BincangMuslimah.Com – Beberapa waktu terakhir, ruang media sosial diramaikan oleh perbincangan seputar pernyataan sepasang suami istri yang menyampaikan pandangannya soal Pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Dalam sebuah video, sang suami mengatakan bahwa kuliah adalah scam.
Sedangkan dari sang istri, kerap membuat konten terkait pengalamannya dan menyatakan bahwa menikah muda ia yakini sebagai pilihan hidup yang lebih baik. Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Pandangan lain yang menuai ribuan komentar adalah soal extended adolescence, fase di mana anak muda merasa masih ingin “menikmati hidup” tanpa komitmen besar. Dalam hal ini, komitmen yang dimaksud Azkiave ditafsirkan adalah pernikahan.
Namun, tahukah. Dibalik konten yang menuai pro dan kontra ini, pilihan untuk melanjutkan pendidikan, bahkan hingga ke tingkat yang lebih tinggi, pernah diperjuangkan setengah mati. Akses perempuan terhadap pendidikan, terlebih pendidikan tinggi, bukanlah sesuatu yang hadir dengan mudah.
Apa yang kita rasakan saat ini merupakan buah manis dari perjuangan perempuan-perempuan hebat di masa dahulu. Di kala itu, situasi penuh keterbatasan dan diskriminasi. Sehingga, jika ada yang berpandangan perempuan tidak perlu menggapai pendidikan setinggi mungkin, maka tidak berlebihan jika fenomena ini merupakan sebuah kemunduran.
Perjuangan Tokoh Muslimah Indonesia dalam Memajukan Pendidikan Perempuan
Pendidikan perempuan merupakan fondasi penting bagi kemajuan masyarakat dan bangsa. Dalam konteks Indonesia, perjuangan ini tidak terlepas dari peran para tokoh muslimah yang dengan kesadaran keagamaan dan kepedulian sosial memperjuangkan hak perempuan untuk belajar, berpikir kritis, dan berkontribusi di ruang publik.
Sejak masa kolonial hingga era modern, para tokoh ini hadir dengan pendekatan yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama. Yaitu membebaskan perempuan dari keterbelakangan melalui pendidikan. Rasa-rasanya, di tengah perdebatan tentang pilihan hidup modern ini, penting untuk mengingat sejarah panjang perjuangan perempuan dalam mengakses pendidikan tinggi.
1.Rahmah El Yunusiyah: Pelopor Pendidikan Islam Modern untuk Perempuan
Rahmah El Yunusiyah merupakan tokoh muslimah Indonesia yang secara nyata membangun sistem pendidikan khusus bagi perempuan. Pada tahun 1923, ia mendirikan Diniyah Puteri Padang Panjang, sebuah lembaga pendidikan Islam modern yang mengintegrasikan ilmu agama, ilmu umum, dan keterampilan hidup. Pada masa itu, gagasan mendidik perempuan secara formal masih mendapat banyak penolakan, terutama dalam lingkungan tradisional.
Rahmah meyakini bahwa perempuan yang terdidik akan mampu menjadi pendidik utama dalam keluarga dan agen perubahan dalam masyarakat. Keberanian dan visinya membuat Diniyah Puteri menjadi model pendidikan perempuan Islam yang diakui, bahkan mendapat apresiasi dari Universitas Al-Azhar di Mesir. Perjuangannya menegaskan bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan Muslim bukanlah hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.
2. R.A. Kartini: Kesadaran Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan
R.A. Kartini dikenal luas sebagai tokoh emansipasi perempuan, namun ia juga seorang perempuan yang menjadikan pendidikan sebagai alat utama pembebasan. Melalui surat-suratnya, Kartini mengkritik adat dan struktur sosial yang membatasi perempuan dari akses pendidikan. Ia melihat pendidikan sebagai sarana untuk membentuk nalar, karakter, dan kemandirian perempuan.
Kartini percaya bahwa perempuan yang berpendidikan akan mampu memahami agama secara lebih rasional dan tidak sekadar menerima tafsir yang membatasi perannya. Meskipun tidak sempat mendirikan lembaga pendidikan besar, pemikirannya menginspirasi lahirnya sekolah-sekolah perempuan dan kebijakan pendidikan yang lebih inklusif bagi perempuan Muslim di Indonesia.
3.Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah): Pendidikan Perempuan Berbasis Organisasi Islam
Siti Walidah, yang lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, memainkan peran strategis dalam memajukan pendidikan perempuan melalui organisasi Islam. Ia mendirikan ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, yang fokus pada pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial bagi perempuan.
Melalui ‘Aisyiyah, Siti Walidah mendorong perempuan Muslim untuk belajar membaca, menulis, memahami ajaran Islam, dan aktif dalam kehidupan sosial. Ia percaya bahwa perempuan harus menjadi subjek pendidikan, bukan sekadar objek. Hingga kini, ‘Aisyiyah mengelola ribuan lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, menjadikannya salah satu kekuatan utama pendidikan perempuan di Indonesia.
4.Prof. Dr. Saparinah Sadli: Memperjuangkan Kesetaraan di Pendidikan Tinggi
Di era modern, perjuangan pendidikan perempuan dilanjutkan oleh Prof. Dr. Saparinah Sadli, seorang akademisi dan sosiolog muslimah. Ia merupakan pelopor kajian gender di Indonesia dan berperan besar dalam mendorong kesetaraan akses perempuan di pendidikan tinggi.
Melalui dunia akademik, Saparinah memperjuangkan kebijakan kampus yang ramah perempuan, peningkatan partisipasi perempuan dalam riset dan kepemimpinan akademik, serta penghapusan diskriminasi berbasis gender. Ia memandang pendidikan tinggi sebagai ruang strategis untuk membangun keadilan sosial dan kesadaran kritis, termasuk bagi perempuan Muslim.
5. Prof. Dr. Siti Musdah Mulia: Pendidikan dan Tafsir Islam Berkeadilan Gender
Prof. Dr. Siti Musdah Mulia merupakan cendekiawan Muslimah yang menggabungkan pendidikan, pemikiran Islam, dan advokasi hak perempuan. Ia secara konsisten menyuarakan bahwa Islam mendorong umatnya, baik laki-laki maupun perempuan untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.
Melalui pengajaran, tulisan, dan keterlibatannya dalam kebijakan publik, Musdah Mulia memperjuangkan pendidikan perempuan yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan. Ia menekankan pentingnya reinterpretasi ajaran Islam agar selaras dengan prinsip keadilan gender dan hak asasi manusia, termasuk dalam akses pendidikan.
Perjuangan tokoh-tokoh muslimah Indonesia dalam bidang pendidikan menunjukkan bahwa Islam dan pendidikan perempuan berjalan seiring. Tanpa mengurangi rasa hormat, deretan nama di atas membuktikan bahwa perempuan, muslimah memiliki peran sentral dalam mencerdaskan bangsa. Warisan pemikiran dan aksi mereka menjadi inspirasi bagi generasi masa kini untuk terus memperjuangkan pendidikan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi semua perempuan Indonesia.
Rekomendasi