Ikuti Kami

Kajian

Jalan Menuju Istiqamah dalam Tafsir QS. Fussilat (41): 30

Jalan Menuju Istiqamah dalam Tafsir QS. Fussilat (41): 30

BincangMuslimah.Com – Istiqamah sering dipahami sebagai kemampuan untuk terus berada di jalan yang benar. Persoalannya adalah bahwa menjaga kebaikan sering jauh lebih sulit daripada memulainya.

Al-Qur’an memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Dalam QS. Fussilat (41): 30, Allah berfirman bahwa orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka beristiqamah, akan didatangi para malaikat dengan membawa kabar agar mereka tidak takut dan tidak bersedih. Ayat ini memperlihatkan hubungan yang erat antara keyakinan dan keteguhan.

Makna Istiqamah

Kata istiqamah berasal dari akar kata qawama, yang secara harfiah berarti “berdiri tegak” atau “lurus”. Dalam konteks ayat ini, istiqamah mengandung makna keteguhan yang lurus tanpa condong ke kanan atau ke kiri.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa istiqamah pada ayat ini mencakup keteguhan dalam tauhid, dalam ketaatan, dan dalam menjauhi kemusyrikan.

Sementara itu, Al-Qurthubi mencatat adanya perbedaan pandangan di kalangan sahabat dan tabi’in mengenai cakupan istiqamah ini. Sebagian memaknainya sebagai konsisten dalam mentauhidkan Allah hingga akhir hayat, sebagian lain memperluasnya mencakup konsistensi dalam seluruh amal saleh.

Hal yang menarik dari struktur ayat ini adalah penyandingan dua unsur yaitu ucapan “Rabbuna Allah” (Tuhan kami adalah Allah) dan tindakan “tsummastaqamu” (kemudian mereka beristiqamah).

Kata “tsumma” (kemudian) di sini menunjukkan adanya jarak dan tantangan antara pengakuan dan pembuktian. Ini mengisyaratkan bahwa pengakuan iman adalah pintu masuk, sedangkan istiqamah adalah perjalanan panjang yang harus ditempuh setelahnya.

Sejumlah mufasir menegaskan bahwa Al-Qur’an sengaja tidak berhenti pada pengakuan lisan semata, karena pengakuan tanpa keteguhan tidak memiliki nilai yang berarti di hadapan Allah. Karena itu semua, ayat ini dianggap sebagai teguran halus bagi siapa pun yang menganggap keimanan cukup diselesaikan dengan ucapan.

Baca Juga:  Mahram Perempuan Keluar Rumah Menurut Ulama Kontemporer

Jalan Menuju Istiqamah

Jika demikian, maka pertanyaan berikutnya yang perlu dijawab adalah bagaimana keteguhan tersebut dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata. Berikut beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk membangun keteguhan tersebut.

Pertama, memulai dari amal yang meskipun kecil namun konsisten. Rasulullah bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini menjelaskan mengapa mujahadah (usaha bertahap) lebih efektif dibanding perubahan drastis yang sulit dipertahankan.

Kedua, menciptakan lingkungan yang mendukung. Istiqamah sulit dijaga dalam lingkungan yang tidak selaras dengan nilai yang ingin dipertahankan. Memilih pergaulan yang saling mengingatkan adalah salah satunya bentuk konkret dari upaya membangun lingkungan yang mendukung tersebut.

Ketiga, melakukan evaluasi diri (muhasabah) secara berkala. Umar bin Khattab pernah berpesan agar seseorang menghisab dirinya sendiri sebelum dihisab di akhirat. Evaluasi berkala membantu setiap individu menyadari kapan semangat mulai menurun dan kapan kebiasaan baik mulai terganggu, sehingga koreksi dapat dilakukan sejak dini sebelum menjadi pola yang permanen.

Keempat, memperbanyak doa memohon keteguhan hati. Nabi sendiri sering membaca doa “Yaa muqallibal qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). Doa ini menjadi pengingat penting bahwa istiqamah merupakan anugerah yang harus terus dimohonkan kepada Allah, mengingat hati manusia pada dasarnya rentan berubah.

Kelima, menjadikan istiqamah sebagai proses. Berbeda dengan pencapaian yang memiliki titik selesai, istiqamah menjadi perjalanan tanpa garis akhir yang pasti. Menyadari hal ini, sama halnya dengan belajar untuk tidak mudah putus asa dan terus mencoba untuk beristiqamah.

Semua penjelasan tersebut di atas menunjukkan bahwa istiqamah adalah hasil dari ikhtiar yang disengaja dan dijaga secara terus-menerus.

Baca Juga:  Wajibkah Anak-anak Memakai Hijab?

Rekomendasi

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Ditulis oleh

Alumni pascasarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta dan PKU Masjid Istiqlal, santri Pasca Tahfidz di Bayt Al-Qur'an di bawah naungan Pusat Studi Qur'an (PSQ) angkatan 23.

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect