BincangMuslimah.Com – Saat masih menjadi pekerja di bidang marketing, penulis punya seorang kawan yang cukup akrab. Ia merupakan teman satu almamater, seorang perempuan dan anak pertama dari dua bersaudara. Setiap hari, ia menjual camilan ke kantor. Beragam jajanan yang ia tawarkan. Misalnya risol, puding dan camilan lainnya.
Ajaibnya, semua jajanan yang ia jajakan ia kreasikan sendiri. Bukan stok dari penjual kue yang lalu dijual lagi. Sepulang bekerja, dirinya mengusahakan pulang tepat waktu. Membeli bahan baku untuk memasak. Setelah semua lengkap, bahan baku dieksekusi (dimasak), dan besok pagi siap dijual di kantor.
Pernah suatu hari penulis iseng bertanya. Kenapa ia begitu getol berjualan. Bukankah sudah ada gaji dari kantor (walau gaji kami terhitung imut), dirinya juga tidak perlu menyewa kosan karena memang asli Jakarta. Pengeluarannya tentu tidak sebesar penulis yang kebetulan seorang perantau ini.
Nyatanya, gaji kawan penulis tidak pernah cukup setiap bulannya. Bukan untuk memenuhi gaya hidup rakyat Jakarta yang dituding glamour. Tapi untuk membiayai kebutuhan keluarga (ibu dan ayahnya), sekaligus bayar uang kuliah sang adik. Nyaris seluruh gaji bulanan yang ia miliki, semuanya diserahkan pada sang ibu. Sang ayah sudah pension, sehingga penghasilannya tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah secara keseluruhan.
Menurutnya, hal ini sudah menjadi tugas anak sulung. Lebih banyak berkorban, dan mengalah dengan segala kondisi. Walau melelahkan, kawan penulis tetap merasa bahagia dan lapang. Sehingga terjawab, kenapa ia begitu semangat dan totalitas saat bekerja.
Di sisi lain, penulis juga punya kawan yang super kreatif. Seorang perempuan aktif, multitalenta dan punya daya juang yang besar. Sekali lagi, ia anak sulung. Sejak masih bersekolah, dirinya selalu berupaya penuh membangun perekonomian keluarga. Kebutuhan domestik, hingga pendidikan sang adik selalu menjadi prioritas utama.
Kondisi lain, juga dihadapi oleh teman yang lain. Perempuan dan juga anak pertama. Melihat kondisi perekonomian yang tidak baik-baik saja membuat mereka merasa punya andil besar dalam keluarga. Sebagian gaji disisihkan, dan setiap saat berdoa dengan sungguh-sungguh tidak diberhentikan dari pekerjaan.
Tekanan dan tanggung jawab besar ini tidak hanya dialami oleh satu gender. Anak pertama laki-laki, lebih-lebih lagi. Kondisinya pun diperberat dengan masih adanya stigma toxic masculinity. Laki-laki bertanggung jawab secara keseluruhan. Di sisi lain ‘terlarang’ mengekspresikan kesulitan dan berkeluh-kesah. Tidak heran, sampai muncul slogan ‘lelaki tidak bercerita.’
Entah aturan dari mana dan sejak kapan dimulainya. Anak pertama harus kuat, teguh dan tidak boleh terlihat lemah. Tidak boleh menangis dengan sesuatu hal yang dinilai ‘remeh’ oleh sosial kita. Dan jangan sampai kehabisan akal saat menghadapi problematik kehidupan. Tidak berlebihan jika anak pertama sudah sejak kecil, menanggung ekspektasi maha besar dari keluarga.
Beban ini bahkan sudah ‘disuapkan’ saat usia bawah lima tahun (balita). Misalnya, di dalam sebuah keluarga, ada anak pertama yang baru berusia empat tahun dan si bungsu yang sebut saja masih berusia dua tahun. Tidak jarang, kita menyaksikan anak pertama diminta untuk mengalah di setiap kondisi.
Sesederhana diminta untuk memberikan mainan yang padahal, masih ia mainkan. Atau memberikan makanan kesukaan saat sang adik merengek juga ingin diminta. Kondisi ini ternyata pernah dikomentari oleh public figure, founder stand up comedy sekaligus penulis buku Raditya Dika.
Pada salah satu podcast, ia pernah menyampaikan pandangannya perihal beban psikologis anak pertama. Raditya bersama pasangannya sepakat tidak ‘fair’ jika anak pertama selalu dituntut untuk mengalah demi adiknya. Bagi mereka, anak pertama, tetaplah anak-anak. Kalimat seperti ‘seharusnya kakak bisa mengalah’, menurut mereka bisa memberikan dampak psikis pada anak. Dan pada akhirnya memengaruhi cara hidup saat dewasa kelak.
Oldest Child Syndrome
Oldest Child Syndrome menjadi julukan tidak resmi secara medis terhadap fenomena di atas. Singkatnya, istilah ini menggambarkan pola kepribadian, perilaku dan beban mental yang khas. Kondisi ini terbentuk pada anak pertama akibat urutan kelahiran dan pola asuh orang tua.
Sindrom ini didefinisikan sebagai kondisi ketika anak sulung tumbuh menjadi pribadi yang sangat bertanggung jawab, mandiri, dan perfeksionis. Namun di sisi lain, anak pertama sering memikul tekanan mental yang besar. Imbas dari tuntutan untuk selalu menjadi contoh yang baik dan memenuhi ekspektasi tinggi keluarga.
Terdengar sangat positif, namun ternyata bisa menimbulkan efek domino yang tidak menyenangkan. Dampaknya cukup nyata terhadap Kesehatan mental, berikut dengan mode menjalani hidup saat dewasa. Ketika dibiarkan tanpa batasan yang sehat, kondisi in berkembang menjadi gangguan psikologis jangka panjang.
Dilansir dari website alodokter.com, anak sulung yang konsisten memikul tekanan, tanggung jawab yang besar berisiko alami gangguan kecemasan anxiety. Ketakutan setengah mati terhadap kegagalan (fear of failure) dan mengecewakan orang lain terus membayangi mereka.
Sehingga alam bawah sadar mereka, disadari atau tidak akan selalu merasa cemas dan tidak tenang. Sepanjang waktu mereka harus melakukan melakukan sesuatu dan tidak boleh beristirahat. Jika punya waktu kosong, tidak jarang ia merasa bersalah dan tidak memanfaatkan waktu dengan baik.
Selain itu, harapan yang begitu besar mendorong anak sulung mengembangkan sifat perfeksionis yang tidak sehat. Menetapkan standar yang tidak realistis da dampaknya, saat mengalami kegagalan kecil, terjadi penurunan harga diri secara drastic. erasa tidak berharga, kurang percaya diri, dan selalu merasa apa yang mereka lakukan tidak pernah cukup baik.
Dikutip dari Very Well Mind, dampak selanjutnya adalah burnout hingga depresi. Kondisi ini bisa saja disebabkan karena masa kecil yang tersita hingga merasa punya kewajiban untuk menopang beban emosional keluarga. Berpura-pura kuat dan menolak meminta bantuan (hyper-independence) membuat energi emosional mereka terkuras habis.
Ujung-ujungnya, bisa memicu kelelahan mental akut (burnout), gangguan tidur, hingga depresi. Selanjutnya, kehilangan identitas diri juga menjadi akhir yang bisa dirasakan. Dampak mental lainnya adalah ketidakmampuan untuk mengenali keinginan diri sendiri. Sejak kecil,menjadi people pleaser (selalu ingin menyenangkan orang lain) demi menjaga keharmonisan rumah.
Ketika tumbuh dewasa, mereka sering mengalami krisis identitas karena tidak tahu apa yang benar-benar mereka inginkan. Keputusan hidup mereka selalu didasarkan pada apa yang diharapkan oleh orang lain.
Hal Kecil yang Bisa Dilakukan
Jika kamu adalah anak sulung dan rasanya sudah ‘terlanjur’ merasakan beberapa hal di atas, maka ada beberapa Langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, mengubah dialog batin (self-talk). Setiap kali ada suara “Kamu tidak boleh gagal,” atau “Semua orang bergantung padamu,” mulai belajar berkata pada diri sendiri, “Saya hanyalah manusia biasa, bukan penyelamat keluarga.
Atau, bisa juga dengan mengataka ‘melakukan kesalahan tidak membuat saya menjadi anak atau kakak yang buruk.” Mengajak diri bicara sendiri meruntuhkan standar perfeksionisme yang melelahkan. Kedua, berani berkata tidak.
Menolak hal-hal kecil bisa melatih diri bahwa batas tubuh dan mental berhak untuk dihormati. Ketiga, me time. Sediakan waktu untuk diri sendiri dengan melakukan hal yang disuka. Seperti menyalakan musik favorit, atau sekadar membaca buku tanpa memegang ponsel selama 30 menit. Terakhir, jangan ragu meminta bantuan jika dirasa tidak sanggup menanggung suatu hal sendiri.
Melakukan beberapa hal sederhana di atas bukan berarti belajar menjadi egois. Tapi sedang belajar menjadi manusia.
