BincangMuslimah.Com – Al-Qur’an Surah Al-Balad ayat 10 berbunyi, “wa hadaynāhu an-najdayn” yang berarti, “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan petunjuk kepada manusia untuk mengenali dua pilihan hidup.
Sejak masa para ulama terdahulu, ayat ini telah ditafsirkan dengan berbagai penjelasan. Secara bahasa, kata najd sendiri berarti tempat yang tinggi atau jalan yang tampak jelas, sehingga najdayn menggambarkan dua jalan yang sama-sama tampak terang dan bisa dikenali oleh manusia.
Pandangan Para Mufasir tentang Makna Najdayn
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan riwayat dari Abdullah ibnu Mas’ud bahwa yang dimaksud dua jalan dalam ayat ini adalah kebaikan dan keburukan.
Ibnu Katsir turut menampilkan sebuah riwayat hadis dari Anas bin Malik yang menyebut Rasulullah bersabda bahwa keduanya adalah dua jalan, lalu mempertanyakan mengapa manusia justru lebih menyukai jalan keburukan daripada jalan kebaikan.
Pandangan ini menegaskan bahwa Allah tidak membiarkan manusia meraba-raba dalam kegelapan. Kedua jalan itu sama-sama tampak jelas ibarat dua dataran tinggi yang bisa dilihat dari kejauhan.
Artinya manusia tidak punya alasan untuk berdalih tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Selain itu, sebagian ulama lainnya memperluas makna ayat ini sebagai jalan kebaikan dan jalan kebatilan. Dalam kerangka ini, jalan kebaikan bermakna sebagai jalan syukur. Sementara jalan keburukan adalah jalan kufur, yaitu mengingkari nikmat tersebut.
Lebih lanjut, Sayyid Abul A’la Maududi menekankan dimensi lain dari ayat ini. Intinya adalah Allah telah menunjukkan kepada manusia jalan kebaikan dan jalan keburukan sekaligus menyediakan sarana untuk menilai dan mengenalinya, sehingga ada keputusan untuk memilih jalan kebajikan atau memilih jalan keburukan.
Pandangan yang terakhir ini menjadi dasar konsep ikhtiyar (kehendak bebas manusia). Karena pada dasarnya Allah memberi petunjuk, meski di sisi lainnya Allah juga tidak memaksakan arah langkah manusia.
Pada ayat-ayat berikutnya dijelaskan bahwa jalan yang benar sering kali merupakan jalan yang berat atau menantang (‘aqabah). Contohnya adalah membantu orang yang membutuhkan, memberi makan fakir miskin, memperhatikan anak yatim, dan membangun kesabaran serta kasih sayang dalam kehidupan sosial.
Tantangan ini semakin terasa di era digital saat ini
Arus informasi yang sangat cepat, budaya membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, serta dorongan untuk mengejar kesenangan dan pencapaian materi sering membuat banyak orang melupakan makna perjuangan moral.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua, pendidik, dan para dai. Mereka melihat bahwa generasi muda membutuhkan pemahaman agama yang lebih mendalam agar mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Oleh karena itu, perlu sebuah kerangka yang lebih jelas dalam memahami konsep najdayn. Kerangka ini dapat dibangun di atas tiga hal utama.
Pertama, memperkuat akidah dan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap perbuatan manusia. Kesadaran ini penting agar seseorang memahami bahwa setiap pilihan hidup memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Kedua, membiasakan diri menempuh jalan yang baik meskipun tidak selalu mudah. Bentuknya bisa berupa membantu sesama, menjaga kejujuran, menuntut ilmu, menghormati orang tua, serta berusaha memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Ketiga, meningkatkan literasi tafsir di tengah masyarakat. Sebab, masih banyak umat islam yang belum memahami makna Al-Qur’an secara utuh.
Dari semua uraian di atas jelas bahwa konsep najdayn mengajarkan kepada setiap manusia tentang adanya dua pilihan dan dua jalan. Allah telah menunjukkan jalan yang benar dan jalan yang salah.
Rekomendasi