Bincangmuslimah.com—Di kampung-kampung mayoritas muslim, kita saksikan ada banyak sekali ragam tradisi penyambutan Ramadan. Ada tradisi nyadran atau ziarah kubur misalnya. Lalu, masyarakat mulai gotong-royong membersihkan masjid dan mushalla. Toa musholla pun melantunkan pujian khas doa-doa menjelang Ramadan. Tradisi-tradisi inilah yang biasanya menggugah rasa syukur, terharu, dan bahagia kita akan kedatangan Ramadan.
Akan tetapi, sangat disayangkan apabila rasa gembira itu muncul sebatas sebagai reaksi kerinduan atas tradisi-tradisi tersebut, dan bukan karena benar-benar memahami esensi dari bulan Ramadan sendiri. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Rasulullah menyebut Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah; pintu-pintu surga akan dibuka sedangkan pintu-pintu neraka akan ditutup rapat, yang secara eksplisit memberikan anjuran umat muslim untuk berbahagia menyambut bulan mulia ini. Perasaan bahagia ini alangkah baiknya jika timbul atas dasar pemahaman kita tentang apa itu Ramadan, barulah akan tumbuh rasa gembira dan bahagia secara perlahan di hati kita.
Maka, Apa Saja yang Perlu kita Tahu Tentang Ramadan?
Pertama, Ramadan dipilih oleh Allah, Tuhan alam semesta, sebagai waktu Alquran diturunkan. Yaitu waktu dimana Tuhan menyampaikan kalam-Nya kepada hamba-Nya. Kalam itu adalah pesan mulia Tuhan yang menuntun hamba-hamba menjalani kebaikan, mengejar kebahagiaan, serta menghindar diri dari kesengsaraan dan kerugian selama hidup. Bahkan, saking istimewanya Alquran, Rumi menyebutnya sebagai surat cinta Tuhan untuk hamba-Nya. Tuhan bisa saja mendiamkan kita, manusia. Akan tetapi Tuhan Maha Rahim, Tuhan tahu tanpa kalam-Nya kita akan “tersesat” selama hidup, maka Tuhan tunjukkan kasihnya dengan kalam puitis yang disampaikan di bulan Ramadan.
Saya ingin memberi perumpamaan. Kamu punya seorang kekasih. Setiap hari atau bahkan setiap detik kamu akan menunggu dering pesan dari dia. Saat sedang tidak berbalas pesan, hati kamu pun menggerakkan tanganmu untuk membuka lagi pesan lama darinya. Bukan hanya perkara pesan, tempat yang pernah kamu singgahi bersama dia, juga menjadi tempat paling istimewa dibanding tempat lainnya. Pokoknya, semua hal yang berhubungan dengan kekasihmu jadi istimewa dan membuat hatimu berdebar-debar. Ya, kan?
Bayangkan, jika dengan kekasih saja bisa begitu, bukankah kepada Pencipta kamu bisa merasakan hal yang lebih mendebarkan? Padahal Dia Maha Dekat, sedekat kita dengan urat nadi kita sendiri.
Untuk itu, mari kita rasakan. Menyambut Ramadan berarti merayakan hari spesial saat Tuhan mengirim surat cinta ke kita, umat manusia. Surat cinta yang kata demi katanya tersusun indah hingga membahagiakan pembacanya, surat cinta yang seluruh isinya berisi kebenaran dan kebaikan, dan surat cinta yang tidak ada satu huruf pun tertulis dengan sia-sia. Jika demikian, wajar bukan, jika semua hal yang berkaitan dengan Alquran menjadi istimewa?
Kedua, dalam bulan Ramadan ada ibadah mulia yang Allah sandarkan langsung kepada diri-Nya, tidak seperti ibadah yang lain. Ia adalah ibadah puasa. Sebuah hadits qudsi menerangkan, “Setiap amalan manusia adalah untuknya, kecuali puasa. Sebab ia hanya untuk-Ku (Allah) dan Akulah yang mengganjarnya langsung.”
Sebagian ulama menafsirkan ibadah puasa adalah ibadah spesial yang menunjukkan keterikatan hamba dengan Tuhan, sebab saat menjalankan puasa tidak ada celah bagi manusia untuk riya’. Ibadah puasa dilakukan dengan menahan diri, baik dari makan dan minum, hubungan seksual, maupun amal-amal keburukan hati, yang mana jika dikerjakan tidak nampak oleh orang lain. Berbeda dengan ibadah sholat misalnya, ketika dikerjakan, ada celah riya’ bagi yang sholat karena ibadahnya terlihat oleh orang yang lain.
Maka, menjalankan ibadah puasa menunjukkan ketulusan hati seorang hamba dalam upaya mendekati Allah. Yang bisa memastikan seseorang mengerjakan puasa atau tidak, hanya Allah dan diri sendiri. Hamba yang tidak benar-benar tulus menghamba, bisa saja berpura-pura puasa di depan orang. Spesialnya lagi, ibadah puasa ini hanya diwajibkan di bulan yang spesial juga, yaitu bulan Ramadan. Untuk itu, kita seyogianya merasa gembira karena mendapat kesempatan untuk menjalankan ibadah mulia puasa di bulan yang istimewa juga.
Menghidupkan Kebiasaan Kompak dalam Beribadah
Ketiga, kekompakan umat muslim dalam beribadah selama bulan Ramadan membangkitkan semangat setiap individu muslim untuk mengejar kebaikan. Dalam bulan Ramadan, ada ibadah tarawih, zakat, sahur, dan lain-lain yang hanya bisa dilakukan selama Ramadan. Selain itu, setiap kebaikan yang kita lakukan selama bulan ini akan diganjar berkali-kali lipat oleh Allah. Ada juga malam lailatul qadr, malam seribu bulan. Dengan iming-iming ini, muslim di seluruh dunia sepakat untuk memperbanyak kebaikan selama Ramadan.
Lantas, ketika umat muslim kompak menghidupkan kebaikan selama sebulan penuh, perilaku ini perlahan-lahan akan menjadi tabiat yang menetap pada diri setiap muslim untuk terus menumbuhkan kebaikan, di mana pun dan kapan pun. Selain itu kita tahu, sesuatu yang dilakukan bersama-sama terasa lebih asik dan menyenangkan, ketimbang dilakukan sendirian. Kita yang awalnya malas berolahraga, bisa jadi semangat jika dilakukan beramai-ramai dengan teman, misalnya. Maka, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak semangat dalam menghidupkan bulan Ramadan nanti.
Saya kira, tiga hal tentang Ramadan ini sudah cukup untuk menjadi bahan renungan kita menjelang bulan Ramadan. Bahwa Ramadan adalah bulan yang spesial bagi muslim sedunia, bulan di mana Tuhan mengirimkan surat cintanya ke kita, bulan di mana Tuhan ingin melihat ketulusan hamba-Nya lewat ibadah puasa, dan bulan di mana umat muslim sedunia kompak berlomba-lomba memperbanyak kebaikan. Semoga saja kita sampai di bulan Ramadan nanti.
Rekomendasi