BincangMuslimah.Com- Allah menciptakan manusia di bumi dengan keistimewaannya berupa akal. Manusia memiliki kemampuan berfikir untuk menunjang kehidupannya dengan berbagai cara; termasuk memanfaatkan sumber daya alam.
Sayangnya, tidak semua manusia menggunakan akalnya dengan bijak. Kerakusan manusia seringkali menjadi ancaman bagi bumi bahkan antar manusia. Allah menciptakan beraneka ragam sumber daya alam untuk kebutuhan hidup manusia, tetapi perlahan manusia sendiri yang merusaknya. Allah telah berfirman pada beberapa ayat di Al-Qur’an mengenai kebermanfaatan ciptaannya di bumi untuk manusia. Di antaranya adalah pada Qs. Al-Mulk ayat 15. Dari ayat-ayat Al-Qur’an inilah seharusnya soerang muslim dapat mengambil pelajaran.
Tafsir Qs. Al-Mulk Ayat 15
Qs. Al-Mulk ayat 15
هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ ذَلُولًا فَٱمْشُوا۟ فِى مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا۟ مِن رِّزْقِهِۦۖ وَإِلَيْهِ ٱلنُّشُورُ
“Dialah (Allah) yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”
Ayat di atas menunjukkan nikmat Allah; sang pencipta bumi yang mudah dijelajahi oleh manusia. Dalam Tafsir Ringkas Kemenag, hendaknya manusia menjelajahi bumi dengan memiliki aktivitas dan tujuan yang bermanfaat.
Aktivitas yang bermanfaat contohnya adalah mencari rezeki dengan bekerja. Manusia juga dapat mengambil manfaat dari alam sekitar untuk kepentingan hidup mereka, misalnya untuk bertani, berdagang, memanfaakan tanaman sebagai bahan makanan, dan lain-lain.
Dalam tafsir Ibn Katsir, tafsir kata فَامشُوا (berjalanlah) adalah فَسَافِرُوْا (Lakukanlah perjalanan). Sehingga maksud dari “berjanlah di segala penjuru” adalah perintah agar manusia berjalan di segala pelosok bumi sesuka manusia; termasuk hingga ke gunung, untuk berbagai kegiatan. Namun tidak ada kemudahan yang terjadi di bumi ini kecuali tanpa izin Allah.
Kemudian dalam term رِزْقِهِ فَكُلُوْامِنْ adalah perintah agar manusia memakan rezeki dari Allah serta tetap bertawakkal kepada-Nya. Tawakkal akan menjadikan rezeki yang Allah limpahkan menjadi lebih banyak dan penuh berkah.
Rasulullah SAW bersabda :
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وتَرُوح بِطَانًا
“Jika kalian bertakwa kepada Allah dengan sebaik-baiknya takwa, maka Allah memberi rizki kalian seperti memberi pada burung. burung pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di petang hari dalam keadaan perut kenyang.”
Menjelajah sebagai Ibadah, Bukan Eksploitasi
Ayat di atas menunjukkan ibrah bahwa Allah sangat memperhatikan kehidupan manusia. Allah telah menjamin rezeki bagi manusia asal manusia mau bergerak untuk mencarinya.
Pada ayat tersebut itu juga menjadi pengingat bahwa setelah kehidupan dunia nanti, manusia akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah. Perjalanan manusia di bumi ini apakah menjadi perjalanan yang bermanfaat maupun tidak, akan mendapat balasannya.
Oleh sebab itu, sebagai seorang muslim, kita harus bijak dalam memanfaatkan segala kemudahan dan fasilitas yang telah Allah ciptakan di bumi. Perjalanan manusia dalam bekerja dan mencari rezeki untuk hidupnya, seharusnya tidak serta merta membawa kerusakan pada kehidupan lainnya; alam sekitar.
Allah berfirman dalam pada Qs. Al-A’raf ayat 56 :
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.”
Ayat ini jelas melarang berbuat kerusakan pada bumi. Namun sampai saat ini kerusakan alam masih banyak terjadi, bahkan berdampak pada bencana alam yang menimbulkan banyak korban jiwa.
Kesadaran ekologis harus segera dibangun secara kolektif, mulai dari pemangku kebijakan hingga akar rumput di masyarakat. Bahkan langkah-langkah strategis seperti penghijauan, daur ulang, dan pengurangan limbah sangat mungkin dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Melihat banyaknya kerusakan alam akhir-akhir ini, sebagai manusia; khususnya seorang muslim perlu mawas diri agar mencari rezeki di jalan Allah. Yaitu memanfaatkan apa yang ada di bumi serta menghindari melakukan kerusakan, apalagi eksploitasi alam. Sebab jika manusia tidak memiliki kesadaran atas perbuatan buruk yang merusak alam, maka yang terkena dampaknya dengan lebih parah adalah anak cucu di masa depan.
Bagaimanapun, manusia tidak lepas dari tugasnya sebagai khalifah fil ‘ard (pemimpin di bumi). Tugas tersebut tidaklah terpenuhi jika manusia berperan tidak sebagai penjaga alam, tetapi malah merusaknya.
Sebagai seorang muslim, kita perlu kembali pada ayat-ayat yang menunjukkan pada kemurahan Allah dalam menciptakan segala sesuatu di bumi. Tak lain agar senantiasa bersyukur dan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga bumi. Tujuan jangka panjangnya adalah agar dapat mewariskan kehidupan yang layak untuk generasi selanjutnya.
