Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Apakah Mengeraskan Bacaan Niat Puasa Setelah Tarawih Adalah Sunnah Nabi?

BincangMuslimah.Com – “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya……..”. (HR. al Bukhari dan Muslim). Kutipan hadis Nabi Saw. tentang niat tersebut merupakan kunci dasar dalam menjalankan semua ibadah. Bahkan imam Syafi’i menyebutkan bahwa hadis tersebut masuk dalam 70 bab masalah fiqh. Artinya dapat dipastikan niat menjadi rukun suatu ibadah, khususnya ibadah puasa.

Tradisi di kalangan masyarakat Indonesia biasanya setelah menjalankan shalat tarawih dan witir berjamaah di mushalla, langgar atau masjid, maka imam akan membimbing jamaahnya untuk melafadzkan niat puasa bersama-sama dengan suara yang keras. Lalu bagaimana hukumnya niat puasa yang dilafalkan dengan keras setelah tarawih tersebut? Berikut ulasannya.

Makna niat adalah menyengaja melakukan sesuatu. Tempat niat adalah di dalam hati setiap orang yang hendak melakukan ibadah. Oleh karena itu tidaklah cukup melafalan niat hanya dengan lisan tanpa disertai niat di dalam hati. Sebagaimana nadzam kaidah fiqih berikut ini:

أما محلها فقلب الناوي   #   في كل موضع بلامناوي

فليس يكفي اللفظ باللسان # مع خلوها من الجنان

والقلب واللسان حيث اختلفا # فليعتبر بالقلب من غير خفا

Tempatnya niat di dalam hati orangnya # di setiap tempat tanpa diragukannya

Tidaklah cukup di-lafadz-kan  saja # tanpa disertai niat dalam hatinya

Jika berbeda antara keduanya # maka hatilah yang dimenangkannya

Oleh karena itu, maka hukum niat yang dilafalkan bersama-sama setelah shalat tarawih adalah boleh. Tetapi dengan catatan harus disertai niat di dalam hati. Dan hukum melafalkan niat itu sunah menurut madzhab Syafi’i, khususnya niat berpuasa. Hal ini sebagaimana termaktub di dalam kitab Fathul Muin karya imam Zainuddin al Malibari berikut ini:

وفرضه أي الصوم نية بالقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب

Fardhu-nya puasa adalah niat dengan hati, dan tidak disyaratkan me-lafadz-kannya, tetapi disunahkan (melafalkan). Dan dengan me-lafadz-kan bersama-sama setelah puasa sangat bagus, karena agar menghilangkan was-was dan sekaligus mengingatkan akan pentingnya niat puasa di malam hari.

Ini karena puasa wajib di bulan Ramadhan tidaklah sah jika tidak berniat di malam harinya, yakni antara setelah terbenamnya matahari hingga munculnya fajar shadiq, dari magrib sampai subuh. Sebagaimana hadis Nabi Saw.

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barang siapa yang tidak berniat puasa di malam hari sebelum terbitnya fajar, maka tidak ada puasa baginya.”(HR. Abu Daud, at Tirmidzi, an Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad).

Tetapi dari kalangan madzhab maliki mengatakan bahwa melafalkan niat itu bertentangan dengan yang lebih utama, kecuali bagi orang yang ragu-ragu, maka dianjurkan melafalkan niat untuk menolak was-was. Sedangkan menurut madzhab hanafi melafalkan niat itu bid’ah karena tidak ada riwayat Rasulullah saw. dan para sahabatnya.

Akan tetapi dianggap baik untuk menolak was-was. Bahkan imam Ibnu al Qayyim di dalam Zadul Maad mengecam keras mereka yang membolehkan melafalkan niat. Beliau tidak setuju dengan pendapat imam Syafi’i. Karena menurut beliau Rasulullah saw. tidak pernah mengajarkan hal itu.

Sementara Syekh Athiyyah Shaqar di dalam Fatawa Al Azhar mengatakan bahwa hukum yang menyatakan bahwa melafadzkan niat itu adalah bid’ah, pendapat ini tidak dapat diterima, apalagi sampai mengatakan bid’ah dhalalah.

Karena para ulama’ besar membolehkannya, mereka menyebut sunah, mustahab atau mandub dalam suatu kondisi tertentu, seperti dalam keadaan was-was. Sebagaimana diketahui bersama bahwa melafalkan niat itu tidak mendatangkan mudarat, justru terkadang mendatangkan manfaat.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

*Artikel ini pertama kali dimuat di BincangSyariah.Com

Jangan Lewatkan:

Niat Shalat Tarawih

Rekomendasi

Mengqadha Puasa hari arafah Mengqadha Puasa hari arafah

Membatalkan Puasa dengan Sengaja, Bagaimana Hukumnya?

hutang puasa ramadhan hutang puasa ramadhan

Melunasi Qadha Puasa Ramadhan Dulu atau Puasa Syawal Dulu?

tiga keutamaan puasa syawal tiga keutamaan puasa syawal

Apakah Puasa Syawal Harus Dilakukan Berurutan Setelah Puasa Ramadhan?

Apakah Orang Miskin Tetap Apakah Orang Miskin Tetap

Apakah Orang Miskin Tetap Wajib Bayar Zakat?

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Terbaru

Tindik Telinga pada Bayi Tindik Telinga pada Bayi

Tindik Telinga pada Bayi dan Pandangan Islam Terhadapnya

Kajian

pakaian perempuan penutup badan pakaian perempuan penutup badan

Pakaian Perempuan di Masa Rasulullah, Edisi Penutup Badan

Kajian

julukan buruk bagi orang julukan buruk bagi orang

Hukum Memberikan Julukan yang Buruk Bagi Orang Lain

Kajian

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Tafsir ad-Dhuha; Allah Tidak Meninggalkan Nabi Muhammad

Kajian

Hukum Eyelash Extension Fikih Hukum Eyelash Extension Fikih

Hukum Eyelash Extension Menurut Ulama Fikih

Kajian

hari santri santriwati berdaya hari santri santriwati berdaya

Peringati Hari Santri, Yenny Wahid : Santriwati Harus Difasilitasi Agar Lebih Berdaya

Berita

diskriminasi pencari kerja perempuan diskriminasi pencari kerja perempuan

Diskriminasi Bagi Pencari Kerja Perempuan yang Sudah Menikah

Tak Berkategori

Kasus Kim Seon Ho Kasus Kim Seon Ho

Kasus Kim Seon Ho dan Aturan Aborsi di Indonesia

Muslimah Talk

Trending

Shalat Sunnah Rawatib Perempuan Shalat Sunnah Rawatib Perempuan

Shalat Sunnah Rawatib Bagi Perempuan, Lebih Utama di Masjid atau Rumah?

Ibadah

Empat Kiat Mendidik Anak Empat Kiat Mendidik Anak

Empat Kiat Mendidik Anak Menurut Anjuran Islam

Keluarga

keutamaan melanggengkan wudhu islam keutamaan melanggengkan wudhu islam

Keutamaan Melanggengkan Wudhu dalam Islam

Kajian

pendapat ulama membasuh tangan pendapat ulama membasuh tangan

Pendapat Ulama Mengenai Hukum Membasuh Tangan.

Kajian

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Hukum Berdiri Ketika Mahallul Qiyam

Kajian

air liur manusia najis air liur manusia najis

Benarkah Air Liur Manusia Najis?

Kajian

perempuan korban playing victim perempuan korban playing victim

Perempuan Sasaran Empuk Korban Playing Victim

Muslimah Talk

ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad ad-dhuha tidak meninggalkan nabi muhammad

Macam-macam Kitab Maulid Nabi Muhammad

Khazanah

Connect