Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Shalat yang Wajib Diqadha Setelah Haid

BincangMuslimah.Com – Haid dan nifas merupakan salah satu jenis darah yang keluar dari rahim wanita. Adapun batas minimal haid adalah 24 jam atau satu hari satu malam dan batas maksimal haid adalah 15 hari dan 15 malam. Adapun batas minimal nifas adalah satu tetes dan batas maksimalnya adalah 60 hari dan 60 malam.

Umumnya darah haid itu akan terhenti di hari keenam atau ketujuh, dan darah nifas umumnya akan terhenti pada hari keempatpuluh. Tetapi terkadang terhentinya darah haid atau nifas tersebut tepat di dalam waktu salat fardu, lalu apakah ia wajib mengerjakan salat fardu tersebut atau tidak? Berikut ulasannya.

Jika haid atau nifas selesai di dalam waktu salat fardu dan kira-kira masih cukup untuk melaksanakan salat meskipun hanya takbiratul ihram saja, maka ia wajib menjalankan salat ketika waktu terhentinya haid tersebut. Begitu juga ia harus menjalankan salat fardu sebelumnya jika salat fardu tersebut boleh dijamak dengan salatnya ketika waktu terhenti haid tadi.

Jadi ia wajib melaksanakan salat Zuhur bersama dengan salat Asar, wajib salat Magrib bersama salat Isya. Tidak wajib Isya bersama salat Subuh, Subuh dengan Zuhur, Asar dengan Magrib karena boleh dijamak.

Contoh: masuknya waktu Magrib pukul 17.30 WIB sore. Sekitar pukul 17.30 kurang satu menit haid atau nifas selesai. Maka wanita tersebut wajib salat Asar dan Zuhur sebab masih menjumpai waktu Asar meskipun hanya cukup digunakan takbiratul ihram saja (apalagi jika masih longgar), dan Zuhur boleh dijamak dengan Asar.

Oleh karena itu jika selesainya haid pada waktu Zuhur misalnya, maka hanya salat Zuhur yang wajib dikerjakan. Tidak wajib salat Subuh sebab subuh tidak boleh dijamak dengan Zuhur.

Namun jika selesainya haid tadi waktunya tidak cukup untuk takbiratul ihram, atau tepat ketika habisnya waktu, maka tidak wajib menjalankan salatnya waktu tersebut, kecuali jika bisa dijamak dengan salat sesudahnya. Jadi seandainya haid atau nifas selesai pada akhirnya waktu Zuhur atau Magrib kira-kira sudah tidak cukup seandainya digunakan takbiratul ihram, maka wajib salat Zuhur bersama Asar dan wajib salat Magrib bersama Isya. Adapun selain Zuhur dan Magrib tidak wajib.

Jika sesudah selesai haid atau nifas tadi tertimpa perkara yang mencegah salat, misalnya gila atau epilespsi (ayan), maka dilihat dulu, jika jarak antara selesainya haid atau nifas dengan datangnya gila atau ayan cukup seandainya dipergunakan bersuci dan salat tersebut di atas (seringan-ringannya), maka wajib mengerjakan salat tersebut.

Apabila tidak cukup, maka tidak wajib, yakni hanya secukupnya, berurutan mulai salat yang tunai (ada’an). Contoh: pada waktu Magrib kurang satu menit haidnya selesai. Setelah beberapa menit gila. Maka jika antara selesai haid dan gila itu cukup untuk bersuci, salat Magrib, Asar dan Zuhur, maka ia wajib melaksanakan semua salat tersebut. Jika hanya cukup untuk salat Magrib dan Asar, maka ia hanya wajib Magrib dan Asar saja. Tetapi jika tidak cukup untuk salat sama sekali, maka ia tidak wajib menjalankannya.

Hal yang perlu diperhatikan bagi seluruh wanita adalah jika haid atau nifas selesai dalam waktu diwajibkanya salat, maka ia harus segera mandi kemudian salat. Artinya tidak boleh ditunda-tunda sampai habisnya waktu salat meskipun di tengah malam atau dingin sekali. Jangan sampai ada salat yang diqadha apalagi sampai ketinggalan /tidak dikerjakan sama sekali.

Adapun yang dimaksud dengan selesainya haid atau nifas adalah seandainya dimasukkan kapas ke dalam kemaluannya sampai bagian yang tidak kelihatan dari luar ketika wanita berjongkok (ketika berak), maka kapas tadi keluar dengan putih bersih, tidak ada bekas sama sekali.

Perlu diperhatikan pula bagi wanita yang sedang berpuasa jika datang masa haid atau nifas meskipun hanya sedikit, misalnya menjelang Magrib kurang 5 menit datang haid, maka puasanya tidak sah dan wajib mengqadha’ puasa hari tersebut.

Jadi bagi bagi wanita harus mengetahui masuk dan keluarnya waktu salat, agar tidak ada salat yang ketinggalan pada waktu mulai dan selesinya haid.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Diolah dari kitab Risalah Haidl Nifas dan Istihadhah Lengkap karya KH. Muhammad Ardani bin Ahmad (Surabaya: Almiftah, 1987, h. 35-37)

*Artikel ini pernah dimuat BincangMuslimah.Com

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Trending

Prof Huzaemah T. Yanggo; Imunisasi Difteri Mengandung Babi, Bagaimana Hukumnya?

Muslimah Talk

Hukum Penetapan Nasab dalam Agama Islam Hukum Penetapan Nasab dalam Agama Islam

Hukum Penetapan Nasab Anak dalam Agama Islam

Keluarga

Muslimah Rajin Shalat Tapi tidak Menutup Aurat, Bagaimana Menurut Islam? Muslimah Rajin Shalat Tapi tidak Menutup Aurat, Bagaimana Menurut Islam?

Muslimah Rajin Shalat Tapi tidak Menutup Aurat, Bagaimana Menurut Islam?

Ibadah

Apakah Sentuhan Suami Membatalkan Wudhu Istri? Ini Pendapat Empat Madzhab

Ibadah

Apakah Angin yang Keluar dari Vagina Membatalkan Wudhu?

Ibadah

Benarkah Muslimah Tidak Boleh Shalat Dzuhur Hingga Selesai Shalat Jumat?

Ibadah

Adakah Batasan Mencumbui Istri yang Sedang Haid? Ini Pandangan Empat Madzhab

Kajian

Cerai daripada poligami Cerai daripada poligami

Enam Keadaan Istri Dibolehkan Meminta Cerai dari Suami

Kajian

Rekomendasi

Benarkah Darah Nifas yang Keluar Lebih dari 60 Hari Disebut Istihadhah?

Kajian

Pendarahan Sebelum Melahirkan, Apakah Termasuk Nifas?

Kajian

bersetubuh saat azan bersetubuh saat azan

Istri Selesai Haid Tapi Belum Mandi Besar, Bolehkah Suami Berhubungan Intim Dengannya?

Kajian

Menyisir Rambut Bagi Perempuan yang Sedang Haid

Muslimah Daily

Membedakan Darah Haid dan Darah Istihadhah

Ibadah

bersetubuh saat azan bersetubuh saat azan

Hukum Menyetubuhi Istri yang Sedang Istihadah

Kajian

Datang Haid Tapi Belum Shalat, Wajibkah Diqadha?

Ibadah

masa suci masa suci

Empat Tips Mencegah Nyeri Haid

Muslimah Daily

© 2019 Bincang Muslimah - All Right Reserved

Connect