Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Empat Bentuk Ketidakadilan yang Sering Dialami Perempuan

gettyemages.com - Modern Muslim Female Putting On A Hijab

BincangMuslimah.Com – Ketidakadilan sangat erat dengan perempuan. Di manapun dan kapanpun, kita kerap menemui ketidakadilan pada perempuan baik dalam kehidupannya, pemenuhan hak-haknya, bahkan kehadirannya di dunia. Apa saja sih bentuk ketidakadilan yang sering dialami perempuan? Bagaimana bentuk manifestasi ketidakadilan terhadap perempuan tersebut?

Melalui tulisannya yang berjudul Posisi Kaum Perempuan dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender dalam buku Mansour Fakih, dkk., Membincang Feminisme: Diskursus gender Perspektif Islam (Surabaya: Risalah Gusti, 2000) Mansour Fakih mengungkapkan bahwa dengan analisisi gender, banyak ditemukan berbagai manifestasi ketidakadilan terhadap perempuan.

Pertama, ada marginalisasi atau pemiskinan ekonomi terhadap kaum perempuan. Sebagai misal, ada banyak perempuan desa yang tersingkirkan dan menjadi miskin akibat dari program pertanian revolusi hijau yang hanya berfokus pada kelangsungan hidup petani laki-laki. Persoalan pemiskinan petani perempuan karena bias gender yang mengakar-menguat ini menjadi masalah.

Meski demikian, ternyata masih ada banyak perempuan yang ikut andil dalam menentukan perekonomian keluarga. Ada banyak perempuan yang ikut pergi bertani ke sawah atau berjualan ke pasar bersama sang suami. Masalah kemudian muncul kembali apabila perempuan menjalani hidup sebagai orang tua tunggal karena bercerai atau ditinggal wafat suami. Orang tua tunggal perempuan kerapkali mengalami beban ganda atau double burden yakni menjadi orang yang mengurus masalah domestik sekaligus orang yang berusaha untuk menghidupi anak-anaknya.

Kedua, ada subordinasi pada salah satu jenis kelamin. Hal ini biasanya terjadi pada perempuan. Ada banyak kebijakan dalam keluarga atau masyarakat tertentu yang dibuat tanpa menganggap penting perempuan. Nah, lagi-lagi, ada persepsi yang diskriminatif dan tidak adil yang ditujukan untuk perempuan. Sebagai misal, perempuan dianggap hanya mengurusui dapur, sumur dan kasur sehingga tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Ketiga, ada pelabelan negatif atau bisasa disebut sebagai stereotip terhadap jenis kelamin tertentu. Akibat, terjadilah diskriminasi dan tumbuhnya ketidakadilan. Banyak sekali stereotip dalam masyarakat yang ditujukkan kepada perempuan. Hal tersebut akhirnya membatasi, menyulitkan, memiskinkan dan merugikan perempuan. Sebagai misal, setiap pekerjaan yang dilakukan perempuan dinilai hanya sebagai tambahan dan boleh dibayar lebih rendah.

Keempat, terjadi kekerasan (violence) terhadap jenis kelamin tertentu dan umumnya terjadi pada perempuan karena perbedaan gender. Bentuk kekerasan ada banyak pasti akan berkembang, mulai dari yang paling kasar sampai kekerasan yang lebih halus. Pemerkosaan suami terhadap istri, pemukulan, penciptaan ketergantungan, pemerasan, dan sebagainya adalah beberapa contohnya.

Kelima, peran gender perempuan dalam tatanan masyarakat adalah mengelola rumah tangga sehingga banyak perempuan yang menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama, bahkan terjadi beban ganda (double burden).

Ada empat faktor yang menyebabkan tidak maksimalnya hak dan peran perempuan. Pertama, masih banyak orang yang menggunakan studi Islam, khususnya al-Qur’an dan Hadits parsialisatomistik dan paradigma klasik, sehingga melahirkan pemahaman yang hanya menguntungkan salah satu pihak.

Kedua, belum jelasnya perbedaan antara sex dan gender dalam mendefinisikan peran laki-laki dan perempuan. Ketiga, banyak orang yang masih menggunakan sejumlah teks korpus agama yang misogonis. Celakanya lagi, teks tersebut tidak dipahami secara kontekstual-progresif.

Keempat, masuknya budaya-budaya lokal dan atau kisah-kisah isra’iliyyat ke dalam penafsiran atas al-Qur’an dan Hadits. Sebagai misal, adanya pandangan yang menyatakan bahwa selama ini bahwa laki-laki adalah sebagai pemimpin bagi perempuan, produk penafsiran bias gender dari Q.S. al-Nisa’ [4]: 34 sebagai berikut:

 ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Ahli tafsir menyatakan bahwa kata qawwâm dalam ayat tersebut, berarti pemimpin, pelindung, penanggung jawab, pendidik, dan sebagainya. Keunggulan laki-laki disebabkan oleh keunggulan akal dan fisiknya. Padahal, ada hak perempuan untuk menjadi pemimpin dalam ranah domestik dan publik.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948 memuat bahwa hak dan kebebasan sangat perlu dimiliki oleh setiap orang tanpa diskriminasi, termasuk tidak melakukan diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, laki-laki dan perempuan mempunyai derajat yang sama.

Sudah saatnya kita melawan bias gender dan menggenapi hak-hak perempuan yang selama ini diabaikan, bahkan dianggap tak ada. Semua bentuk ketidakadilan terhadap perempuan mesti dilawan. Hal ini berguna bukan hanya untuk diri kita sendiri dan kelangsungan hidup masyarakat saat ini tapi juga untuk generasi mendatang di masa depan nanti demi kelangsungan hidup bersama yang tidak bias gender.[]

Rekomendasi

penembakan wartawan palestina shireen penembakan wartawan palestina shireen

Mengutuk Aksi Penembakan Terhadap Wartawan Palestina, Shireen Abu Akleh

Nyai Badriyah Fayumi gender Nyai Badriyah Fayumi gender

Nyai Badriyah Fayumi, Penafsir Muslim Keadilan Gender

Nalar Kritis Muslimah gender Nalar Kritis Muslimah gender

Nalar Kritis Muslimah; Mewujudkan Keadilan Gender

Perempuan Menyusui Saat Covid Perempuan Menyusui Saat Covid

Perempuan Menyusui Saat Covid, Apakah Tetap Wajib Puasa Ramadhan?

Ayu Alfiah Jonas
Ditulis oleh

Tim Redaksi Bincang Muslimah

Komentari

Komentari

Terbaru

amalan shalat ashar jumat amalan shalat ashar jumat

Amalan Nabi Khidir Setelah Shalat Ashar di Hari Jumat

Ibadah

ajarkan kesetaraan laki-laki perempuan ajarkan kesetaraan laki-laki perempuan

Ajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-Laki dan Perempuan

Kajian

fans k-pop larangan fanatik fans k-pop larangan fanatik

Ramai Kegaduhan Fans K-POP di Space Twitter, Ini Larangan Fanatik dalam Islam

Kajian

UU PRT Harus Disahkan UU PRT Harus Disahkan

Alasan Kenapa UU PRT Harus Segera Disahkan

Muslimah Talk

Film KKN Desa Penari Film KKN Desa Penari

Film KKN Desa Penari; Begini Penjelasan Buya Syakur tentang Ruh Orang yang Meninggal Karena Santet atau Sihir

Kajian

Ayah Alami Postpartum Blues Ayah Alami Postpartum Blues

Tidak Hanya Ibu Hamil, Ayah Juga Bisa Mengalami Postpartum Blues

Muslimah Talk

Kehidupan Manusia Setelah Kematian Kehidupan Manusia Setelah Kematian

Dalil Kehidupan Manusia Setelah Kematian

Kajian

penembakan wartawan palestina shireen penembakan wartawan palestina shireen

Mengutuk Aksi Penembakan Terhadap Wartawan Palestina, Shireen Abu Akleh

Muslimah Talk

Trending

kepemilikan aset kripto dizakati kepemilikan aset kripto dizakati

Apakah Kepemilikan Aset Kripto Harus Dizakati?

Kajian

memberi zakat meninggalkan shalat memberi zakat meninggalkan shalat

Hukum Memberi Zakat Pada Orang yang Meninggalkan Shalat, Bolehkah?

Kajian

UU TPKS Telah Disahkan UU TPKS Telah Disahkan

UU TPKS Telah Disahkan, Masih Ada Tugas Lain yang Menanti

Muslimah Talk

laki-laki jadi korban kdrt laki-laki jadi korban kdrt

Tidak Hanya Pada Perempuan, Laki-Laki Pun Bisa Jadi Korban KDRT

Kajian

anggota keluarga menggantikan puasa anggota keluarga menggantikan puasa

Apakah Anggota Keluarga Bisa Menggantikan Puasa Kerabat yang Sudah Wafat?

Kajian

tata cara membayar fidyah tata cara membayar fidyah

Tata Cara Membayar Fidyah Puasa Ramadhan

Kajian

pekerja berat membatalkan puasa pekerja berat membatalkan puasa

6 Syarat Pekerja Berat Boleh Membatalkan Puasa di Bulan Ramadhan

Kajian

kesempurnaan manusia imam al-ghazali kesempurnaan manusia imam al-ghazali

Kesempurnaan Manusia Dan Cara Mencapai Tujuan Akhir Hidup dalam Pandangan Imam Al-Ghazali

Kajian

Connect