Ikuti Kami

Kajian

Makna Kelapangan Dada Nabi Muhammad dalam Surah al-Insyirah

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

BincangMuslimah.Com – Surah al-Insyirah atau asy-Syarh dinamakan demikian sebab dimulai dengan kabar mengenai kelapangan dada Nabi Muhammad.

Surah ini memberi pesan kepada jiwa Nabi saw yang merasa tertekan karena mengemban urusan dakwah dan menanggung ketidaksenangan atas gangguan orang-orang kafir yang menyakitkan. Sebagaimana firmanNya, QS. as-Syarh ayat 1:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu (Nabi Muhammad)?”

Kata ‘nasyrah‘ berasal dari ‘syaraha‘ yang artinya melapangkan, baik secara material (memotong atau membedah), juga non materi maknanya membuka, memberi pemahaman, menganugerahkan ketenangan dan semaknanya.

Maksud dari Kelapangan Dada Menurut Ulama Tafsir

Karena itu pakar Alquran berbeda pendapat mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa ayat pertama berbicara tentang pembedahan dada Nabi. Baik di kala beliau remaja maupun pada malam isra’ mi‘raj. Malaikat mengeluarkan hati beliau saw dan mencuci serta membersihkannya dari segala kemaksiatan. Kemudian, memenuhi hati tersebut dengan ilmu dan iman, lantas meletakkannya lagi di tempat semula. (HR. Bukhari)

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Quran al-Adzim (4/524) menerangkan bahwa hal itu sesungguhnya tidak kontradiktif, karena pembelahan dada Nabi Muhammad oleh malaikat sebagaimana riwayat tersebut merupakan sebab adanya lapang dada secara maknawi juga.

Akan tetapi, mayoritas mufasir menyatakan bahwa ‘as-Syarh’ adalah amr maknawi atau sesuatu yang abstrak. Seperti Quraish Shihab yang memahami ayat di atas sebagai kelapangan yang dapat menghasilkan kemampuan menerima. Serta menemukan kebenaran, hikmah, dan kebijaksanaan, dan kesanggupan menampung bahkan memaafkan kesalahan dan gangguan-gangguan orang. Sebab kata ‘syaraha‘ dalam berbagai derivasinya tidak satu pun terdapat dalam Alquran di konteks material, apalagi pembedahan. (Tafsir al-Misbah 15/354).

Baca Juga:  Hukum Perempuan Puasa Ramadhan Sembari Niat Diet

Sementara Abu Hayyan dalam Bahr al-Muhith (8/847) menyatakan itu berupa permohonan dalam doa kepada Allah dan kemampuan menghadapi berbagai gangguan orang-orang kafir. Hal ini sebagaimana doa Nabi Musa yang memohon kepada Allah agar dianugerahi kelapangan dada serta dipermudah untuknya segala persoalan. (QS. Thaha: 25-26)

Kelapangan dada yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad atau kepada selain beliau, tentu saja dengan kapasitas yang berbeda. Dapat memahaminya melalui perbandingan antara dua ayat sebelumnya, yaitu yang Allah anugrahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Muhammad.

Nabi Musa harus memohon dalam doanya terlebih dahulu, sedangkan Nabi Muhammad saw. memperoleh anugerah kelapangan dada tanpa mengajukan permohonan. Kita dapat mengambil kesimpulan bahwa yang mendapat tanpa memohon, tentunya lebih dicintai dari yang memohon, baik permohonannya diterima, lebih-lebih bila tidak.

Di sisi lain, permohonan Nabi Musa adalah agar dipermudah untuk urusannya. Sementara Nabi saw. bukan sekadar urusan yang Allah mudahkan bagi beliau, tetapi beliau sendiri yang mendapat anugrah kemudahan. Sehingga betapapun sulitnya persoalan Rosul hadapi, dengan pertolongan Allah beliau akan mampu menyelesaikannya. (Tafsir al-Misbah 15/355)

Keutamaan Surah Al-Insyirah: Melapangkan Jiwa Nabi dan Umat Islam

Nabi Muhammad meyatakan bahwa turunnya surah as-Syarh ini sebagai penghibur beliau saw, yang kemudian juga menjadi keutamaan bagi umat Islam untuk membacanya. Al-Baidhawi meriwayatkan dari Nabi saw: “Barangsiapa membaca surat Alam Nasyrah, maka seakan dia mendatangiku saat keadaanku sedang bersedih kemudian ia menyenangkanku”. (Anwar at-Tanzil 6/322)

Karena itu, para ulama seperti Imam Syafi’i mengajarkan dan memberi faidah kepada seseorang yang jiwanya sedang mengalami kegalauan, kesepian, dan menderita, atapun perasaan marah. Untuk mengatasi hal tersebut dengan membaca surah al-Insyirah ini sembari tangan kanannya memegang dada.

Baca Juga:  Emma Poeradiredjo, Sosok Perempuan dalam Kongres Pemuda

Dalam riwayat lain, sebagaimana hadits dari Imam ad-Dhahak dari Ibnu Abbas, para sahabat pernah bertanya kepada Nabi saw: “Hai Nabi Muhammad, apakah Allah melapangkan dada?” Nabi saw menjawab: “Benar Allah melapangkan dada”. Mereka kembali bertanya: “Apakah tanda Allah telah melapangkan dada?”

Kemudian beliau saw menjawab, “Tanda Allah melapangkan dadanya adalah bergesernya dari dunia yang menipu kepada kehidupan yang kekal, serta menyiapkan kematian sebelum mendatanginya”. (Tafsir al-Qurtubi, 20/104). Wallah a’lam.[]

Rekomendasi

Ditulis oleh

Khadimul 'Ilmi di Yayasan Taftazaniyah

4 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan

Greening Muhammadiyah dan Pengelolaan Sampah Makanan

Muslimah Talk

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Hukum Minum Air Bekas Cucian Kaki Ibu

Kajian

Cara Anak Muda Muslim Menjawab Krisis Lingkungan

Muslimah Talk

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Keutamaan bagi Orang yang Bersholawat

Ibadah

Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera

Menghirup Jelut, Membilang Rugi: Ketika Karhutla Melumpuhkan Nafas, Dapur, dan Masa Depan Anak Sumatera

Muslimah Talk

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Pengetahuan Islam dan Keberlanjutan Kosmis dalam Membangun Budaya Pengetahuan Hijau

Muslimah Talk

Bertaubat Harus Bersuci Bertaubat Harus Bersuci

Selain karena Hadas dan Najis, Bertaubat Juga Harus Bersuci

Ibadah

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

Trending

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Menunggu Jodoh dengan Elegan; Cerita dari Jomblo untuk Jomblo

Diari

orang sakit menjamak shalat orang sakit menjamak shalat

Bolehkah Orang yang Sakit Menjamak Shalat?

Ibadah

Pendapat Empat Mazhab Tentang Hukum Jual Beli Saat Shalat Jumat Berlangsung

Muslimah Daily

Cerita Seru Serba-Serbi Mondok: Selamat Hari Santri!!!

Diari

feminiskah aisyah feminiskah aisyah

Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

Kajian

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Connect