Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Diskusi Buku: Tradisi Sati di India dan Pengalaman Kekerasan Perempuan Lainnya

RUU kasus kekerasan seksual

BincangMuslimah.Com – Tim Kajian  Gender Islam (KGI) yang dipandu oleh Dr. Nur Rofiah, Bil. Uzm. mengadakan diskusi buku virtual melalui aplikasi Zoom pada, Jumat (7/8/2020). Kegiatan ini merupakan rangkaian kelas pra-KIG. Diskusi yang diadakan malam hari selepas sholat Isya ini dihadiri oleh lebih dari 150 peserta. Judul buku yang dibedah ialah Nalar Kritis Muslimah karya Dr. Nur Rofiah sendiri. Beliau sendiri merupakan aktivis gender, penulis, sekaligus dosen tafsir di Universitas Islam Negeri Jakarta dan Institut Ilmu Quran (IIQ). Namanya juga terdaftar di website pencarian ustaz, cariustadz.id.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam begitu menarik. Beliau mengulas secara umum apa saja yang ditulis dalam bukunya. Dimulai dengan membahas pengalaman biologis dan sosial yang dialami perempuan sampai pada pembahasan tentang kasus-kasus yang mengorbankan perempuan dan makna kesetaraan. Menurut penuturannya, pengalaman biologis perempuan jauh lebih berat dan berdurasi lebih lama ketimbang lelaki.

Pengalaman tersebut ialah menstruasi yang terjadi kisaran semingu sampai 15 hari, hamil selama 9 bulan lebih, melahirkan yang mempertaruhkan nyawa, nifas 40 hari dan menyusui dua tahun. Kelima pengalaman perempuan ini membawa dampak sosial pada perempuan yang justru seringkali merugikan perempuan. Sedangkan pengalaman sosial perempuan ialah seperti subordinasi, marjinalisasi, dan kekerasan perempuan.

Baginya, yang tentunya telah berpengalaman dalam melakukan penelitian tentang kasus-kasus perempuan, kaum perempuan seringkali mengalami kekerasan hanya karena ia perempuan. Banyak sejarah yang menunjukkan bahwa perempuan seringkali mengalami tindakan tidak manusiawi.

Peristiwa tersebut tercatat dalam sejarah tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dunia. Segala pandangan tentang perempuan sebenarnya telah tertanam dalam otak bawah sadar manusia karena peristiwa-peristiwa yang tercatat dalam sejarah tersebut. Perempuan dianggap sebagai manusia kelas bawah, sebagai objek dan tak memiliki peran. Sedangkan laki-laki adalah subjek tunggal dan mutlak di bumi.

Telah berabad-abad lamanya perempuan mengalami kekerasan fisik yang merupakan bentuk marjinalisasi dan subordinasi. Misal, tradisi mengubur bayi perempuan secara hidup-hidup yang dilakukan oleh bangsa Arab. Setelah datangnya Nabi Muhammad Saw beserta risalah Allah, derajat perempuan yang selama itu diremehkan mulai hilang. Lalu pada kasus waris, saat itu perempuan menjadi bagian benda yang bisa diwariskan bahkan kepada anak laki-lakinya sendiri yang juga bisa disetubuhi. Kemudian Alquran menurunkan ayat waris serta pembagiannya untuk perempuan. Alquran hadir sebagai penyelamat perempuan.

Di belahan bumi lainnya, misal di India, tradisi Sati telah memakan ratusan ribu bahkan jutaan nyawa perempuan. Tradisi Sati adalah ajaran Hindu yang populer di India sebab mayoritas penduduknya beragama Hindu. Praktiknya adalah perempuan membakar diri bersama jenazah suaminya yang dikremasi sebagai bentuk kesalihan dan kepatuhan perempuan kepada suami. Tetapi tidak sebaliknya, yaitu ketika sang istri yang meninggal, lelaki tidak turut membakar dirinya.

Dikutip dari sebuah artikel tulisan Indira Ardaneraswari (31/01/2020) dari laman Tirto dengan judul Sejarah Sati: Tradisi Bakar Diri Janda yang Bermula dari India, menyebutkan praktik ini masih terjadi secara ilegal. Ditemukan pada tahun 2008 seorang perempuan turut menyeburkan dirinya ke dalam kobaran api yang mengremasi jenazah suaminya. Kedua anaknya ditangkap oleh polisi atas tindakan menghilangkan nyawa orang. Padahal tradisi tersebut sudah lama dihapus oleh pemerintah India dan pelakunya, sehingga keluarga yang membiarkan praktik itu terjadi akan mendapatkan sanksi. Hal ini sudah disahkan oleh Undang-undang.

Selain mengalami kekerasan, perempuan seringkali dianggap tidak mampu mencapai level spritual tertinggi yang sebenarnya standarnya ditentukan oleh laki-laki. Hal tersebut hanya karena perempuan mengalami menstruasi sehingga dianggap tidak memiliki kualitas ibadah sebaik laki-laki. Narasi hadis perempuan kurang dalam agamanya karena mereka mengalami menstruasi menjadi legitimasi bagi laki-laki untuk menegaskan bahwa perempuan tidak bisa mencapai taraf spritual seperti lelaki.

Padahal, menurut penuturan dr. Nur Rofiah, makna dari hadis dari “wanita kurang akal dan agama” hanya menunjukkan makna kuantitas bukan kualitas. Bahkan saat wanita mengalami menstruasi dan tidak melakukan ibadah solat, puasa, dan sebagainya adalah bentuk ketaatannya pada Allah. Hal tersebut juga dinilai sebagai ibadah karena berdasarkan taat kepada Allah. Sedangkan melaksanakannya justru merupakan dosa yang artinya ia malah melanggar syariat.

Dalam Alquran pun disebutkan perintah untuk berbakti kepada orang tua. Akan tetapi di ayat tersebut hanya dijelaskan tentang pengorbanan seorang ibu:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ

Artinya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (QS. Al-Luqman; 14)

Dalam surat Luqman ayat 14, Allah mewasiatkan kepada manusia untuk berbakti kepada orang tuanya. Tapi pada kalimat setelahnya, Allah hanya menyebutkan pengorbanan seorang ibu yang merasakan kepayahan luar biasa saat mengandung, melahirkan, dan menyusui. Artinya, betapa perempuan punya kedudukan yang penting dalam kehidupan. Bukan hanya sebagai objek semata, melainkan sebagai subjek yang setara dengan laki-laki. Sighat (format kata) dalam ayat ini menggunakan kata “wasshoyna” yang berarti kami mewasiatkan menunjukkan betapa perintah ini sangat sakral.

Menjelang menit terakhir, Dr. Nur Rofiah melontarkan pertanyaan, “Lalu, bagaimana harusnya perempuan diperlakukan? Apakah harus sama?” tak lama beliau menjawab pertanyaannya sendiri, “Tergantung, karena adil tak mesti sama. Begitu juga apa yang tidak sama tidak mesti tidak adil. Karena perempuan dan laki-laki memiliki pngalaman yang berbeda. Maksud dari setara adalah setara sebagai sama-sama subjek kehidupan. Diperlakukan sebagai subjek yang penuh sesuai perannya masing-masing.”  

Rekomendasi

hari anti kekerasan perempuan hari anti kekerasan perempuan

Hari Anti Kekerasan Perempuan 2021: Kekerasan di Ranah Publik Masih Ditemui

RUU kasus kekerasan seksual RUU kasus kekerasan seksual

Sulitnya Pengesahan RUU PKS, Payung Hukum Kasus Kekerasan Seksual

Mengenal Kekerasan psikis Rumah Tangga Mengenal Kekerasan psikis Rumah Tangga

Belajar dari Film ‘Maid’; Mengenal Kekerasan Psikis dalam Rumah Tangga

alasan mendukung permen PPKS alasan mendukung permen PPKS

Enam Alasan Mengapa Kita Harus Mendukung Permen PPKS

Zahrotun Nafisah
Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Redaktur Bincang Muslimah

Komentari

Komentari

Terbaru

kesejahteraan guru belum tercapai kesejahteraan guru belum tercapai

Pandangan Islam akan Kesejahteraan Guru yang Belum Tercapai

Kajian

sosok ajaran penyembah berhala sosok ajaran penyembah berhala

Sosok Pembawa Ajaran Penyembah Berhala ke Mekkah

Khazanah

perempuan mel shalat jenazah perempuan mel shalat jenazah

Perempuan Melakukan Shalat Jenazah, Benarkah Tidak Boleh?

Kajian

Kyai Kholil Bangkalan Sang Maha Guru

Khazanah

hari anti kekerasan perempuan hari anti kekerasan perempuan

Hari Anti Kekerasan Perempuan 2021: Kekerasan di Ranah Publik Masih Ditemui

Muslimah Talk

suami perlu rida istri suami perlu rida istri

Suami Pun Perlu Mengejar Rida dari Istri

Kajian

secara umum (‘Aam) bagi setiap orang yang mendengar azan? Masihkah disunnahkan menjawab azan ketika dalam keadaan shalat? secara umum (‘Aam) bagi setiap orang yang mendengar azan? Masihkah disunnahkan menjawab azan ketika dalam keadaan shalat?

Hukum Menjawab Azan Ketika dalam Keadaan Shalat

Kajian

perempuan mandiri secara finansial perempuan mandiri secara finansial

Jangan Pasrah, Perempuan Perlu Mandiri Secara Finansial!

Muslimah Talk

Trending

doa diberikan jodoh sholih doa diberikan jodoh sholih

Doa Agar Diberikan Jodoh yang Shalih

Ibadah

perempuan berdua sopir taksi perempuan berdua sopir taksi

Perempuan hanya Berdua dengan Sopir Taksi, Apakah Disebut Khalwat?

Kajian

Mengenal Kekerasan psikis Rumah Tangga Mengenal Kekerasan psikis Rumah Tangga

Belajar dari Film ‘Maid’; Mengenal Kekerasan Psikis dalam Rumah Tangga

Muslimah Talk

mentoring poligami meraup keuntungan mentoring poligami meraup keuntungan

Trend Mentoring Poligami, Kedok Meraup Keuntungan

Kajian

Tiga Keutamaan Surat Al-Fatihah Tiga Keutamaan Surat Al-Fatihah

Tiga Keutamaan Surat Al-Fatihah

Kajian

hari anti kekerasan perempuan hari anti kekerasan perempuan

Begal Payudara di Duren Sawit; Stop Menyalahkan Pakaian yang Dikenakan Korban Pelecehan Seksual

Muslimah Talk

Hukum Memutus Silaturrahim Ulama Hukum Memutus Silaturrahim Ulama

Hukum Memutus Silaturrahim Menurut Ulama

Kajian

doa diberikan jodoh sholih doa diberikan jodoh sholih

Baca Doa Ini Jika Rindu pada Seseorang yang Kamu Sayang

Kajian

Connect