Ikuti Kami

Muslimah Talk

Pekerja Anak yang Mengeksploitasi Harus Dihapuskan

pekerja anak negatif dihapuskan
Gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Jika teliti memandang ke arah jalan, maka sadar atau tidak, ditemukan beberapa anak-anak yang mengamen di jam sekolah. Atau kalau berkenan, mungkin bisa sempatkan diri untuk bertandang ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang cukup besar. 

Tidak sedikit ditemukan anak-anak yang berbaur dengan orang dewasa. Meraih beberapa kaleng atau plastik yang memiliki nilai jual. Lalu dimasukkan ke dalam keranjang yang disandang sepanjang hari. Fenomena-fenomena ini sebagian menunjukkan para pekerja anak yang kadang-kadang mengeksploitasi dan sebaiknya harus dihapuskan.

Penulis sendiri punya pengalaman mengunjungi TPA di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Pada awalnya, kunjungan ini bertujuan sebagai upaya menuntaskan sebuah tugas tulisan. Namun berakhir dengan mengobrol bersama para pemulung dan pengepul sampah. 

Kala itu, penulis berkesempatan berbincang dengan satu keluarga yang berada di TPA tersebut. Setidaknya ada ibu, ayah, dan kedua anaknya. Sang ibu duduk mengawasi anaknya yang masih balita. Sedangkan ayah adalah pemulung, mengeruk sampah setiap harinya. 

Dan anak laki-laki satunya, masih berusia 15 tahun, mengikuti aktivitas sang ayah. Mengumpulkan botol plastik dan beberapa besi yang laku untuk dijual. Dari penjelasan sang ibu, sang anak sudah tidak bersekolah ketika masih duduk di sekolah dasar.

Kata sang ibu, keputusan diambil secara mandiri oleh sang anak karena tidak ingin membebankan orangtua. Biaya sekolah yang mahal membuat anak laki-laki itu ingin membantu perekonomian keluarga itu. Saya pun hanya mengangguk. Di negeri ini, mungkin banyak situasi seperti ini yang jarang diketahui. 

Sebagian anak terpaksa putus sekolah dan tidak dapat melanjutkan pendidikannya. Selain lingkungan, kondisi ekonomi keluarga menjadi faktor paling utama. Berdasarkan data dari riset Internasional Labour Organization (ILO), pada tahun 2021 diperkirakan jika pada setiap 10 anak, satu di antaranya adalah pekerja anak. 

Baca Juga:  Eksploitasi Raja Ampat: Islam Melarang Perilaku Merusak Alam

Dilansir dari Tribunnews.com, Programmer Officer ILO, Irham Ali Saifuddin menyebutkan jika sekitar 79 juta pekerja anak, bekerja dalam kondisi yang cukup membahayakan. 

Di sisi lain,  disebutkan jika sekitar 112 juta pekerja anak di dunia bekerja di sektor pertanian. Dan sekitar 83 persen pekerja anak berada dalam pekerjaan domestik di rumah tangga. Yang mengejutkan adalah dalam rentang waktu 2016-2020, pekerja anak meningkat sebanyak 8,9 juta pada usia anak 5-11 tahun. 

Lantas apa itu pekerja anak? Memang tidak semua kegiatan yang dilakukan anak atau anak yang bekerja mengarah pada hal yang negatif. Selagi tidak memengaruhi tumbuh kembang, mengancam keselamatan dan mengganggu pendidikan, maka disebut pekerja yang positif. 

Misalnya, membantu pekerjaan di dalam rumah usia belajar atau sekolah. Menolong usaha keluarga di luar jam sekolah. Atau mencari tambahan uang saku untuk membeli mainan dan dilakukan di jam sekolah. Sehingga tidak mengganggu pendidikan. 

Namun, jenis pekerja anak yang ingin dihapuskan oleh dunia adalah yang mencabut masa kecil anak, membuat pertumbuhan fisik dan psikis anak terhambat, serta mengharuskan mereka untuk meninggalkan sekolah. Selain itu pekerja anak harus dihapuskan jika berada di sektor-sektor yang berbahaya, tidak sesuai dengan umurnya. 

Dunia sendiri saat ini sedang berusaha untuk menghapuskan pekerja anak. Mengingat banyak dampak tidak baik yang dirasakan oleh anak. Kenapa? Karena setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, serta kehidupan aman dan nyaman. 

Sebagai orang dewasa, sudah semestinya memberikan perlindungan kepada anak-anak. Anak-anak perlu dijamin mendapatkan kasih sayang, di tengah keluarga yang menghadirkan mereka. 

Di Indonesia sendiri, telah memiliki regulasi yang mengatur hak-hak anak. Hal ini tercantum di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. 

Baca Juga:  UU TPKS Telah Sah, Apa Saja yang Diperjuangkan?

Secara garis besar, di dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 ini disebutkan jika setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan, perlindungan dari kekerasan dan kejahatan seksual. 

Serta mendapat pengasuhan dan pemeliharaan oleh orangtua dalam proses tumbuh kembang. Dan negara, punya kewajiban untuk memastikan regulasi ini dapat berjalan dengan semestinya. 

Islam pun mengharuskan setiap orangtua memberikan hak anak-anaknya, sesuai dari kadar kemampuan ayah dan ibu. Hal ini bahkan tercantum rinci di dalam Al-Quran Q.S Al-Baqarah ayat 233.

۞ وَٱلْوَٰلِدَٰتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَٰدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى ٱلْمَوْلُودِ لَهُۥ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِٱلْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةٌۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦ ۚ وَعَلَى ٱلْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُوٓا۟ أَوْلَٰدَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّآ ءَاتَيْتُم بِٱلْمَعْرُوفِ ۗ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ 

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Baca Juga:  Parenting Islami : Ini 14 Karakter Anak yang Perlu Diketahui Orangtua

Menurut Tafsir Al-Madinah Al Munawwarah dari Markas Ta’dzhim di bawah pengawasan Syaikh Prof Dr Imad Zuhair Hafiz, yaitu profesor dari Fakultas Al-Quran Universitas Muhammadiyah menyebutkan, ayat ini berkenaan dengan kewajiban kedua orangtua memberikan hak anaknya, meski keduanya telah bercerai. 

Ibu diharuskan menyusui sang anak selama dua tahun. Dan para ayah wajib memberikan nafkah dengan memastikan keduanya mendapatkan makanan dan pakaian tanpa kekurangan apa pun. 

Oleh karena itu dapat disimpulkan jika pekerja anak yang mengarah pada hal negatif sudah saatnya harus dihapuskan. Hak-hak anak sudah ada di dalam undang-undang kita. Dan hak anak juga sudah tercantum jelas di dalam Al-Quran.

 

Rekomendasi

sikap rasulullah perempuan yahudi sikap rasulullah perempuan yahudi

Lima Peran Publik Perempuan yang Sering Terabaikan

catholicnewsagency.com catholicnewsagency.com

Pandangan Paus Fransiskus tentang Anak-Anak

peran perempuan domestik islam peran perempuan domestik islam

Peran Perempuan di Ranah Domestik Bernilai dalam Islam

Benarkah Istri Sebenarnya Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga? Benarkah Istri Sebenarnya Tidak Wajib Mengerjakan Pekerjaan Rumah Tangga?

Tidak Hanya Istri, Pekerjaan Domestik Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Ditulis oleh

Melayu udik yang berniat jadi abadi. Pernah berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Jurnalistik (2014), aktif di LPM Institut (2017), dan Reporter Watchdoc (2019). Baca juga karya Aisyah lainnya di Wattpad @Desstre dan Blog pribadi https://tulisanaisyahnursyamsi.blogspot.com

4 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beberapa Kesunahan 10 Muharram Beberapa Kesunahan 10 Muharram

Tiga Hal yang Harus Diperhatikan Perempuan Haid

Ibadah

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Green Islam Sebagai Gerakan Melawan Krisis Iklim

Muslimah Talk

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero: Ketika Orang Dewasa Menyembunyikan Luka Masa Kecil

buku

Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin Doa yang Dipanjatkan Fatimah az-Zahra pada Hari Senin

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalat?

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45 Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Empat Syarat Salat untuk Penyucian Jiwa dalam Tafsir QS. Al-Ankabut Ayat 45

Kajian

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Hukum Belajar Tentang Haid, Nifas, dan Istihadhah

Ibadah

Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis Doa Mendengar Azan KeutamaannyaHari Kamis

Tiga Doa dalam Al-Qur’an yang Bisa Mendekatkan Jodoh

Ibadah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Shafiyah binti Huyay Shafiyah binti Huyay

Asiyah binti Muzahim: Istri Firaun yang Dijamin Masuk Surga Oleh Allah

Muslimah Talk

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

keringat perempuan haid najis keringat perempuan haid najis

Benarkah Perempuan Sumber Persoalan Bagi Laki-laki?

Kajian

Connect