Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Bisakah Menganalogikan Pacaran Sebagai Ta’aruf?

toxic relationship
gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Pacaran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata pacar yaitu teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan batin yang biasanya untuk menjadi tunangan atau kekasih. Jika melihat pengertian ini dan melihat perkembangan Fikih dari masa ke masa yang mengikuti peristiwa yang terjadi di masyarakat, bisakah kita menganalogikan pacaran sebagai ta’aruf?

Ta’aruf merupakan proses yang perlu dilakukan sebelum meminang seseorang. Sementara meminang menurut Wahbah Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami, berarti menunjukkan keinginan untuk menikah dengan seseorang perempuan tertentu dengan memberitahukan kepadanya atau kepada walinya atau dalam Fikih Islam dikenal dengan al-Khitbah.

Dalam hadis, Rasulullah bersabda:

عن جابر بن عبد الله قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا خطب أحدكم المرأة فإن استطاع أن ينظر منها إلى يدعوه إلى نكاهما فليفعل

Dari Sahabat Jabir bin Abdullah, Rasulullah Saw bersabda, “Jika seseorang dari kalian meminang seorang perempuan, jika ia bisa melihat sebagian apa yang menarik untuk menikahinya, hendaklah dia lakukan.” (HR. Abu Dawud & Ahmad).

Menurut Prof Huzaemah T Yanggo dalam buku Problematika Fikih Kontemporer, nazhara merupakan salah satu konsep dalam ta’aruf. Nazhara artinya melihat dari dekat yang dilakukan oleh calon pasangan dalam batas kesopanan dalam rangka menuju pernikahan. Ta’aruf  dalam ilmu fiqih lebih diartikan sebagai proses saling mengenal kepribadian masing-masing calon suami-istri menurut cara yang sebaik-baiknya. Kedua hal ini dilakukan agar seseorang bisa mengetahui kelebihan, kekurangan serta memahami keadaan pasangan dan mengenal suasana hati sang calon.

Maka dalam hal ini, sebagai salah satu proses yang harus dilalui sebelum meminang, ta’aruf bisa saja dianalogikan sebagai pacaran. Dalam artian, proses mengenal antara laki-laki dan perempuan. Tentu bukan pacaran yang diartikan sebagai pergaulan bebas yang mendekati zina sebab hal itu tentu saja dilarang.

Sebenarnya melihat perempuan yang bukan mahram dalam hukum asal Islam adalah haram, dibolehkan hanya jika ada hajat atau keadaan darurat. Sementara di zaman sekarang, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, mempengaruhi perempuan melibatkan diri dalam lingkungan sosial. Seperti pergaulan sosial laki-laki dan perempuan di kantor dan sekolah. Mereka saling bertukar pendapat dalam rapat atau konferensi sebab diperlukan (hajat). Maka dalam hal ini apakah masih perlu berpegang pada hukum asal dalam hal melihat tunangan?

Masih menurut Prof Huzaemah, untuk menjawab pertanyaan ini lebih baik mengambil langkah penyelesaian yang tidak terlalu ekstrim dan tidak terlalu mudah. Seperti melihat calon didampingi dengan orangtua, saudara, teman atau di tempat umum yang banyak orang. Waktu melihat dan mengenal ini dilakukan sebelum proses meminang. Sementara yang boleh dilihat adalah wajah dan telapak tangan menurut mayoritas ulama.

Penganalogian pacaran sebagai ta’aruf hanya jika sang laki-laki serius bertujuan untuk meminang. Yang mana sebagai calon suami perlu melihat dari dekat calon istrinya dan sebaliknya yang tujuannya untuk saling mengenal. Sehingga mereka bisa saling mengadakan evaluasi seperlunya untuk melihat apakah terdapat ketertarikan dan kecocokan di antara keduanya. Agar pernikahan terlaksanakan atas keridhaan keduanya. Inilah tujuan pacaran yang dibenarkan dalam Islam.

Jadi jika memang pacaran hanya dilakukan untuk coba-coba atau tidak ada keseriusan atau niatan untuk melangkah ke jenjang pernikahan apalagi jika pacaran hanya diisi dengan hang-out bersama tentu pacaran dalam pengertian ini bukan yang dimaksudkan dalam artikel ini.

Rekomendasi

tipe laki-laki tipe laki-laki

Hukum Menikahi Anak Tiri Menurut Islam

istri berkata kasar istri berkata kasar

Istri Berkata Kasar Kepada Suaminya, Bagaimana Hukumnya Menurut Islam?

Marital Rape ada mitos Marital Rape ada mitos

Marital Rape, Ada atau Hanya Mitos?

dengan menggunakan metode perhitungan yang mereka yakini. Salah satunya dengan memilih untuk melaksanakan pernikahan di bulan Dzulhijjah dengan menggunakan metode perhitungan yang mereka yakini. Salah satunya dengan memilih untuk melaksanakan pernikahan di bulan Dzulhijjah

Benarkah Dianjurkan Melaksanakan Pernikahan di Bulan Dzulhijjah?

Neneng Maghfiro
Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Peneliti el-Bukhari Institute

1 Komentar

1 Comment

    Komentari

    Terbaru

    Keistimewaan Mengasuh Anak Perempuan Keistimewaan Mengasuh Anak Perempuan

    Keistimewaan Mengasuh Anak Perempuan

    Keluarga

    jilbab hijab kerudung bahasa jilbab hijab kerudung bahasa

    Apa Bedanya Jilbab, Hijab, dan Kerudung, dalam Kajian Bahasa?

    Kajian

    bercerai masih satu rumah bercerai masih satu rumah

    Sudah Bercerai Tapi Masih Satu Rumah, Bagaimana Hukumnya?

    Keluarga

    Ini Syarat Qira’ah Sab’ah Bisa Dijadikan Hujjah dan Diamalkan

    Kajian

    karakter perempuan yang harus diperhatikan perempuan haid karakter perempuan yang harus diperhatikan perempuan haid

    Ini Lima Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram

    Ibadah

    tipe laki-laki tipe laki-laki

    Hukum Menikahi Anak Tiri Menurut Islam

    Kajian

    Tradisi Tengka Tradisi Tengka

    Nyai, Sebutan Bagi Ulama Perempuan Penjaga Tradisi Tengka Di Madura

    Kajian

    Amplop” Hadiah Pernikahan Amplop” Hadiah Pernikahan

    “Amplop” Hadiah Pernikahan, Bagaimana Hukumnya? Ini Kata Buya Yahya

    Ibadah

    Trending

    Doa Akhir Tahun Menurut Doa Akhir Tahun Menurut

    Keutamaan Membaca Dzikir di Awal Sepuluh Dzulhijjah

    Ibadah

    Doa Akhir Tahun Menurut Doa Akhir Tahun Menurut

    Zikir yang Dibaca pada Hari Arafah dan Keutamaannya

    Ibadah

    Nur Rofiah Penggagas gender Nur Rofiah Penggagas gender

    Dr. Nur Rofiah: Penggagas Keadilan Gender Perspektif Alquran

    Muslimah Daily

    Mengqadha Puasa hari arafah Mengqadha Puasa hari arafah

    Pengertian Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah Serta Niat Melaksanakannya

    Ibadah

    berkurban hewan yang pincang berkurban hewan yang pincang

    Bolehkah Berkurban dengan Hewan yang Pincang?

    Kajian

    Takbir Idul Fitri adha Takbir Idul Fitri adha

    Perbedaan Takbir Idul Fitri dan Idul Adha

    Kajian

    kalimat pada anak doa kalimat pada anak doa

    Berhati-hatilah Melontarkan Kalimat pada Anak, Bisa Jadi Doa

    Keluarga

    Marital Rape ada mitos Marital Rape ada mitos

    Marital Rape, Ada atau Hanya Mitos?

    Muslimah Talk

    Connect