Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Belajar Critical Thinking dari Sayyidah Aisyah

BincangMuslimah.Com – Selama ini Aisyah dikenal sebagai istri nabi yang memiliki gelar ibu orang-orang mukmin karena telah meriwayatkan banyak hadis. Kisah rumah tangga Aisyah dan Rasulullah pun membawa citra Aisyah sebagai sosok perempuan yang romantis. Namun di balik itu semua, bagi sarjana perempuan Maroko, Fatema Mernissi, Aisyah merupakan sosok teladan utama dalam mengkritisi ketimpangan gender dalam narasi hadis yang diriwayatkan para sahabat.

Di mata Mernissi, sikap Aisyah menjadi contoh bagi spirit kritik dalam Islam. Sikap Aisyah juga dipandang sebagai pesan orisinil agama untuk pemberdayaan perempuan. Mernissi setidaknya merekam dua narasi hadis yang dikritisi Aisyah yang tercantum dalam Women and Islam: An Historical and Theological Enquiry.

Pertama, Aisyah mengkritisi narasi hadis dari Abu Hurairah yang berbunyi “Seorang perempuan masuk neraka karena ia membiarkan kucing betina kecil kehausan”. Lalu, Aisyah mengkritiknya, “Masa sih, Tuhan menghukum seseorang karena seekor kucing? Abu Hurairah, lain kali Anda meriwayatkan hadis Nabi, hati-hati!”

Menurut Aisyah, Abu Hurairah merupakan pendengar dan periwayat yang kurang cakap. Abu Hurairah memasuki rumah ketika Rasulullah berbicara di tengah-tengah kalimatnya. Abu Hurairah hanya sempat mendengar bagian akhir dari kalimat Rasulullah. Koreksi Aisyah terhadap Abu Hurairah yang dijadikan dasar oleh Mernissi.

Mernissi berpendapat bahwa Abu Hurairah memiliki perasaan yang mendalam terhadap kucing-kucing betina dan perempuan. Oleh sebab itulah Abu Hurairah terdorong untuk memberikan pernyataan bahwa Rasulullah pernah mengatakan sesuatu berkaitan dengan kucing betina dan perempuan.

Kedua, kritik Aisyah pada hadis yang menyudutkan perempuan soal perselingkuhan dan pemimpin perempuan yang diriwayatkan Abu Bakrah. Untuk hadis tentang pemimpin perempuan, Abu Bakrah menyatakan pernah mendengar Rasulullah melarang perempuan menjadi pemimpin ketika mengetahui orang-orang Persia mengangkat seorang perempuan untuk memimpin mereka.

Mernissi melakukan penyelidikan terhadap periwayatan hadis Abu Bakrah atas dasar kritik Aisyah yang hasilnya menunjukkan bahwa Abu Bakrah sulit dilacak silsilahnya, karena semula ia adalah seorang budak yang dimerdekakan saat bergabung menjadi kaum muslimin.

Dalam tradisi kesukuan Arab sendiri, apabila seseorang tidak memiliki silsilah yang jelas, maka secara sosial tidak diakui statusnya. Bahkan Mernissi menemukan penelitian yang dilakukan Imama Ahmad yang telah melewatkan Abu Bakrah begitu saja.

Selain dari Mernissi, kisah Aisyah yang mengkritisi ketimpangan gender dalam narasi hadis tercantum dalam salah satu karya Zainuddin al-Zarkasyi yang berjudul al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu Aisyah alas Sahabah. Ada sekitar kurang lebih tiga puluh kritik Aisyah yang tegas dan argumentative dalam membantah pendapat-pendapat para sahabat. Salah satunya hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah yang membahas hal-hal yang dapat mengganggu kekhusyuan shalat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: Shalat bisa terputus karena perempuan, keledai, dan anjing. Kritik Aisyah terhadap hadis di atas diriwayatkan oleh kedua kitab sahih, yaitu Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Aisyah menyanggah dengan tegas ketika sahabat menyamakan perempuan dengan keledai dan anjing.

“Kalian menyamakan kami dengan keledai dan anjing? Demi Allah aku telah melihat Rasulullah melakukan shalat sedangkan aku berbaring di atas tempat tidur di depan Rasulullah. Sehingga ketika aku ada suatu keperluan dan aku tidak ingin duduk hingga menyebabkan Rasulullah terganggu, maka aku pun pergi diam-diam dari dekat kedua kakinya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Melalui bantahannya, secara tidak langsung Aisyah menyampaikan pesan bahwa perempuan itu tidak bisa disamakan dengan hewan apalagi berkaitan dengan ritual shalat. Bahkan Rasulullah pun tidak meminta Aisyah berpindah dari tempat tidurnya saat Rasul akan melaksanakan shalat. Artinya Rasulullah tidak pernah berkata dan berpahaman patriarikis seperti itu.

Kemudian Aisyah juga pernah mengkritik tentang nikah mut’ah. Aisyah pernah ditanyai oleh Abdullah bin Ubaidillah bin Abi Malikah tentang nikah mut’ah. Aisyah memberi jawaban dengan tegas dan lugas bahwa pernikahan yang diperbolehkan hanyalah yang disahkan sesuai dengan ketentuan agama.

Pernikahan mut’ah sendiri tidak sesuai dengan ketentuan agama karena berdampak merugi, baik bagi laki-laki atau perempuan. Meski ditelaah lebih lanjut, kerugian yang dialami perempuan dari pernikahan mut’ah ini sangatlah ketara. Bahkan Aisyah menganggap nikah mutah sebagai penyimpangan.

Aisyah berkata: “Antara aku dan engkau ada ketetapan Allah.” Kemudian Aisyah membacakan surat Al-Mukminun ayat 5 yang artinya “Barang siapa mencari hal selain itu maka mereka itulah orang- orang yang melampaui batas”.

Kritik Aisyah mengenai pernikahan mut’ah bisa dilacak dalam karya Al-Hakim melalui kitab al- Mustadrak. Al-Hakim sendiri menyebutkan bahwa pendapat Aisyah ini memenuhi kriteria sahih, meski Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Demikian dua kritikan Aisyah yang bersumber dari salah satu karya Zainuddin al-Zarkasyi. Kritikan- kiritan itu hanyalah kritik kecil Aisyah kepada para sahabat. Keberanian Aisyah mengkritik ketimpangan gender yang mengarah pada subordinasi perempuan ini menunjukkan bahwa Aisyah sangat melek gender pada masanya.

Di sisi lain, Aisyah juga telah mempraktekkan bagaimana cara berpikir kritis atau critical thinking terhadap teks-teks yang dianggap menyimpang. Critical thinking sendiri merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki pada abad ke-21 ini untuk menunjang arus informasi yang tidak bias kita hentikan. Makanya arus informasi ini disaring menggunakan kemampuan berpikir kritis kita.

Dalam hal ini, secara tidak langsung kita diajarkan oleh Aisyah untuk tidak menerima teks yang dianggap berasal dari agama secara mentah-mentah. Dalam konteks ajaran Islam sendiri, Rasulullah tidak pernah mengajarkan kepada umatnya untuk memperlakukan perempuan secara tidak adil, sehingga jika kita menemukan ceramah atau teks yang menyudutkan perempuan tidak ada salahnya jika kita kritisi.

Rekomendasi

Belajar dari Fitnah yang Menimpa Sayyidah Aisyah  

sayyidah aisyah sayyidah aisyah

Sepuluh Keistimewaan Sayyidah Aisyah

Kisah Romantisme Rasulullah dan Aisyah dalam Menjalani Rumah Tangga Kisah Romantisme Rasulullah dan Aisyah dalam Menjalani Rumah Tangga

Cinta Nabi ke Aisyah Layaknya Ikatan Tali yang Tiada Ujung dan Akhir

kerendahan hati sayyidah aisyah kerendahan hati sayyidah aisyah

Belajar Kerendahan Hati dari Sayyidah Aisyah

Mela Rusnika
Ditulis oleh

Biasa dipanggil Mela dan sangat menyukai olahraga bulutangkis. Sekarang bekerja sebagai Project Officer di Peace Generation Indonesia. Serta tergabung dalam komunitas menulis Puan Menulis.

Komentari

Komentari

Terbaru

perempuan dan tuhannya perempuan dan tuhannya

Karimah al-Marwariyah, Ulama Perempuan yang Enggan Menikah

Kajian

Sholihah Wahid Hasyim: Tokoh Perempuan yang Aktif di Bidang Politik  

Kajian

Tafsir QS. Yūnus [10] Ayat 99: Ajaran Al-Qur’an tentang Toleransi

Kajian

Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan

Tujuh Pembagian Waktu Shalat saat Isya, Mana yang Paling Utama?

Ibadah

Mengenali Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Bagaimana Solusinya?

Kajian

perempuan khitan perempuan khitan

Melacak  Hadits Tentang Sunat Perempuan  

Kajian

Kisah Tukang Gali Kubur Menjadi Ulama Kisah Tukang Gali Kubur Menjadi Ulama

Kisah Tukang Gali Kubur Menjadi Ulama

Khazanah

Kisah Tiga Peneliti Tentang Sufi Perempuan  

Diari

Trending

Anak perhiasan dunia Anak perhiasan dunia

Parenting Islami: Mendidik Generasi Tauhid di Era Modern

Keluarga

Hukum Menginjak Makam Orang Muslim

Ibadah

Perbedaan Najis Ainiyah dan Najis Hukmiyah serta Cara Mensucikannya

Ibadah

krisis quarter life krisis quarter life

Perempuan Rentan Krisis Quarter Life: Kenali dan Hadapi

Diari

resolusi jihad resolusi jihad

Refleksi Hari Santri: Menghidupkan Semangat Resolusi Jihad di Masa Kini

Muslimah Daily

Pengertian Keluarga Sakinah dan Makna Perkawinan dalam Islam

Keluarga

Mengenal Tradisi Mulidan di Masyarakat Lombok

Kajian

17 Macam Mandi yang Disunnahkan dalam Islam

Ibadah

Connect