BincangMuslimah.Com – Baru-baru ini viral di media sosial seorang influencer bernama Azkiave. Dirinya ramai diperbincangkan karena isi konten dirasa menyentuh isu sensitive dan dianggap terkesan ‘menghakimi’ keputusan yang berseberangan.
Secara terbuka ia berbagi pengalamannya menikah di usia 19 tahun, Dalam berbagai unggahannya, Azkiave pernah menyampaikan pandangannya soal extended adolescence, yaitu fase di mana anak muda merasa masih ingin “menikmati hidup” tanpa komitmen besar. Dalam hal ini, komitmen yang dimaksud Azkiave adalah pernikahan.
Pernyataannya ini memicu perdebatan besar, karena sebagian netizen menilai pandangannya terlalu menggeneralisasi dan terkesan menghakimi pilihan hidup orang lain. Pendapat lain dari Azkiave yang banyak menuai kritik adalah ‘bekerja adalah ranah maskulin.’ Tulis Azkiave di dalam salah satu postingannya, fitrah Perempuan adalah merawat dan membangun peradaban.
Dan Perempuan, dibebaskan dari kewajiban mencari nafkah untuk menggunakan energinya pada urusan substansial. Menurut keyakinan Azkiave, ekonomi perempuan diamankan oleh sang ayah dan suaminya. Terakhir ia mengatakan jika jiwa perempuan akan kosong jika hanya dijadikan alat pencetak uang yang transaksional.
Tidak hanya Azkave, para pengguna media sosial juga melempar ragam kritik pada sang suami. Suami Azkiave, Yuka, menjadi bahan perbincangan karena dalam video ia mengatakan bahwa kuliah bisa dianggap “scam’. Ini karena sebagian orang yang tidak mengejar bidang yang benar-benar sesuai atau tidak spesialisasi.
Isi Konten yang Melukai Sebagian Orang
Opini dan konten yang dikaitkan dengan Azkiave memperlihatkan satu kecenderungan pengalaman personal diangkat menjadi standar moral bagi kelompok yang jauh lebih beragam. Rasa-rasanya, pernikahan dianggap bak ‘sebuah pencapaian’.
Menikah muda, tidak kuliah, atau fokus pada peran domestik dibingkai sebagai bentuk “kedewasaan” yang lebih unggul, Secara implisit, pilihan seperti menunda pernikahan, kuliah, atau bekerja, riskan diterjemahkan sebagai pribadi yang kurang matang.
Padahal, fakta bahwa realitas sosial generasi muda tidak seragam. Akses pendidikan, kondisi ekonomi keluarga, kesehatan mental, hingga tanggung jawab struktural membuat setiap orang memiliki bingkai hidup yang berbeda.
Menyederhanakan kompleksitas tersebut menjadi persoalan “kemauan” atau “keberanian mengambil tanggung jawab” berisiko mereduksi masalah sosial menjadi kesalahan individu. Lebih jauh, wacana yang mendekati gagasan bahwa ruang publik, kerja, atau produktivitas adalah wilayah maskulin, sementara perempuan idealnya berada di ranah domestic adalah narasi lama yang telah lama diperdebatkan.
Perempuan bekerja bukanlah penyimpangan dari fitrah, melainkan bagian dari realitas sosial dan situasi ekonomi yang sekali lagi, beragam.
Masalah utamanya bukan pada pilihan hidup Azkiave, setiap orang berhak menentukan jalannya sendiri. Melainkan pada cara pilihan itu dipresentasikan seolah lebih sahih, lebih benar, atau lebih bermoral dibandingkan pilihan orang lain. Ketika media sosial dijadikan panggung untuk menyederhanakan makna kedewasaan, maka yang terjadi bukan edukasi, melainkan polarisasi.
Tidak Semua Orang Punya ‘Privilage’ yang Serupa
Ada realitas lain yang sepertinya layak disorot oleh Azkave, yaitu tidak semua perempuan memiliki privilege serupa. Jika bagi Azkave tidak melanjutkan pendidikan formal, fokus pada ranah domestik adalah jalan hidup yang ideal, banyak perempuan merasa tersisih dan disalahkan atas kondisi yang sesungguhnya tidak mereka pilih.
Tidak semua perempuan memiliki keamanan ekonomi, pasangan suportif, modal usaha, atau jaringan sosial yang memungkinkan mereka “tenang” tanpa pendidikan formal atau pekerjaan tetap.
Bagi sebagian perempuan, kuliah dan bekerja bukan soal ambisi atau penundaan tanggung jawab, melainkan harapan sekaligus alat bertahan hidup. Menyederhanakan pilihan tersebut sebagai menyimpang dari fitrah hingga extended adolescence, berpotensi melukai perempuan yang berjuang dalam keterbatasan.
Masalahnya terletak pada ketimpangan posisi bicara. Azkiave berbicara dari ruang aman, dengan dukungan finansial, pasangan, dan platform digital. Sementara banyak perempuan lain hidup dalam kondisi rentan.
Seperti menjadi tulang punggung keluarga, menghadapi tekanan ekonomi, atau keluar dari relasi yang tidak aman. Tidak sedikit pula Perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Dan pelakunya selalu tidak jauh dari orang terdekat seperti suami atau ayah. Pada kondisi ini, jika perempuan ‘hanya bergantung’ pada ayah atau suami yang notabene adala pelaku, tamatlah sudah.
Ketika pengalaman dari posisi privilese diangkat sebagai kebenaran universal, maka yang terjadi adalah penghapusan suara perempuan yang hidupnya jauh lebih kompleks. Konten semacam ini juga berisiko memperkuat stigma sosial terhadap perempuan yang bekerja, berpendidikan tinggi, atau menunda pernikahan.
Alih-alih membuka ruang empati, narasi tersebut justru mempersempit definisi perempuan “ideal” dan menambah beban moral bagi mereka yang sudah berjuang keras di tengah keterbatasan. Pada akhirnya, yang dipersoalkan bukanlah keputusan personal Azkiave, melainkan kurangnya kesadaran akan ‘hak istimewa’ atau privilege, serta dampak sosial dari konten yang diproduksi.
Rekomendasi