Ikuti Kami

Muslimah Talk

Semangat Belajar ala Sayyidah Aisyah

Semangat Belajar Sayyidah Aisyah
gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Di saat kebanyakan perempuan menggunakan fitrah perasaan keingintahuannya untuk mengurusi kehidupan orang lain, berbeda dengan Aisyah yang mudah kepo pada hal-hal yang bermanfaat untuk menggali ilmu dari siapapun yang ditemuinya. Semangat belajar ala Sayyidah Aisyah inilah yang bisa diambil pelajarannya bagi muslimah lain.

Hidup pada abad ke-7, Sayyidah Aisyah adalah sosok wanita luar biasa dan menjadi panutan bagi orang-orang pada masanya hingga generasi sekarang. Sejak lahir, dirinya dididik oleh ayah Abu Bakar ash-Shiddiq yang merupakan sahabat terdekat Nabi. Setelah menikah, dirinya langsung belajar kepada Rasulullah yang menjadi suaminya.

Di samping kedekatannya dengan dua pria terkemuka tersebut dan ditunjang pula dengan jiwa kritisnya yang penuh rasa ingin tahu membuat Sayyidah Aisyah semakin semangat mempelajari apa saja. Hal itu memberi pengaruh pada pengetahuannya yang mendalam pada ajaran Islam Sehingga diakui dalam bidang tafsir, hadis, dan fikih.

Selain itu, dirinya dikenal pula sebagai ahli sastra, nasab, dan pengobatan. Tidak mengherankan jika Aisyah menjadi tempat bertanya para sahabat, tabi’in, dan rujukan para ulama hingga kini. Peran penting yang dia mainkan dalam dunia keilmuan sangat perlu untuk diteladani terutama kaum perempuan. 

Rasa Kepo yang Tinggi Terhadap Ilmu

Salah satu tabiat Aisyah adalah memiliki rasa ingin tahu yang besar dan banyak bertanya. Kedudukannya sebagai istri Rasulullah ia gunakan sebagai kesempatan untuk mengambil banyak faidah dari derasnya siraman kenabian. Saat menemukan masalah yang sulit untuk dipahami dan dipecahkan, Aisyah dapat langsung meminta penjelasan kepada Rasulullah.

Contoh pertanyaannya yang diajukan kepada Nabi ialah ketika terdapat satu firman Allah yang berbunyi dalam Q.S. Al-Mu’minun [23]: 60 berikut:

Baca Juga:  Merebut Tafsir: Feminiskah Aisyah?

وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ

Artinya: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.”

Dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 7, halaman 179 disebutkan bahwa Aisyah tidak memahami bagaimana maksud ayat yang mengatakan “hati yang takut”. Maka dia bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, apakah yang takut kepada Allah itu orang-orang yang mencuri, berzina, dan meminum khamr?” Rasul pun menjawab, “Bukan, putri as-Shiddiq, justru mereka adalah orang-orang yang melaksanakan shalat, puasa, dan bersedekah.” 

Begitulah kebiasaannya, setiap mendapatkan ilmu dari setiap ayat Alquran yang turun, Aisyah selalu menggunakan logika kritisnya untuk membandingkan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya dan bertanya kepada Nabi. 

Contoh lain dari pertanyaan kritis Aisyah, karena menilai tidak sesuai dengan pemahamannya adalah suatu saat pernah mendengar sabda Rasulullah “Barangsiapa yang dihisab, maka dia akan siksa.” (HR. Bukhari no. 103)  Dia lalu berkata pada Nabi dengan membandingkan surah al-Insyiqaq ayat 8, “Bukankah Allah telah berfirman, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah?” Rasulullah menjawab, “Itu hanya iming-iming belaka. Sebenarnya barangsiapa diuji dengan hisab, maka dia akan binasa.” 

Aisyah adalah wanita cerdas yang mendengar sesuatu namun ia belum pahami kecuali menanyakan kembali sehingga dapat dimengerti olehnya, sekalipun kepada Rasulullah. Hatinya tidak akan tenang jika pertanyaannya belum terjawab. Baginya, setiap hal yang tersembunyi harus tersingkap dan diketahui. Jika ia menemukan kejanggalan atau kesulitan dalam memahami perkataan atau perbuatan Nabi, ia langsung menanyakan hal tersebut kepada Rasul, sebab Nabi Muhammad sendiri adalah subjek yang paling mengetahui maksud tindakan atau perkataannya Saw. 

Baca Juga:  Kisah Sayyidah Aisyah yang Berdiskusi dengan Perempuan Yahudi

Rasulullah bersabda,“Barangsiapa yang suka bertemu Allah, maka Allah-pun suka bertemu dengannya. Dan barang siapa yang tidak suka bertemu Allah, maka Allah-pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Muslim no. 2687). Mendengar hadis tersebut, Aisyah pun bertanya, “Wahai Nabi, tidakkah ada seorangpun yang ingin mati?” Pertanyaan semacam ini tidak akan ada jika bukan keluar dari lisan seorang yang kritis dan penuh rasa kepo, sebab rasa penasarannya terhadap ilmu ia berani melontarkan pertanyaan kepada Rasulullah. 

Sedangkan jarang sahabat yang melakukan sebagaimana yang dilakukan Aisyah atau mengajukan pertanyaan kritis, karena hal ini berkaitan dengan tingkat pemahaman dan pengetahuan bahasa Arab. Hal itu juga membuktikan bahwa dirinya memahami bahasa Arab dengan mendalam, serta keberanian dan kecerdasannya sehingga dapat mengajukan pertanyaan kepada Rasulullah yang walaupun sampai hal yang paling tabu sekalipun. 

Nabi Muhammad pun juga tidak pernah memasung sikap kritis yang dilontarkan Aisyah yang ingin mengetahui dan mendalami suatu masalah. Beliau tidak pernah mencegah seorang perempuan yang ingin berdebat dalam suatu masalah. Seperti dari pertanyaan Aisyah di atas, Nabi menjawab. “Tidak demikian maksudnya, namun seorang mukmin diberi kabar gembira dengan rahmat, ridha, dan surga-Nya maka diapun senang. Sedang orang kafir ketika diberitakan kepadanya azab Allah, maka mereka benci menemui-Nya dan Allah pun benci bertemu mereka.”

Banyak contoh lain dari penafsiran berbagai hal yang belum jelas dari Alquran dan hadis Nabi yang ditanyakan Aisyah untuk menyingkap hakikat dan inti maknanya. Dari semua itu sesungguhnya merupakan pelajaran yang didapat Aisyah dari lisan Rasulullah yang dirinya tidak pernah segan untuk bertanya, meskipun dalam situasi yang dikhawatirkan oleh Nabi atau sedang tidak wajar untuk ditanyai. Namun sebab kasih sayang Rasulullah, beliau tidak pernah merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan dan dialog yang dilontarkan oleh putri Abu Bakar ini. Bahkan Nabi Saw pernah memuji kekritisan Aisyah, “Mengajukan pertanyaan yang bagus merupakan setengah dari Ilmu.”

Baca Juga:  Kisah Aisyah yang Pernah Bertengkar dengan Rasulullah

Menjadi Aisyah di Zaman Ini

Sosok Aisyah yang menjadi pribadi yang cerdas dan berpendidikan, sebab jiwa kritisnya dan rasa hausnya terhadap ilmu dapat menjadi petunjuk, sumur kebaikan, dan berkah yang bisa di timba airnya oleh seluruh umat terutama kaum perempuan. Keuletan dan semangat belajar ala Sayyidah Aisyah juga memberikan pengertian kepada setiap muslimah, bahwa menjadi perempuan tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu, mengajukan pertanyaan dan memberikan kritik terhadap suatu ilmu.

Serta mereka bisa selalu menjadi Aisyah, sebagai rujukan ilmu sekalipun oleh sahabat, tabi’in, dan ulama yang laki-laki. Namun perlu digarisbawahi, hal itu perlu ada usahanya terlebih dahulu sebagaimana Aisyah yang menggunakan fitrah perasaan-perasaan yang dikaruniakan oleh Allah untuk membekali dirinya dalam menuntut ilmu. Sebagaimana ibu dari para ulama hebat terdahulu; Ibu dari Imam Syafi’i, Imam Bukhari, Imam Ghazali, dan ulama’ lainnya― jika perempuan di zaman ini turut memberikan perhatiannya dan menempatkan rasa keponya bukan pada hal-hal yang malah membawanya kepada mudharat, melainkan kepada kebaikan terutama dalam thalabul ilmi, dijamin mereka akan melahirkan generasi-generasi emas Islam.

Rekomendasi

Sayyidah Aisyah Sayyidah Aisyah

Belajar dari Fitnah yang Menimpa Sayyidah Aisyah  

doa terhindar dari keburukan doa terhindar dari keburukan

Doa yang Diajarkan Rasulullah kepada Aisyah agar Terhindar Keburukan

Aisyah Ketimpangan Gender Aisyah Ketimpangan Gender

Sayyidah Aisyah Kritisi Ketimpangan Gender dalam Hadis

rasulullah menikahi aisyah umur rasulullah menikahi aisyah umur

Benarkah Rasulullah Menikahi Aisyah di Bawah Umur?

Ditulis oleh

Khadimul 'Ilmi di Yayasan Taftazaniyah

Komentari

Komentari

Terbaru

Umrah dan Waktu Pelaksanaannya Umrah dan Waktu Pelaksanaannya

Pengertian Umrah dan Waktu Pelaksanaannya

Ibadah

Rohana Kudus: Jurnalis Perempuan Pertama di Indonesia

Muslimah Talk

Adab Menerima Hadiah Imam Ghazali Adab Menerima Hadiah Imam Ghazali

Adab Menerima Hadiah Menurut Imam Ghazali

Kajian

Perempuan haid membaca tahlil Perempuan haid membaca tahlil

Hukum Perempuan Haid Membaca Tahlil

Kajian

Pengertian air musta'mal Pengertian air musta'mal

Pengertian Air Musta’mal dan Hukumnya untuk Bersuci

Kajian

Biografi Ning Amiroh Alauddin Biografi Ning Amiroh Alauddin

Biografi Ning Amiroh Alauddin; Pendakwah Fikih Perempuan Melalui Media Sosial

Muslimah Talk

Hukum Perempuan Membaca Tahlil Hukum Perempuan Membaca Tahlil

Bagaimana Hukum Perempuan Membaca Tahlil?

Kajian

Nikah tanpa wali Nikah tanpa wali

Apa Konsekuensinya Jika Nikah Tanpa Wali?

Kajian

Trending

Doa keguguran Doa keguguran

Kehilangan Buah Hati Akibat Keguguran, Baca Doa yang Diajarkan Rasulullah Ini

Ibadah

masa iddah hadis keutamaan menikah masa iddah hadis keutamaan menikah

10 Hadis Tentang Keutamaan Menikah

Kajian

Tujuh Keutamaan Membaca Shalawat Tujuh Keutamaan Membaca Shalawat

Doa agar Terhindar dari Prasangka Buruk pada Allah

Ibadah

Mengenal Rufaidah al-Aslamiyah: Perawat Perempuan Pertama dalam Sejarah Islam

Muslimah Talk

Mandi junub dan haid Mandi junub dan haid

Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Ketika Mandi Wajib

Ibadah

Resensi Buku Pernah Tenggelam Resensi Buku Pernah Tenggelam

Resensi Buku Pernah Tenggelam: Halu Berlebihan Menenggelamkan Keimanan?

Diari

Shafiyah binti Huyay Teungku Fakinah Shafiyah binti Huyay Teungku Fakinah

Kisah Bulan Madu Rasul dengan Shafiyah binti Huyay

Muslimah Talk

muslimah mencukur habis rambutnya muslimah mencukur habis rambutnya

Bolehkah Muslimah Mencukur Habis Rambutnya?

Kajian

Connect