BincangMuslimah.Com – Memasuki minggu kedua bulan Ramadan, undangan buka bersama alias bukber mulai berdatangan di grup-grup WhatsApp. Sebagian berasal dari grup kantor, komunitas, hingga alumni sekolah.
Agar momentum bukber tetap menjadi ajang silaturahmi yang bermakna, ada beberapa hal yang sering luput dari perhatian. Supaya esensinya tetap berada di jalur spiritual dan sekaligus peduli lingkungan, berikut beberapa etika buka puasa yang perlu diperhatikan.
Menjaga Lisan dari Ghibah
Mencari topik obrolan memang penting agar suasana pertemuan terasa hidup. Namun, tak jarang bukber yang seharusnya diisi dengan pembicaraan baik justru berubah menjadi ajang menggunjing atau ghibah.
Ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita saat ia tidak hadir, sesuatu yang benar adanya tetapi tidak ia sukai. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 12, Allah Swt. menegaskan bahwa menggunjing diibaratkan seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Daripada terjebak dalam ghibah, alangkah baiknya perkumpulan berbuka puasa diisi dengan kegiatan lain, seperti diskusi akademik, pengajian, maupun pembacaan Alquran bersama. Dengan begitu, bukber tak hanya ajang bersilaturahmi, tetapi juga ajang berbagi pengetahuan, dan ladang pahala.
Tidak Melalaikan Salat
Kewajiban salat Magrib sering kali menjadi “korban” karena asyik berbincang Padahal, waktu Maghrib sangat singkat dan tidak gugur hanya karena alasan silaturahmi.
Jika memungkinkan, salat berjamaah di lokasi bisa menjadi opsi terbaik. Sedangkan Isya dan Tarawih dapat dilakukan setibanya di rumah jika tidak sempat berjamaah. Dengan kata lain, bukber bukanlah dalih lalai dari kewajiban utama kepada Allah.
Makan Secukupnya, Tidak Berlebihan (Tabzir)
Berbuka puasa memang momen yang dinanti. Tak jarang, saat memilih takjil dan menu utama, semua terasa ingin dicoba. Akhirnya, piring terisi penuh bahkan berlebihan.
Namun kenyataannya, sering kali beberapa butir kurma dan segelas minuman manis saja sudah cukup mengembalikan energi. Sisanya berakhir tersisa di piring, bahkan terbuang ke tempat sampah. Padahal Allah telah memperingatkan bahwa perbuatan tabdzir adalah perbuatan setan dalam QS. Al-Isra ayat 27,
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا ٢٧i
Artinya: Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.
Begitu juga ketika buka bersama. Makanan yang diambil sebaiknya ditakar sejak awal, seberapa banyak bisa makan. Jika memungkinkan untuk mengambil satu per satu makanan, tidak sekaligus, untuk menghindari makanan terbuang sia-sia.
Memanfaatkan Sisa Makanan
Jika terlanjur mengambil makanan berlebih, salah satu solusi sederhana adalah membawanya pulang untuk sahur atau berbuka di hari berikutnya. Membawa kotak makan (lunch box) kecil bisa menjadi langkah preventif. Ini terutama relevan ketika bukber disajikan dalam bentuk prasmanan (buffet), di mana berbagai hidangan menggoda untuk dicicipi. Sering kali, baru beberapa sendok, perut sudah terasa kenyang sementara makanan masih menumpuk di piring.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, buka bersama akan terasa lebih bermakna. Selain menjadi ajang silaturahmi, bukber juga menjadi wasilah peningkatan takwa, berbagi ilmu, dan aksi sebagai cinta bumi melalui gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Rekomendasi