Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Keperawanan dalam Islam dan Medis

Repeat cycle of love

BincangMuslimah.Com – Konsep dan gagasan mengenai keperawanan telah tertanam kuat baik dalam kontruksi sosial budaya maupun agama. Hal tersebut telah lahir dan hidup dalam masyarakat selama berabad-abad. Di Indonesia keperawanan masih dipandang sebagai sesuatu yang memiliki nilai tinggi. Salah satu buktinya adalah tuhan 2019 seorang atlet senam dari Kediri Jawa Timur gagal mengikuti SEA Games 2019 dikarenakan hasil tesnya menunjukkan dia tidak perawan lagi.

Sebelumnya pada tahun 2016 dilansir dari Kompas.com, kita pernah dihebohkan dengan tes keperawanan di Universitas Andalas sebagai sebuah syarat masuk perguruan tinggi. Tes keperawanan sebagai sebuah “syarat” sebenarnya bukan isu baru di publik. Hal ini telah menjadi fenomenal di seluruh dunia. Tes ini sebenarnya sangat ditentang oleh badan Kesehatan Dunia (WHO) hingga United Nations Woman.

Sebenarnya apa sih keperawanan itu? Dalam buku Perawan Tiga Detik yang ditulis oleh Dono Baswardono dijelaskan bahwa kata perawan berasal dari bahasa Latin dan Yunani yakni Virgin atau Virgo. Kata tersebut diartikan dalam makna gadis perawan. Istilah ini kemudian mempunyai hubungan erat dengan term virga bermakna baru, ranting muda. Kata ini dipakai dalam mitologi Yunani untuk mengelompokkan beberapa dewi, seperti dewi Artemis dan dewi Heista.

Perawan merupakan label kekuatan dan kebebasan. Asri Supatmiati dalam buku Cewek Ngomongin Virgin menyatakan bahwa keperawanan (virginity) adalah suatu kondisi dimana seseorang belum pernah terlibat hubungan seksual sebelum menikah, sehingga selaput dara (hymen) belum robek lapisannya, dan kemudian terlibat dalam tindakan seksual hanya dengan pasangan hidupnya.

Selaput dara adalah bagian yang ada pada organ reproduksi perempuan yang mempunyai fungsi sosial jauh lebih tinggi daripada fungsi anatomis. Maksudnya secara anatomis, hilangnya keperawaan atau sobeknya selaput dara ini sama sekali tidak berpengaruh terhadap fungsi organ vital seorang perempuan.

Sebenarnya bicara keperawanan bukan martabat dari seorang perempuan. Usaha dan keinginan perempuan untuk menjaga diri atau kehormtan itulah yang disebut hakikat kesucian. Indonesia masih mengganggap tabu mengenai keperawanan namun mitos mengenai keperawan semakin banyak beredar dan menyesatkan dan berujung menyudutkan peremuan pada posisi yang tidak berdaya.

Dalam Islam pembahasan mengenai keperawanan sangat jelas. Jefri Al-Bukhori menegaskan dalam buku Sekuntum Mawar untuk Remaja bahwa Islam mengharuskan setiap pemeluknya laki-laki maupun perempuan untuk senantiasa menjaga kehormatannya dan tidak menyerahkan kesuciannya, kecuali hanya pada pasangan hidup yang sah menurut agama. Setiap perempuan harus menjaga keperawanan dan hanya boleh menyerahkanya kepada sang suami.

Sementara laki-laki juga wajib menjaga keperjakaannya dan hanya boleh menyerahkannya kepada sang istri. Dalam Al-Qur’an, Allah telah memerintahkan setiap orang beriman, laki-laki maupun perempuan, untuk senantiasa menjaga kehormatannya dan menjauhi hal-hal yang dapat membawa kepada ternodanya kesucian. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. An- Nur :32

‘’Katakanlah kepada wanita yang beriman’Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkam kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka atau putera-putera mereka atau puetera-putera suami mereka arau saudara-saudara laki-laki mereka atau putera-putera saudara laki-laki mereka atau wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-lakiyang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita atau anak-anak yang belum mengerti tentag aurat wanita. Dan janganlah memukukan kakinya agar diketahui perhiasaan ynag mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An- Nur :32)

Ayat di atas menyiratkan makna khususnya kepada kaum perempuan beriman, Allah memeringatkan secara panjang lebar kepada mereka tentang pentingnya kehormatan dan beberapa hal yang harus dilakukan secara praktis agar selalu menjaga kehormatannya, sebagai tindakan antisipasif. Hal ini sangat bisa dimengerti karena kaum perempuan adalah pihak yang paling rawan kesuciannya. Dari segala sisi, situasi dan kondisi, kemungkinan timbulnya ancaman terhadap kesucian perempuan jauh lebih besar dibandingkan laki-laki.

Menurut Mahrunnisa dalam penelitiannya yang berjudul Urgensi Virgininitas Bagi Kaum Pria dalam Memilih Calon Istri,  bahwa secara biologis seorang dikatakan perawan jika selaput dara tidak mengalami robek yang berarti, yang secara fisik selaput daranya belum sobek karena belum dipenerasi ala kelamin pria. Selaput dara dapat robek disebabkan oleh berbagai faktor, bentuknya menyerupai membran tipis yang tidak tentu tidak mudah begitu saja terkoyak atau dikoyakkan, diperlukan kekuatan tertentu untuk berhasil merobeknya, salah satunya yakni dengan koitus atau hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang pertama.

Hal ini diperkuat berdasarkan hasil wawancara dengan seorang dokter bernama Dr. Linda Herlina dalam sebuah hasil penelitian skripsi berjudul Kontruksi Realitas Keperawanan, bahwa dalam ilmu medis, keperawanan tidak dapat diukur menggunakan selaput darah. Bisa jadi seorang perempuan selaput daranya robek karena hal-hal di luar hubungan seksual.

Bisa saja dikarenakan kecelakaan fisik, misalnya saat perempuan tersebut sering melakukan aktivitas fisik yang lumayan berat. Linda menambahkan, setiap perempuan memiliki ketebalan selapu dara yang berbeda. Sebenarnya selaput darah hanyalah suatu selaput yang sebetulnya pun bentuknya tidaklah tertutup rapat tanpa lubang. Karena seorang perempuan harus mengeluarkan darah mens-nya tiap bulan secara rutin dan seorang tidak bisa mengeluarkan darah mens jika memiliki selaput yang tetutup rapat.

Rekomendasi

Avatar
Ditulis oleh

Mahasiswi UIN Jakarta dan volunter di Lapor Covid

Komentari

Komentari

Terbaru

Mengunyahkan Makanan Untuk Anak Mengunyahkan Makanan Untuk Anak

Mengunyahkan Makanan Untuk Anak Apakah Membatalkan Puasa?

Kajian

Batalkah Puasa Jika Mencicipi Batalkah Puasa Jika Mencicipi

Batalkah Puasa Jika Mencicipi Makanan?

Kajian

Mencium Pasangan Saat Puasa Mencium Pasangan Saat Puasa

Mencium Pasangan Saat Puasa, Batalkah Puasanya?

Kajian

dalil kekerasan seksual dalil kekerasan seksual

Larangan Islam atas Pemaksaan Hubungan Seks Suami-Istri

Kajian

Sahkah Shalat Memakai Mukena Sahkah Shalat Memakai Mukena

Sahkah Shalat Memakai Mukena Masker?

Ibadah

Perempuan Shalat di Rumah Perempuan Shalat di Rumah

Perempuan Shalat di Rumah atau di Masjid, Mana Yang Lebih Baik?

Ibadah

Vaksinasi Corona pada Bulan Ramadhan, Apakah Membatalkan Puasa?

Kajian

Saat Ziarah Kubur Perhatikan Saat Ziarah Kubur Perhatikan

Saat Ziarah Kubur Perhatikan Dua Hal Berikut Ini

Kajian

Trending

Asma Tubi sastrawan Asma Tubi sastrawan

Asma Tubi: Sastrawan dan Revolusioner Palestina

Khazanah

poligami dan monogami poligami dan monogami

Mengenal Konsep Poligami dan Monogami dalam Islam

Kajian

amalan nisfu sya'ban amalan nisfu sya'ban

Lakukan Tiga Amalan Ini di Malam Nisfu Sya’ban

Ibadah

nikah institute nikah institute

Menikah dengan Kesiapan Ala Nikah Institute

Muslimah Daily

perempuan harus mandiri perempuan harus mandiri

Sebuah Opini: Mengapa Perempuan Harus Mandiri dan Kuat Menjalani Hidup?

Diari

berpuasa di bulan sya'ban berpuasa di bulan sya'ban

Alasan Rasulullah Banyak Berpuasa di Bulan Sya’ban

Ibadah

peristiwa penting di bulan sya'ban peristiwa penting di bulan sya'ban

Tiga Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Sya’ban

Ibadah

taubatnya seorang putri pembesar taubatnya seorang putri pembesar

Taubatnya Seorang Putri Pembesar Kabilah Arab

Kajian

Connect