Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Darah Nifas; Pengertian dan Ketentuannya

BincangMuslimah.Com – Nifas menurut bahasa artinya melahirkan. Sedangkan menurut syara’ nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Disebut darah nifas karena darah tersebut keluar setelah nafs (jiwa, yakni anaknya), dan bagi perempuan yang sedang mengalami nifas secara fikih disebut nufasa’.

Adapun darah yang keluar di tengah-tengah kesakitan hendak melahirkan atau bersamaan dengan keluarnya anak, maka darah tersebut belum dianggap darah nifas. Karena darahnya keluar mendahului keluarnya anak, tetapi darah itu disebut darah yang fasid atau rusak.

Oleh karena itu, ia tetap wajib melaksanakan shalat di tengah-tengah rasa nyeri hendak melahirkan meskipun ia melihat darah. Dan jika ia tidak memungkinkan untuk shalat maka ia wajib mengqadanya.

Minimal masa nifas adalah sebentar saja (satu tetes), sedangkan batas umumnya mayoritas perempuan adalah empat puluh hari empat puluh malam. Dan batas maksimal keluarnya darah nifas adalah enam puluh hari enam puluh malam.

Oleh karena itu, jika seorang perempuan itu masih mengeluarkan darah setelah hari ke enam puluh maka darah tersebut adalah darah istihadlah, bukan darah nifas. Ia harus segera bersuci, menyumbat kemaluannya dengan pembalut, melaksanakan shalat serta boleh melakukan hal-hal yang dilarang ketika nifas.

Adapun dasar batas minimal, maksimal serta keumuman masa nifas tersebut adalah sebagaimana hasil penelitiannya imam Syafii seperti penelitiannya di dalam urusan batas minimal dan maksimal serta kebiasaan masa haid.

Adapun hal-hal yang haram dilakukan oleh perempuan yang sedang nifas adalah sebagaimana hal-hal yang diharamkan bagi seorang perempuan yang sedang haid. Yaitu haram melaksanakan shalat, membaca, menyentuh dan membawa Alquran, berdiam diri di dalam masjid, melewati masjid jika ia khawatir mengotori area masjid, thawaf, puasa, berhubungan badan serta bersenang-senang (istimta’) dengan suami di area antara pusar dan lutut.

Jika ada seorang perempuan yang melihat darah ketika hamil, maka jika darah yang ia keluarkan itu sudah mencukupi batas minimal haid yakni 24 jam atau sehari semalam dan tidak melebihi batas maksimal haid yakni 15 hari 15 malam, maka dihukumi darah haid. Otomatis bagi perempuan tersebut wajib meninggalkan shalat dan puasa serta semua hal-hal yang diharamkan bagi wanita haid.

Namun, jika darah yang dilihat ketika ia hamil itu keluarnya kurang dari batas minimal haid (kurang 24 jam atau sehari semalam), atau keluarnya lebih dari batas maksimal masa haid maka darah tersebut dihukumi darah istihadhah.

Namun ada yang berpendapat darah yang dilihat perempuan saat hamil itu dianggap darah istihadhah secara mutlak. Bukan darah haid. Karena hamil itu menutup tempat keluarnya haid, inilah yang mayoritas dialami oleh wanita. Maka haidnya perempuan di tengah- tengah hamil itu sangat jarang sekali. Tetapi pendapat pertamalah yang lebih rajih, yakni darahnya dianggap haid jika telah mencukupi disebut haid.

Adapun batas minimal masa hamil adalah enam bulan. Oleh karena itu, jika ada seorang perempuan yang memiliki anak setelah menikah kurang dari enam bulan dan anaknya hidup maka dapat dipastikan ia tidak dapat bernasab dengan ayahnya. Sedangkan batas maksimal hamil adalah menurut imam syafii empat tahun.

Namun ini sangat jarang sekali, tetapi terjadi di kalangan anak turunnya imam Syafii. Dan batas masa hamil kebiasaan mayoritas perempuan adalah sembilan bulan. Demikianlah pembahasan pengertian dan ketentuan-ketentuan nifas. Wa Allahu A’lam bis Shawab. (disarikan dari kitab Alfiqh Almanhaji Ala Madzhab Alimam Alsyafii, karya DR. Mustafa Alkhan, Dr. Mustafa Albagha dan Ali Alsyarbaji.)

*Artikel ini pernah dimuat di BincangSyariah.Com

Rekomendasi

Empat Hal yang Mesti Diperhatikan Ketika Mandi Wajib

Lima Hal yang Diwajibkan Bagi Perempuan yang Selesai Haid Tapi Menunda Mandi Suci

Benarkah Darah Nifas yang Keluar Lebih dari 60 Hari Disebut Istihadhah?

Pendarahan Sebelum Melahirkan, Apakah Termasuk Nifas?

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Terbaru

Doa Bagi Orang yang Selalu Was-was dalam Ibadah

Ibadah

Dua Pahala yang Dijanjikan untuk Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga

Kajian

Kisah Hakim Perempuan yang Menangani Kasus Poligami di Malaysia

Muslimah Talk

Parenting Islami : Cara Membiasakan Anak Shalat Lima Waktu

Keluarga

Kisah Pernikahan Nabi Musa dan Putri Nabi Syuaib

Diari

Shalat Tasbih : Lengkap dengan Niat dan Tata Caranya

Ibadah

Tafsir QS An-Nisa Ayat 4 ; Mahar Bukan Transaksi Jual Beli

Kajian

Perbedaan antara Akikah dan Kurban

Ibadah

Trending

Benarkah Islam Agama yang Menganjurkan Monogami?

Kajian

Gerakan Shalat yang Benar Bagi Muslimah

Ibadah

Tafsir QS Al-Baqarah 187 : Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menurut Islam

Kajian

Kritik Nabi kepada Laki-laki yang Suka Main Kasar pada Perempuan

Kajian

ratu bilqis ratu bilqis

Tafsir Q.S An-Naml Ayat 23: Meneladani Kepemimpinan Ratu Balqis Dalam Politik

Kajian

Mengoptimalkan Peran Perempuan Sebagai Benteng Toleransi

Diari

Stephanie Kurlow: Muslimah Penari Balet Pertama di Dunia yang Berhijab

Muslimah Talk

Bolehkah Perempuan Mempercantik Gigi dengan Behel?

Kajian

Connect