Ikuti Kami

Kajian

Propaganda Lewat Media Sosial: Cara ISIS Rekrut Jihadis Muda

ISIS Rekrut Jihadis Muda
Source: Gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Ada yang masih ingat kasus pengeboman salah satu Gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan? Ya, kasus tersebut melibatkan ‘jihadis muda’ kelahiran 1995 yang bernama Lukman sebagai pelakunya. Lukman bersama istrinya berusaha memasuki gereja sebelum meledakan diri, ada sekitar 20 korban yang luka-luka akibat kejadian tersebut. Kedua pelaku tersebut diduga berasal dari kelompok Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, yang dimana kelompok ini berafiliasi dengan kelompok gerakan ‘Negara Islam’ atau ISIS. Dan sejak 5 tahun yang lalu, gerakan ISIS ini memang menyasar kelompok pemuda. ISIS melakukan rekrut jihadis muda salah satunya melalui media sosial.

Tepatnya yang mereka sasar adalah kelompok pemuda yang secara pengetahuan agama masih ‘kosong’ serta aktif bermain media sosial, karena lewat media sosial mereka akan menyebarkan paham mengenai makna jihad dan mati syahid menuju surga. Tentunya dengan iming-iming ‘jaminan surga’ akan membuat kelompok pemuda masuk ke perangkatnya. Lukman ternyata bukan satu-satunya jihadis muda yang terlibat dalam aksi terorisme, berdasarkan hasil laporan yang dikumpulkan oleh BNPT menyebutkan banyak sekali pemuda yang terlibat dalam aksi terorisme sepanjang tahun 2009 hingga 2021. 

Pada 2009, dua pemuda bernama Nana Ikhwan Maulana (28 tahun) dan Dani Dwi Permana (18 tahun) menjadi pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton. Pada 2016, Sultan Azianzah (22 tahun) melakukan penyerangan di pos lalu lintas Cikokol yang melukai beberapa anggota kepolisian. Selang dua tahun, pada Mei 2018, seorang pemuda 23 tahun bernama Tendi melakukan penusukan kepada Bripka Frence. Pada September 2019, pelakunya bernama Rabbial Muslim Nasution (24 tahun) meledakkan diri di markas Polrestabes Medan, disusul dengan aksi lone-wolf, Zakiah Aini (25 tahun) menyerang Mabes Polri pada 31 Maret 2021.

Baca Juga:  Gus Baha: Berbakti kepada Orangtua Itu Jihad

Mengapa Kelompok Pemuda Rentan Terlibat Aksi Terorisme?

Pelibatan kelompok muda dalam aksi terorisme bukanlah tanpa alasan. ISIS melihat ada rasa yang berbeda dalam diri ‘pemuda’ yang tidak dimiliki oleh kelompok. Berdasarkan laporan dari United States Institute of Peace pada tahun 2010, menyebutkan bahwa ada 4 alasan mengapa pemuda ingin bergabung dengan kelompok teroris. Pertama, pemuda sebagai the revenge seeker atau pencari balas dendam, di mana pemuda seringkali merasa bahwa ada kekuatan eksternal yang menyebabkan ketidakbahagiaan dan membuatnya sulit untuk berhasil yang memunculkan kemarahan dan frustasi. Sehingga mereka rentan terpenetrasi propaganda-propaganda yang menyebutkan Barat sebagai “musuh bersama” yang kemudian menjadi media bagi mereka untuk melampiaskan kemarahan tersebut.

Kedua, pemuda sebagai the status seeker atau pencari status sosial, di mana kelompok serta aksi-aksi ekstremisme digunakan sebagai media untuk mencari rekognisi atau pengakuan atas status sosial tertentu. Ketiga, pemuda sebagai the identity seeker atau pencari identitas, berkaitan dengan kebutuhan untuk pembentukan serta pendefinisian diri dengan identitas kelompok yang kuat. Maka mereka bergabung bersama kelompok ekstremisme yang menawarkan batas-batas yang kuat akan memberikan mereka rasa kepastian. Keempat, pemuda sebagai the thrill seeker atau pencari sensasi kesenangan, yang melihat kelompok ekstremisme kekerasan sebagai medan petualangan yang menantang. Ini berkaitan dengan rasa ingin tahu serta pembuktian akan “kejantanan” yang seringkali dirasakan oleh sebagian pemuda.

Cara ISIS Rekrut Jihadis Muda Melalui Media Sosial

Perkembangan teknologi informasi salah satunya media sosial, alih-alih memberikan kontribusi besar terhadap ISIS untuk menyebarkan ideologi dan merekrut anggota dari seluruh dunia. Jika dulu pengrekrutan anggota ISIS dilakukan secara tertutup dengan pembaiatan langsung, namun sekarang pengrekrutan dilakukan melalui website dan media sosial, bahkan pembaiatan dilakukan secara daring. Berdasarkan informasi dari salah satu artikel Kompas.com, menyatakan bahwa tujuh dari 13 kasus teror lone wolf di Indonesia, pelakunya terpapar paham radikal melalui sosial media/internet, dan tanpa bergabung langsung dengan kelompok atau organisasi terorisme. 

Baca Juga:  Pentingnya Pendampingan Orang Tua Pada Anak dalam Bermedia Sosial

Tujuh pelaku serangan teror lone-wolf tersebut, yaitu SA (2016), IAH (2016), MID (2017), GOH (2018), IM (2019), Ron, (2019), Abd (2020) dan ZA (2021) diketahui terpapar secara mandiri (swa-radikalisasi) dengan mengakses konten-konten dari akun media sosial kelompok radikal transnasional. Mantan anggota keamanan nasional Amerika Serikat, Hillary Mann Leverett, pada Februari 2015 menyebut ISIS menggunakan setiap platform media sosial yang ada untuk melancarkan propaganda dan merekrut anggota baru. ISIS setiap harinya mengirimkan 90.000 pesan digital di akun media sosial mereka. 

Umumnya kelompok ISIS melakukan propaganda lewat meme, cuitan, tagar, ataupun cerita melalui blog pribadi yang berhubungan dengan jihad ataupun kekhalifahan secara perorangan yang disebarkan melalui platform media online seperti Twitter, Facebook, Tumblr, Youtube dan World Wide Web. Selanjutnya terdapat dua strategi propaganda yang dilakukan oleh ISIS, yaitu propaganda yang bersifat persuasif (Persuasif Propaganda) dan bersifat koersif (Coercive Propaganda). 

Propaganda Koersif dilakukan dengan cara memberikan ancaman dan kekerasan sehingga menimbulkan rasa takut dan rasa terancam yang mengakibatkan target mau melakukan apapun. Sedangkan propaganda persuasif adalah metode yang lebih bersifat ajakan dengan penyampaian pesan-pesan yang menimbulkan rasa tertarik sehingga target propaganda senang dan rela melakukan sesuatu. Propaganda persuasif ini berhasil merekrut hingga tahap akhir. Hal tersebut karena mereka menjual konsep Islam Utopia, gagasan islam khilafah yang sangat destruktif namun digambarkan dengan sangat sempurna, dimana menggambarkan negara Islam sebagai kekhalifahan yang ideal dengan layanan sosial berkualitas tinggi serta penghormatan tinggi terhadap keadilan.

*Tulisan ini ditulis oleh Hoerunisa dari Puan Menulis.

Rekomendasi

Berbakti kepada Orangtua Jihad Berbakti kepada Orangtua Jihad

Gus Baha: Berbakti kepada Orangtua Itu Jihad

Child Grooming Child Grooming

Child Grooming Mengintai di Sosial Media; Orangtua Harus Ambil Peran

Berdoa, Cara Muslim Menyikapi Konflik Palestina-Israel Berdoa, Cara Muslim Menyikapi Konflik Palestina-Israel

Berdoa, Cara Muslim Menyikapi Konflik Palestina-Israel

boros pamer media sosial boros pamer media sosial

Hukum Boros dan Pamer di Media Sosial

Ditulis oleh

Redaksi bincangmuslimah.com

Komentari

Komentari

Terbaru

gigi palsu dicabut wafat gigi palsu dicabut wafat

Haruskah Gigi Palsu Dicabut Setelah Seseorang Wafat?

Kajian

rasulullah terbuka sahabat muda rasulullah terbuka sahabat muda

Kisah Rasulullah yang Terbuka Menerima Pendapat Sahabat Muda

Khazanah

veve zulfikar keturunan rasulullah veve zulfikar keturunan rasulullah

Veve Zulfikar, Pelantun Sholawat dari Kalangan Keturunan Rasulullah

Khazanah

Zakiah Daradjat Ulama Perempuan Zakiah Daradjat Ulama Perempuan

Zakiah Daradjat: Ulama Perempuan Pelopor Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum

Khazanah

keutamaan haji hadis rasulullah keutamaan haji hadis rasulullah

Tujuh Keutamaan Ibadah Haji dalam Hadis Rasulullah

Kajian

sikap rasulullah penderita kusta sikap rasulullah penderita kusta

Marak Diskriminasi pada ODHA, Tiru Sikap Rasulullah terhadap Penderita Kusta

Khazanah

keistimewaan umat nabi muhammad keistimewaan umat nabi muhammad

Delapan Keistimewaan Umat Nabi Muhammad

Kajian

Mencintai Saudara Sesama Muslim Mencintai Saudara Sesama Muslim

Pelajaran dari Kaum Anshar: Mencintai Saudara Sesama Muslim

Khazanah

Trending

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Tafsir Al-Baqarah 187: Kiat Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga menurut Islam

Kajian

Empat Karakteristik Kebudayaan Islam yang Dibawa Rasulullah

Kajian

perempuan titik nol arab perempuan titik nol arab

Resensi Novel Perempuan di Titik Nol Karya Nawal el-Saadawi

Diari

Yoga gerakan ibadah hindu Yoga gerakan ibadah hindu

Yoga Dianggap Menyerupai Gerakan Ibadah Hindu, Haramkah Menurut Islam?

Kajian

malaikat melaknat istri menolak malaikat melaknat istri menolak

Benarkah Malaikat Melaknat Istri yang Menolak Ajakan Suami untuk Berhubungan Badan?

Kajian

alasan fatimah julukan az-zahra alasan fatimah julukan az-zahra

Sayyidah Sukainah binti Al-Husain: Cicit Rasulullah, Sang Kritikus Sastra

Kajian

Sayyidah Aisyah Sayyidah Aisyah

Belajar dari Fitnah yang Menimpa Sayyidah Aisyah  

Muslimah Daily

Makna Tawakkal atau Berserah Diri kepada Allah

Ibadah

Connect