Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

Apa Bedanya Jilbab, Hijab, dan Kerudung dalam Kajian Bahasa?

Pakaian di Masa Rasulullah
Freepik

BincangMuslimah.Com – Penggunaan penutup kepala dan rambut bagi perempuan muslim menggunakan ragam kata yang berbeda. Di Indonesia lebih trend dengan nama jilbab atau kerudung. Sedangkan term hijab baru dipopulerkan beberapa tahun terakhir, terutama saat muncul trend “Hijab Syar’i’. Tapi sebenarnya, apa perbedaan makna antara jilbab, hijab, dan kerudung dalam kajian bahasa?

Pertama, mari kita telusuri makna jilbab dalam literatur bahasa aslinya. Jilbab merupakan kata yang berasal dari bahasa Arab. Ia muncul dalam Alquran surat al-Ahzab ayat 59. Dalam kamus bahasa Arab, al-Mu’jam al-Mufasshol bi Asma`i al-Malabis ‘inda al-‘Arab (leksikon rincian nama-nama pakaian bangsa Arab) yang disusun oleh Reinhart Dozy, seorang orientalis Belanda salah satunya membahas makna jilbab.

Jilbab yang memiliki bentuk plural dengan kata “jilibbâb”, dalam kamusnya diartikan sebagai pakaian yang dikenakan oleh perempuan yang menjulur dari kepala sampai kedua telapak kaki. Biasanya dikenakan oleh perempuan Arab saat keluar dari rumahnya. Sedangkan beberapa ahli bahasa yang lainnya memaknai jilbab sebagai kain yang menutupi tubuh atau selimut.

Sedangkan dalam sumber lain, jilbab juga diartikan sebagai qamis, baju yang longgar untuk perempuan. Beberapa rujukan makna ini bisa disimpulkan, bahwa jilbab menunjukkan makna baju yang dikenakan oleh perempuan.

Dalam kamus ini, Reinhart Dozy mencari makna jilbab dari kalangan barat. Kata “jilebba” – dengan menghilangkan huruf akhir berupa “b” – yang digunakan oleh bangsa barat pada periode yang lebih modern  justru menunjukkan makna yang berbeda dari bangsa timur di Arab. Jilebba justru merujuk pada pakaian perempuan bernama camisole (قمصلة). Sebuah pakaian wanita yang biasa yang biasanya dikenakan dengan cara diikat dengan sabuk dan dikenakan di waktu-waktu tertentu dan hanya menutupi sebagian tubuh saja. Reinhart yakin bahwa kata jilebba yang digunakan oleh bangsa barat ini adalah kata yang diadopsi dari bahasa Arab.

Sedanagkan dalam sumber lain, al-Libas fii ‘Ashri ar-Rasul karya Muhammad bin Faris al-Jamil. Jilbab masuk dalam kategori pakaian yang menutupi badan. Kamus ini mengklasifikasikan pakaian berdasarkan anggota tubuh yang ditutupi. Seperti pakaian untuk wajah, untuk kepala, untuk badan, bahkan untuk tangan dan kaki. Muhammad bin Faris mengkategorikan jilbab sebagai pakaian yang menutupi badan. Ia mengartikan jilbab adalah pakaian yang dikenakan oleh perempuan melebihi khimar yang menutupi kepala dan dadanya. Artinya, ia lebih luas dari sekedar penutup kepala.

Makna ini merujuk pada surat al-Ahzab ayat 59 yang menyebutkan kata jilbab untuk dikenakan oleh istri-istri Nabi, anak keturunan dan perempuan mukmin. Begitu juga perintah Nabi kepada perempuan saat hari raya agar mengenakan jilbab saat keluar untuk menyaksikan khutbah dan syiar Islam,

“ لِتُلْبِسْهَا صَاحِبَتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا”

“Hendaklah temannya meminjamkan jilbab miliknya kepadanya.”

Dari dua sumber tersebut, Reinhart dan Muhammad bin Faris sama-sama menyebutkan bahwa makna jilbab merujuk pada pakaian yang menjulur dari kepala, dada, dan kaki. Ia masuk pada kategori pakaian yang menutupi tubuh perempuan.

Sedangkan makna hijab dalam al-Mu’jam al-Arabi li Asma` al-Malabis karya Rajab Abdul Hawwad Ibrahim merujuk pada makna batasan antara dua hal,

كلّ ما حال بين شيئين

“segala sesuatu yang menghalangi dua hal”

Hijab yang diperintahkan oleh Allah kepada istri-istri Rasul adalah hijab yang menghalangi pandangan orang-orang di luar rumah Rasul ke dalam aktifitas di dalam rumah. Disebutkan dalam surat al-Ahzab ayat 59. Kemudian maknanya meluas pada kain yang menutupi perempuan merdeka saat keluar. Anggota tubuh yang ditutupi meliputi kepala dan wajah, kecuali kedua telapak tangan. Ia juga memiliki nama lain seperti al-Litsam, al-Qina’, dan al-Burqa’, demikian keterangan dari Rajab.

Sedangkan makna hijab sebelum Islam, pada masa Jahiliah hijab berarti pembatas, tabir, atau tirai. Adapun hijab bagi perempuan Arab menunjukkan kain yang menutupi kepala, hidung bahkan kedua mata dan alis. Jadi, hijab juga dimaknai sebagai penutup kepala yang juga menutupi rambut dan sebagian wajah.

Adapun istilah kerudung populer di kalangan orang Melayu seperti Malaysia dan Indonesia. Pada era tahun 1980-an, term kerudung mulai populer meski kemudian tidak lama setelah itu lebih dikenal dengan term jilbab. Hal ini sebagaimana yang dituturkan oleh Arif Nuh Safri dalam artikel jurnalnya “Pergeseran Mitologi Jilbab”.

Dalam bahasa sehari-hari kerudung menunjukkan kain penutup kepala yang meliputi rambut dan leher. Adakalanya dikenakan dengan jarum atau dililit saja di leher. Makna kerudung sudah lazim digunakan untuk kain yang dikenakan perempuan untuk menutupi kepalanya. Terlepas dengan bagaimana cara penggunaannya.

Demikian perbedaan istilah jilbab, hijab, dan kerudung menurut bahasa aslinya. Ketiganya identik dengan pakaian yang dikenakan oleh perempuan.

 

 

Rekomendasi

Siswi SMA Dipaksa Berjilbab Siswi SMA Dipaksa Berjilbab

Siswi SMA Negeri Bantul Dipaksa Berjilbab, Seharusnya Tiada Paksaan dalam Berjilbab

Ayana Moon Tidak Berjilbab Ayana Moon Tidak Berjilbab

Ayana Moon Tidak Berjilbab Saat di Korea, Ini Hukumnya Menurut Fatwa Mesir

anak rambut aurat shalat anak rambut aurat shalat

Apakah Anak Rambut yang Tumbuh di Dahi Termasuk Aurat dalam Shalat?

Kesalahan Perempuan Memakai Mukena Kesalahan Perempuan Memakai Mukena

Kesalahan Perempuan Saat Memakai Mukena

Zahrotun Nafisah
Ditulis oleh

Sarjana Studi Islam dan Redaktur Bincang Muslimah

Komentari

Komentari

Terbaru

Kisah Ibnu Rusyd yang Pernah Ditolong oleh Yahudi

Kajian

seragam sekolah identitas keagamaan seragam sekolah identitas keagamaan

Sengkarut Seragam Sekolah dengan Identitas Keagamaan, Akankah Sekolah Berujung Jadi Ranah Intoleransi?

Muslimah Talk

Drama Extraordinary Attorney Woo Drama Extraordinary Attorney Woo

Perempuan Penyandang Disabilitas Mental menjadi Pengacara Hebat di Drama Extraordinary Attorney Woo

Muslimah Talk

Muawiyah Menikahi non muslim Muawiyah Menikahi non muslim

Kisah Khalifah Muawiyah Menikahi Perempuan Non Muslim

Khazanah

Bulan Haram 3 Berurutan Bulan Haram 3 Berurutan

Mengapa Bulan Haram 3 Berurutan, Sedangkan 1 Bulan Terpisah?

Kajian

Pekan ASI Sedunia ibu Pekan ASI Sedunia ibu

Pekan ASI Sedunia: Ayah Perlu Jadi Support System untuk Ibu

Muslimah Talk

jalan damai kasus perundungan jalan damai kasus perundungan

Tidak Ada Penyelesaian ‘Jalan Damai’ pada Kasus Perundungan dan Kekerasan Seksual

Muslimah Talk

Siswi SMA Dipaksa Berjilbab Siswi SMA Dipaksa Berjilbab

Siswi SMA Negeri Bantul Dipaksa Berjilbab, Seharusnya Tiada Paksaan dalam Berjilbab

Muslimah Talk

Trending

Memahami Makna I'jaz Al Qur'an Memahami Makna I'jaz Al Qur'an

Memahami Makna I’jaz Al Qur’an

Kajian

Bulan Haram 3 Berurutan Bulan Haram 3 Berurutan

Amalan yang Bisa Dilakukan di Awal Tahun Hijriah

Ibadah

Perempuan dalam Historiografi Islam Perempuan dalam Historiografi Islam

Perempuan dalam Historiografi Islam

Kajian

Sejarah Kurban Sebelum Islam Sejarah Kurban Sebelum Islam

Sejarah Kurban Sebelum Nabi Ibrahim

Kajian

Tempat Duduk jenis kekerasan Tempat Duduk jenis kekerasan

Efektifkah Pemisahan Tempat Duduk Penumpang Berdasarkan Jenis Kelamin untuk Menangkal Kekerasan Seksual?

Muslimah Talk

Pelaku Pemerkosaan Dibela Ayahnya Pelaku Pemerkosaan Dibela Ayahnya

Pelaku Pemerkosaan Dibela Ayahnya, Padahal Nabi Tegas Menegakkan Hukum Termasuk pada Anaknya

Khazanah

Tingkatan Cinta Ibnu Arabi Tingkatan Cinta Ibnu Arabi

Tingkatan Cinta Menurut Ibnu Arabi

Kajian

Rasulullah Disalip Emak-emak Rasulullah Disalip Emak-emak

Kisah Rasulullah Disalip Emak-emak

Khazanah

Connect