnya.

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.

Rekomendasi

Moment Saat Nabi Perhatian kepada Istrinya; Shafiyyah Moment Saat Nabi Perhatian kepada Istrinya; Shafiyyah

Moment Saat Nabi Bercanda dengan Istri-istrinya

Rasulullah Juga Melakukan Pekerjaan Rumah Tangga

Benarkah Urusan Rumah Tangga Hanya Urusan Istri?

agar rumah tangga tetap harmonis agar rumah tangga tetap harmonis

Lima Cara yang dilakukan Nabi agar Rumah Tangga Tetap Harmonis

Qurrota A'yuni
Ditulis oleh

Penulis adalah konten writer program Cariustadz.id Pusat Studi Al-Quran, dan kandidat magister pengkajian Islam dalam bidang dakwah dan komunikasi UIN Jakarta. Beliau merupakan alumni Pondok Pesantren Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.

Komentari

Komentari

Terbaru

Bagaimana Posisi Mufassir Perempuan dalam Perkembangan Kajian Tafsir Al-Qur’an?

Kajian

Privacy yang Berhak Dimiliki Seorang Istri Menurut Empat Madzhab

Kajian

perempuan rentan menjadi korban perempuan rentan menjadi korban

RUU PKS Resmi Disingkirkan dari Prolegnas 2020, Bagaimana Islam Memandang Pemimpin yang Menyia-yiakan Umat?

Kajian

Kecemburuan Ummahatul Mu’minin pada Syafiyyah, Putri Pemuka Yahudi

Kajian

mahar nikah mahar nikah

Mahar Nikah Menjadi Hak Istri atau Mertua?

Kajian

Benarkah Penghuni Neraka Paling Banyak Perempuan?

Kajian

mendidik anak mendidik anak

Parenting Islami ; Bagaimana Cara Mendidik Anak Untuk Perempuan Karir?

Keluarga

ruu pks ruu pks

RUU PKS akan Dihapus dari Prolegnas 2020, Ini Respon Kalis Mardiasih

Kajian

Trending

Keguguran, Haruskah Tetap Memberi Nama Untuk Anak?

Kajian

Istri Harus Patuh pada Suami atau Orang Tua?

Kajian

Empat Hal yang Mesti Diperhatikan Ketika Mandi Wajib

Ibadah

Berapa Kali Sehari Rasulullah Mengucapkan Istighfar?

Ibadah

Bolehkah Perempuan Pergi Haji dan Umrah Tanpa Disertai Mahram?

Ibadah

Telaah Hadis; Benarkah Perempuan Tercipta dari Tulang Rusuk Laki-laki?

Kajian

Perempuan Ahli Ibadah Masuk Neraka Gara-gara Ini

Kajian

Anis Al-Muttaqin; Menilik Nilai Tasawuf dalam Manuskrip Nusantara

Kajian

Connect