BincangMuslimah.Com – Bulan Muharram merupakan bulan yang mulia. Umat Islam mendapat anjuran untuk lebih banyak beribadah sunah salah satu puasa. Puasa yang disunahkan saat di bulan Muharam yakni puasa Tasu’a (9 Muharram) dan puasa Asyura (10 Muharram).
Puasa Asyura memiliki latar sejarah yang panjang, bahkan telah dilakukan sejak zaman Nabi Musa AS sebagai bentuk syukur kepada Allah atas keselamatan dari Fir’aun. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut. Hal ini sebagaimana penjelasan yang merujuk hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (Kitab al-Anbiya, no. 3397) dan Imam Muslim dalam Shahih Muslim:
قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ … فَقَالَ: نَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Artinya:
Nabi datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura… lalu beliau bersabda: ‘Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.”
Keutamaan Puasa Tasu’a dan Asyura
Keutamaan puasa Asyura juga terdapat dalam hadis sahih lainnya, riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim (Kitab al-Shiyam):
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya:
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya.”
Hadis ini menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan besar, yakni sebagai sarana penghapus dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah lalu.
Adapun puasa Tasu’a (9 Muharram) dianjurkan sebagai penyempurna ibadah Asyura sekaligus untuk membedakan ibadah umat Islam dengan kaum Yahudi. Sumber dari anjuran ini terdapat dalam hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda:
لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ
Artinya:
“Jika aku masih hidup hingga tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
Lafadz Niat Puasa Tasu’a dan Asyura
Dalam pelaksanaannya, puasa sunnah ini diawali dengan niat yang ikhlas. Niat puasa Tasu’a dapat ialah:
نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوعَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: Saya berniat puasa Tasu’a karena Allah Ta‘ala.
Sedangkan lafadz niat puasa Asyura adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ لِلَّهِ تَعَالَى
Artinya: Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta‘ala.
Mengamalkan puasa ini berarti menghidupkan sunnah Nabi, meneladani para nabi terdahulu, serta upaya memohon ampunan kepada Allah. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan dua hari istimewa ini dengan penuh keimanan, keikhlasan, dan harapan akan ridha serta ampunan dari Allah SWT. Semoga bermanfaat.
