BincangMuslimah.Com – Rabi‘ah al-Mumtazah (رابعة العدوية القيسية), yang dikenal luas sebagai Rabi‘ah al-Bashri, merupakan salah satu tokoh perempuan dalam tradisi tasawuf yang menempati posisi penting dalam perkembangan spiritualitas Islam. Ia berasal dari Basrah, Irak, dan diperkirakan lahir pada rentang tahun 713–717 M atau 95–99 H, serta wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H. Nama lengkapnya adalah Rabi‘ah binti Ismail al-Adawiyah al-Basriyah.
Dalam struktur sosial Arab, ia memiliki keterkaitan dengan klan Al-Atik dari suku Qays bin ‘Adi, sehingga dikenal pula dengan nisbah al-Qaysiyah. Rabi‘ah hidup pada masa Dinasti Umayyah dan dikenal sebagai seorang zahidah yang menempuh jalan spiritual dengan orientasi penuh kepada Allah.
Dalam kajian tasawuf, Rabi‘ah dikenal melalui konsep cinta ilahi yang menempatkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam kerangka mahabbah. Ia mengabdikan hidupnya untuk ibadah dan penghayatan spiritual yang mendalam, serta memimpin lingkaran murid perempuan dalam praktik keagamaan. Julukan “Ibu Para Sufi Besar” disematkan kepadanya sebagai bentuk pengakuan atas pengaruhnya dalam tradisi sufisme.
Pemikirannya turut memberikan inspirasi bagi tokoh-tokoh sufi seperti Ibnu al-Faridh dan Dhun Nun al-Misri. Pengaruh Rabi‘ah melampaui dunia Islam dan menarik perhatian para sarjana Eropa, di antaranya Margaret Smith, Louis Massignon, dan Reynold A. Nicholson, yang mengkaji serta menulis biografi dan pemikiran spiritualnya.
Perjalanan Hidup Rabiah Al-Adawiyah
Rabi‘ah al-Adawiyah lahir di Basrah, Irak, pada kisaran tahun 713–717 M. Ia berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas dan merupakan anak keempat dari empat bersaudara, sehingga diberi nama Rabi‘ah yang berarti “anak keempat”. Ayahnya, Ismail, hidup dalam keterbatasan hingga menjelang kelahirannya. Dalam riwayat yang berkembang, Ismail pernah bermimpi bertemu Nabi Muhammad yang menyampaikan kabar tentang kemuliaan masa depan putrinya.
Sejak usia dini, Rabi‘ah dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan taat beragama. Kehidupannya mengalami perubahan besar setelah kedua orang tuanya wafat, sehingga ia bersama saudara-saudaranya menjalani kehidupan sebagai yatim piatu. Untuk bertahan hidup, Rabi‘ah bekerja sebagai penarik perahu di Sungai Dajlah, sementara saudara-saudaranya menenun kain.
Perjalanan hidup Rabi‘ah kemudian memasuki fase sulit ketika Basrah dilanda kekeringan panjang. Ia terpisah dari keluarganya dan diculik oleh sekelompok penyamun yang menjualnya sebagai hamba sahaya. Dalam masa perbudakan, ia menjalani pekerjaan berat di bawah perlakuan keras majikannya.
Pada suatu malam, ia bermunajat kepada Allah dengan harapan memperoleh kebebasan agar dapat mengabdikan hidupnya untuk ibadah. Riwayat menyebutkan adanya peristiwa spiritual berupa cahaya yang terlihat di atas dirinya saat beribadah, yang membuat majikannya tergerak untuk membebaskannya. Setelah memperoleh kebebasan, Rabi‘ah memilih kehidupan asketis dengan mengembara dan kemudian menetap untuk memperdalam ibadah serta penghayatan spiritual.
Sebagai seorang sufi, Rabi‘ah dikenal memiliki majelis yang dihadiri banyak murid dan para zahid dari berbagai wilayah. Beberapa tokoh yang tercatat pernah berinteraksi dengannya antara lain Malik bin Dinar, Sufyan al-Thawri, dan Syaqiq al-Balkhi. Ia menjalani kehidupan yang dipenuhi ibadah, dengan waktu malam yang digunakan untuk munajat. Rabi‘ah juga dikenal melalui syair-syair spiritual yang mengekspresikan cinta ilahi.
Dalam kehidupan personal, ia memilih untuk tidak menikah, meskipun menerima berbagai lamaran dari tokoh masyarakat dan ulama. Pilihan ini didasarkan pada komitmennya terhadap pengabdian penuh kepada Allah, dengan kesadaran bahwa pernikahan merupakan bagian dari ajaran agama yang tetap ia hormati.
Menjelang akhir hayatnya, setelah menunaikan ibadah haji di Mekah, kondisi kesehatannya menurun. Ia dirawat oleh sahabatnya, Abdah binti Abi Shawwal, hingga wafat pada sekitar tahun 801 M atau 185 H dalam usia sekitar 83 tahun. Rabi‘ah dimakamkan di Basrah.
Mencatat Pengajaran Rabi’ah Al-’Adawiyah
Rabi’ah al-Adawiyah mengembangkan ajaran yang berpusat pada cinta ilahi sebagai landasan utama ibadah. Gagasan ini dikenal melalui konsep al-mahabbah, yaitu cinta kepada Allah yang murni tanpa orientasi pada pahala, surga, maupun keselamatan dari azab. Selain itu, ia juga memperkenalkan dimensi uns, yakni kedekatan batin antara hamba dan Tuhan. Pernyataan-pernyataan mistiknya memperlihatkan kedalaman spiritual yang kemudian tersebar luas dalam khazanah keilmuan Islam sebagai ungkapan hikmah.
Rabi‘ah menjalani kezuhudan dengan sikap independen, enggan bergantung kepada manusia, serta menegaskan keyakinannya bahwa rezeki sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Pandangan ini menempatkan manusia dalam posisi kepasrahan yang disertai kerelaan hati terhadap ketentuan Ilahi.
Pemikiran Rabi‘ah menghadirkan perkembangan penting dalam sejarah tasawuf dengan menggeser orientasi spiritual dari dominasi rasa takut menuju cinta sebagai pusat pengalaman religius. Jika sebelumnya asketisme banyak dipengaruhi oleh rasa khauf dan raja’, maka melalui Rabi‘ah, dimensi cinta memperoleh kedudukan yang lebih tinggi dalam relasi manusia dengan Tuhan. Para ulama tasawuf memandangnya sebagai tonggak penting yang membuka jalan menuju ma‘rifat Ilahi.
Pengaruhnya tampak pada sejumlah tokoh seperti Hasan al-Basri, Sufyan al-Thawri, dan Malik bin Dinar yang turut mengembangkan dimensi spiritual dalam kerangka cinta ilahi. Dengan demikian, ajaran Rabi‘ah memberikan kontribusi konseptual dalam memperluas horizon tasawuf sebagai jalan pengenalan Tuhan.
Dalam perkembangan sufisme, ajaran Rabi‘ah menjadi rujukan penting bagi para pemikir setelahnya. Karya dan pemikirannya banyak dikaji serta dikutip oleh tokoh-tokoh seperti Al-Ghazali, Abu Thalib al-Makki, dan As-Suhrawardi. Mereka menjadikan gagasan cinta ilahi sebagai bagian integral dari doktrin tasawuf.
Syair-syair Rabi‘ah yang sarat dengan ekspresi cinta kepada Allah juga memberi pengaruh besar terhadap tradisi sastra sufi, yang kemudian berkembang melalui tokoh-tokoh seperti Fariduddin Attar, Ibn Arabi, dan Jalaluddin Rumi. Dalam salah satu puisinya, Rabi‘ah mengungkapkan konsep dua jenis cinta, yaitu cinta yang lahir dari kerinduan dan cinta yang bersumber dari pengakuan atas keagungan Allah. Lebih lanjut, interpretasi terhadap syair tersebut dijelaskan oleh Al-Ghazali sebagai pembedaan antara cinta yang berangkat dari kesadaran atas nikmat Ilahi dan cinta yang tumbuh dari penyaksian terhadap keindahan serta kebesaran-Nya.
Ya Illahi! Jika sekiranya aku beribadah kepada Engkau karena takut akan siksa neraka, maka bakarlah aku dengan neraka-Mu.
Dan jika aku beribadah kepada Engkau karena harap akan masuk surga, maka haramkanlah aku daripadanya!
Tetapi jika aku beribadah kepada Engkau hanya karena semata-mata karena kecintaanku kepada-Mu,
maka janganlah, Ya Illahi, Engkau haramkan aku melihat keindahanmu yang azali.
Puncak dari ajaran ini terletak pada orientasi ibadah yang sepenuhnya ditujukan kepada Allah karena Allah itu sendiri. Melalui ungkapan-ungkapan puitisnya, Rabi‘ah menegaskan bahwa tujuan spiritual tertinggi terletak pada perjumpaan batin dengan Tuhan, yang melampaui kepentingan duniawi maupun harapan eskatologis.
Simak juga kisah Rabi’ah al-’Adawiyah dalam video berikut:
https://youtube.com/shorts/FOivTsaIxXI?si=6L5pXsRI-ASGYELd
Rekomendasi