Bincangmuslimah.com- Ambisi sering kali dianggap sebagai sesuatu yang kurang cocok dimiliki oleh perempuan, apalagi Muslimah. Kata “sukses” pun kadang dikaitkan dengan dunia luar yang lebih identik dengan laki-laki. Namun, benarkah Islam membatasi muslimah untuk berkembang, berkarya, atau bahkan menjadi pribadi yang berpengaruh untuk masyarakat luas? Mari kita gali bersama bagaimana Islam memandang produktivitas dan ambisi dalam diri seorang perempuan.
Islam tidak membatasi gerak-gerik wanita untuk produktif beraktifitas di luar rumah, tapi justru sangat menganjurkan mereka untuk berkarya, meningkatkan kemampuan diri dan menjadikan diri bermanfaat untuk masyarakat luas sepertihalnya laki-laki. Allah Ta’ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَيُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْىرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ۞
Artinya: “Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti Kami akan berikan kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97).
Ayat ini menjadi dasar bahwa amal baik termasuk produktivitas, kerja keras maupun kontribusi sosial, tidak dibatasi oleh jenis kelamin. Selama dilakukan dengan niat yang benar dan masih dalam koridor syariat, maka seorang muslimah boleh bahkan dianjurkan untuk menjadi pribadi yang sukses dan produktif.
Ambisi Selama Untuk Kebaikan, Kenapa Tidak?
Ambisi dalam Islam bukanlah sesuatu yang tabu bahkan tercela selama ia tidak disertai kesombongan atau melanggar batas syari’at. Dalam hadits yang riwayat Imam Tabarani dan Imam Baihaqi, Rasulullah saw bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ تَعَلَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُّقْتِنَهُ (روه الطبرني والبيهقي)
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, maka ia mengerjakannya dengan itqan (profesional dan sungguh-sungguh).” (HR. Tabarani dan Baihaqi, dalam Syu’abul Iman, no. 5311).
Ambisi untuk sukses, menebar manfaat dan menjadi pribadi yang lebih unggul adalah bagian dari nilai ihsan dan itqan yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Namun ambisi di sini tak hanya sebatas mencari dunia semata, tapi bagaimana kita bisa jadi bermanfaat dan menjadikannya sebagai ladang pahala kita untuk menuju kehidupan yang abadi, yakni akhirat.
Contoh Muslimah produktif dalam Sejarah Islam
Khadijah binti Khuwailid r.a. – Pebisnis Sukses dan Pendukung Dakwah
Sayyidah Khadijah bukan hanya istri Nabi saw, tapi juga saudagar sukses yang dihormati dalam masyarakat Quraisy. Dalam Asad al-Ghabah karya Ibn al-Atsir menyebutkan:
وَكَانَتْ خَدِيجَةُ امْرَأَةً تَاجِرَةً، ذَاتَ شَرَفٍ وَمَالٍ، تَسْتَأْجِرُ الرِّجَالَ فِي مَالِهَا، وَتُضَارِبُهُمْ إِيَّاهُ
Artinya: “Khadijah adalah seorang wanita saudagar, memiliki kehormatan dan harta. Iamempekerjakan laki-laki untuk mengelola hartanya dan membagi hasil usaha dengan mereka.” (‘Izzud Dīn Ibn al-Atsir, Asadul Ghābah fi Ma‘rifatis Sahabah, Beirut: [Darul Kutub al-‘Ilmiyyah], 1994, Jilid 7, hlm. 76).
Perannya dalam menopang dakwah Rasulullah saw bukan hanya dari segi emosional saja, tapi juga dari segi finansial. Beliau membuktikan bahwa produktivitas Muslimah bisa sangat strategis untuk dakwah dan kemaslahatan umat.
Aisyah r.a. – Ulama’ Perempuan dan Guru Para Sahabat
Istri Rasulullah saw yang satu ini dikenal sebagai sosok intelektual luar biasa. Beliau meriwayatkan lebih dari 2.000 hadits dan menjadi rujukan utama dalam banyak persoalan hukum Islam.
Imam Adz-Dzahabi berkata dalam kitabnya:
كَانَتْ عَائِشَةُ مِنْ أَذْكَى النَّاسِ، وَأَفْصَحِهِمْ، وَأَفْقَهِهِمْ، وَأَحْفَظِهِمْ لِلْحَدِيثِ
Artinya: “Aisyah adalah salah satu manusia yang paling cerdas, paling fasih, paling dalam pemahamannya (tentang agama) dan paling banyak hafalannya terhadap hadits.” (Syamsud Din Muhammad Ibn Ahmad adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, Beirut: [Mu’assasatur Risalah], 1986, Jilid 2, hlm.135).
Ilmunya tidak hanya dimanfaatkan oleh sesama perempuan, tapi juga para sahabat laki-laki yang datang untuk menimba ilmu darinya.
Rufaidah al-Islamiyah – Tokoh Medis Pertama dalam Islam
Saat perang Khandaq, Rufaidah r.a. mendirikan tenda di Masjid Nabawi untuk merawat para korban perang. Rasulullah saw sendiri menizinkan dan mendukungnya melakukan hal itu.
كَانَتْ رُفَيْدَةُ تَخْدُمُ الْجَرْحَى فِي الْمَسْجِدِ، وَقَدْ نَصَبَتْ خَيْمَةً فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِيِّ لِرِعَايَةِ الْمُصَابِينَ
Artinya: “Rufaidah merawat para korban luka di masjid, dan dia telah mendirikan tenda khusus di Masjid Nabawi untuk merawat yang terluka.” (Muhammad Ibn ‘Umar al-Waqidi, al-Maghazi, Beirut: [Darul Kutub al-‘Arabi],1966, hlm. 326).
Perempuan ini adalah pelopor dunia medis Islam dan menjadi bukti bahwa kontribusi sosial dan profesional perempuan tidak hanya diperbolehkan, tapi sangat dihargai.
Terlepas dari perempuan-perempuan hebat pada zaman Rasulullah, zaman sekarang pun masih banyak aktivis perempuan yang bisa kita jadikan teladan untuk terus berkontribusi di dunia luar. Salah satu contohnya Ning Umi Lailatul Rahmah yang akrab dipanggil Ning Umi Laila. Perempuan kelahiran Surabaya yang begitu fenomenal dikalangan anak muda. Cara dakwahnya yang santai dan dengan diselingi guyonan menjadi daya terik tersendiri baik dari kalangan pemuda maupun ibu-ibu. Dan sampai sekarang, namanya kian melejit di dunia dakwah hingga ke tayangan televisi.
Dari semua contoh di atas, sudah jelas bahwa Islam tidak melarang perempuan untuk menjadi pribadi yang produktif, sukses dan penuh ambisi. Justru ketika niat yang kita miliki itu tulus, ambisi itu menjadi ladang amal dan jalan menuju ridha Allah.
Selama tetap menjaga adab, tidak melanggar fitrah dan tanggung jawab utama, serta berpegang teguh pada syari’at, maka setiap muslimah boleh dan bahkan diharuskan memiliki cita-cita besar. Baik itu dalam pendidikan, ekonomi, dakwah, sosial maupun profesi lain yang halal dan bermanfaat.
Rekomendasi