BincangMuslimah.Com – Setiap kali bulan Muharram datang, banyak orang bertanya apakah menikah di bulan ini memang tidak dianjurkan dalam Islam? Di beberapa daerah di Indonesia, masih ada keluarga yang menghindari mengadakan pernikahan pada bulan Muharram. Bahkan, ada pasangan yang sengaja menunda akad nikah karena takut rumah tangganya nanti tidak bahagia atau akan mendapat kesialan. Kepercayaan seperti ini sudah ada sejak lama dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi sebagian masyarakat, memilih waktu menikah harus memperhatikan bulan yang dianggap baik atau kurang baik menurut adat.
Karena itu, sekarang semakin banyak orang yang mulai mencari penjelasan berdasarkan ajaran Islam. Mereka ingin tahu apakah benar Islam melarang menikah di bulan Muharram, atau hanya sekadar tradisi yang berkembang di masyarakat. Memahami hal ini sangat penting agar kita bisa membedakan mana yang benar-benar berasal dari ajaran agama dan mana yang merupakan kebiasaan atau adat.
Dengan begitu, kita tidak mudah percaya pada anggapan yang belum tentu memiliki dasar dalam syariat.
Muharram adalah Bulan yang Dimuliakan
Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih banyak beribadah, menjauhi perbuatan dosa, dan memperbanyak amal baik. Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk berpuasa sunnah di bulan Muharram, terutama pada tanggal 9 dan 10 Muharram, yaitu puasa Tasu’a dan Asyura.
Yang perlu diketahui, tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an maupun hadis sahih yang melarang atau memakruhkan menikah di bulan Muharram. Dalam Islam, hukum menikah tetap sama seperti pada bulan-bulan lainnya. Dalam ilmu fikih juga dijelaskan bahwa semua urusan muamalah, termasuk pernikahan, pada dasarnya boleh dilakukan selama tidak ada dalil yang melarangnya. Karena tidak ada larangan dalam syariat, maka menikah di bulan Muharram tetap diperbolehkan.
Kalau memang Islam tidak melarang, mengapa banyak orang percaya bahwa menikah di bulan Muharram tidak baik? Jawabannya lebih banyak berasal dari budaya dan sejarah masyarakat. Di Jawa (meski tidak semua orang jawa), misalnya, Muharram dikenal dengan nama Bulan Suro. Dalam tradisi Jawa, bulan ini memiliki makna khusus. Kebanyakan orang memilih tidak mengadakan pesta pernikahan sebagai bentuk menghormati adat.
Menghormati Tradisi dengan Bijak
Tradisi tetap memiliki nilai penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi boleh dihormati dan dilestarikan. Kalau sebuah keluarga memilih tidak mengadakan pesta di bulan Muharram karena mengikuti adat, itu adalah pilihan budaya. Tetapi jika diyakini bahwa Islam melarang menikah pada bulan tersebut, maka anggapan itu perlu didiskusikan lebih lanjut.
Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa tetap menghargai budaya dan ajaran agama tanpa saling mempertentangkannya.
Sebenarnya, keberhasilan sebuah rumah tangga ditentukan oleh kesiapan pasangan dalam menjalani kehidupan bersama. Komunikasi yang baik, saling menghormati, bertanggung jawab, mampu menyelesaikan masalah, serta memiliki kesiapan mental dan ekonomi adalah hal-hal yang jauh lebih menentukan kebahagiaan rumah tangga. Karena itu, daripada terlalu memikirkan mitos tentang bulan tertentu, calon pengantin sebaiknya lebih fokus mempersiapkan diri agar dapat membangun keluarga yang harmonis.
Perdebatan tentang menikah di bulan Muharram menunjukkan bahwa adat dan agama sering kali saling memengaruhi dalam kehidupan masyarakat. Namun, dengan pemahaman agama yang benar, kita dapat menghargai tradisi. Sikap seperti ini akan membantu umat Islam menjalankan ajaran agama dengan lebih bijaksana dan sesuai dengan tuntunan syariat.
