Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Shalat yang Wajib Diqadha Setelah Haid

murtad wajib mengqadha shalat
gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Haid dan nifas merupakan salah satu jenis darah yang keluar dari rahim wanita. Adapun batas minimal haid adalah 24 jam atau satu hari satu malam dan batas maksimal haid adalah 15 hari dan 15 malam. Adapun batas minimal nifas adalah satu tetes dan batas maksimalnya adalah 60 hari dan 60 malam.

Umumnya darah haid itu akan terhenti di hari keenam atau ketujuh, dan darah nifas umumnya akan terhenti pada hari keempatpuluh. Tetapi terkadang terhentinya darah haid atau nifas tersebut tepat di dalam waktu salat fardu, lalu apakah ia wajib mengerjakan salat fardu tersebut atau tidak? Berikut ulasannya.

Jika haid atau nifas selesai di dalam waktu salat fardu dan kira-kira masih cukup untuk melaksanakan salat meskipun hanya takbiratul ihram saja, maka ia wajib menjalankan salat ketika waktu terhentinya haid tersebut. Begitu juga ia harus menjalankan salat fardu sebelumnya jika salat fardu tersebut boleh dijamak dengan salatnya ketika waktu terhenti haid tadi.

Jadi ia wajib melaksanakan salat Zuhur bersama dengan salat Asar, wajib salat Magrib bersama salat Isya. Tidak wajib Isya bersama salat Subuh, Subuh dengan Zuhur, Asar dengan Magrib karena boleh dijamak.

Contoh: masuknya waktu Magrib pukul 17.30 WIB sore. Sekitar pukul 17.30 kurang satu menit haid atau nifas selesai. Maka wanita tersebut wajib salat Asar dan Zuhur sebab masih menjumpai waktu Asar meskipun hanya cukup digunakan takbiratul ihram saja (apalagi jika masih longgar), dan Zuhur boleh dijamak dengan Asar.

Oleh karena itu jika selesainya haid pada waktu Zuhur misalnya, maka hanya salat Zuhur yang wajib dikerjakan. Tidak wajib salat Subuh sebab subuh tidak boleh dijamak dengan Zuhur.

Namun jika selesainya haid tadi waktunya tidak cukup untuk takbiratul ihram, atau tepat ketika habisnya waktu, maka tidak wajib menjalankan salatnya waktu tersebut, kecuali jika bisa dijamak dengan salat sesudahnya. Jadi seandainya haid atau nifas selesai pada akhirnya waktu Zuhur atau Magrib kira-kira sudah tidak cukup seandainya digunakan takbiratul ihram, maka wajib salat Zuhur bersama Asar dan wajib salat Magrib bersama Isya. Adapun selain Zuhur dan Magrib tidak wajib.

Jika sesudah selesai haid atau nifas tadi tertimpa perkara yang mencegah salat, misalnya gila atau epilespsi (ayan), maka dilihat dulu, jika jarak antara selesainya haid atau nifas dengan datangnya gila atau ayan cukup seandainya dipergunakan bersuci dan salat tersebut di atas (seringan-ringannya), maka wajib mengerjakan salat tersebut.

Apabila tidak cukup, maka tidak wajib, yakni hanya secukupnya, berurutan mulai salat yang tunai (ada’an). Contoh: pada waktu Magrib kurang satu menit haidnya selesai. Setelah beberapa menit gila. Maka jika antara selesai haid dan gila itu cukup untuk bersuci, salat Magrib, Asar dan Zuhur, maka ia wajib melaksanakan semua salat tersebut. Jika hanya cukup untuk salat Magrib dan Asar, maka ia hanya wajib Magrib dan Asar saja. Tetapi jika tidak cukup untuk salat sama sekali, maka ia tidak wajib menjalankannya.

Hal yang perlu diperhatikan bagi seluruh wanita adalah jika haid atau nifas selesai dalam waktu diwajibkanya salat, maka ia harus segera mandi kemudian salat. Artinya tidak boleh ditunda-tunda sampai habisnya waktu salat meskipun di tengah malam atau dingin sekali. Jangan sampai ada salat yang diqadha apalagi sampai ketinggalan /tidak dikerjakan sama sekali.

Adapun yang dimaksud dengan selesainya haid atau nifas adalah seandainya dimasukkan kapas ke dalam kemaluannya sampai bagian yang tidak kelihatan dari luar ketika wanita berjongkok (ketika berak), maka kapas tadi keluar dengan putih bersih, tidak ada bekas sama sekali.

Perlu diperhatikan pula bagi wanita yang sedang berpuasa jika datang masa haid atau nifas meskipun hanya sedikit, misalnya menjelang Magrib kurang 5 menit datang haid, maka puasanya tidak sah dan wajib mengqadha’ puasa hari tersebut.

Jadi bagi bagi wanita harus mengetahui masuk dan keluarnya waktu salat, agar tidak ada salat yang ketinggalan pada waktu mulai dan selesinya haid.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Diolah dari kitab Risalah Haidl Nifas dan Istihadhah Lengkap karya KH. Muhammad Ardani bin Ahmad (Surabaya: Almiftah, 1987, h. 35-37)

*Artikel ini pernah dimuat BincangMuslimah.Com

Rekomendasi

cairan kuning setelah haid cairan kuning setelah haid

Menyikapi Cairan Kuning yang Keluar Setelah Haid

murtad wajib mengqadha shalat murtad wajib mengqadha shalat

Murtad Lalu Beriman Lagi, Wajib Mengqadha Shalat?

Perempuan Istihadhah mandi shalat Perempuan Istihadhah mandi shalat

Bolehkah Perempuan Istihadhah Berhubungan Badan dengan Suami?

niat haji untuk orang lain niat haji untuk orang lain

Bolehkah Perempuan yang Haid Tetap Melaksanakan Thawaf Ifadhah?

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Terbaru

Tindik Telinga pada Bayi Tindik Telinga pada Bayi

Tindik Telinga pada Bayi dan Pandangan Islam Terhadapnya

Kajian

pakaian perempuan penutup badan pakaian perempuan penutup badan

Pakaian Perempuan di Masa Rasulullah, Edisi Penutup Badan

Kajian

julukan buruk bagi orang julukan buruk bagi orang

Hukum Memberikan Julukan yang Buruk Bagi Orang Lain

Kajian

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Tafsir ad-Dhuha; Allah Tidak Meninggalkan Nabi Muhammad

Kajian

Hukum Eyelash Extension Fikih Hukum Eyelash Extension Fikih

Hukum Eyelash Extension Menurut Ulama Fikih

Kajian

hari santri santriwati berdaya hari santri santriwati berdaya

Peringati Hari Santri, Yenny Wahid : Santriwati Harus Difasilitasi Agar Lebih Berdaya

Berita

diskriminasi pencari kerja perempuan diskriminasi pencari kerja perempuan

Diskriminasi Bagi Pencari Kerja Perempuan yang Sudah Menikah

Tak Berkategori

Kasus Kim Seon Ho Kasus Kim Seon Ho

Kasus Kim Seon Ho dan Aturan Aborsi di Indonesia

Muslimah Talk

Trending

Shalat Sunnah Rawatib Perempuan Shalat Sunnah Rawatib Perempuan

Shalat Sunnah Rawatib Bagi Perempuan, Lebih Utama di Masjid atau Rumah?

Ibadah

Empat Kiat Mendidik Anak Empat Kiat Mendidik Anak

Empat Kiat Mendidik Anak Menurut Anjuran Islam

Keluarga

keutamaan melanggengkan wudhu islam keutamaan melanggengkan wudhu islam

Keutamaan Melanggengkan Wudhu dalam Islam

Kajian

pendapat ulama membasuh tangan pendapat ulama membasuh tangan

Pendapat Ulama Mengenai Hukum Membasuh Tangan.

Kajian

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Hukum Berdiri Ketika Mahallul Qiyam

Kajian

air liur manusia najis air liur manusia najis

Benarkah Air Liur Manusia Najis?

Kajian

perempuan korban playing victim perempuan korban playing victim

Perempuan Sasaran Empuk Korban Playing Victim

Muslimah Talk

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Macam-macam Kitab Maulid Nabi Muhammad

Khazanah

Connect