BincangMuslimah.Com – Pada bulan Syawal yang mulia ini, sunah bagi kita untuk melaksanakan puasa selama 6 hari atau lebih dikenal dengan puasa Syawal. Salah satu keutamaan dari puasa ini adalah menyempurnakan puasa pada bulan Ramadan. Karena ketika seseorang melakukan puasa Ramadan lalu kemudian puasa 6 hari di bulan Syawal, seolah-olah orang tersebut sudah puasa selama setahun penuh. Namun, dalam pelaksanaannya, ada beberapa hal yang sering disalahpahami. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Puasa Enam Hari Berturut-Turut
Pertama, mengerjakan puasa Syawal harus secara berturut-turut. Sebagian orang menyangka bahwa 6 hari puasa di bulan Syawal harus secara berturut-turut. Akan tetapi, ternyata anggapan ini keliru. Karena puasa sunnah Rajab boleh secara berturut-turut ataupun terpisah (tidak berturut-turut). Hal ini sebagaimana yang penjelasan Abu Husein Yahya bin Abi al-Khair al-Yamani di dalam kitab al-Bayan fi Mazhab al-Imam asy-Syafi’I juz 3 halaman 548:
يستحب لمن صام رمضان أن يتبعه بست من شوال، والمستحب: أن يصومها متتابعة، فإن صامها متفرقة جاز
“Disunnahkan bagi orang yang melaksanakan puasa Ramadan untuk melakukan puasa 6 hari di bulan Syawa. Dan sunah untuk puasa sunnah Syawal tersebut secara berturut-turut. Akan tetapi, jika seseorang melakukan puasa sunnah Syawal secara terpisah, maka boleh.
Memulai Puasa Pada Tanggal 2 Syawal
Kedua, harus memulai puasa Syawal pada tanggal 2 Syawal. Puasa Syawal memang boleh dimulai sejak tanggal 2 Syawal atau tepat setelah hari raya idul fitri bahkan hal ini adalah yang paling utama. Namun, memulai puasa Syawal pada tanggal 2 Syawal ini bukan sebuah keharusan. Karena puasa Syawal boleh kapanpun selagi masih berada pada bulan Syawal. Sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi al-Bantani di dalam kitab Nihayah al-Zain fi Irsyad al-Mubtadi-in halaman 197:
و) الرَّابِع صَوْم (سِتَّة من شَوَّال) لحَدِيث من صَامَ رَمَضَان ثمَّ أتبعه سِتا من شَوَّال كَانَ كصيام الدَّهْر وَلقَوْله أَيْضا صِيَام رَمَضَان بِعشْرَة أشهر وَصِيَام سِتَّة أَيَّام بشهرين فَذَلِك صِيَام السّنة أَي كصيامها فرضا وَتحصل السّنة بصومها مُتَفَرِّقَة مُنْفَصِلَة عَن يَوْم الْعِيد لَكِن تتابعها واتصالها بِيَوْم الْعِيد أفضل وتفوت بِفَوَات شَوَّال وَيسن قَضَاؤُهَا
“(puasa sunnah) yang keempat adalah puasa 6 hari di bulan Syawal. Berdasarkan hadits -barangsiapa yang melakukan puasa Ramadan kemudian mengikutkan puasa tersebut dengan puasa 6 hari di bulan Syawal maka orang tersebut seperti puasa setahun penuh-. Dan karena sabda Rasulullah juga -puasa Ramadan setara dengan puasa selama 10 bulan dan puasa 6 hari setara dengan puasa 2 bulan sehingga puasa tersebut adalah puasa selama setahun. Maksudnya seperti puasa fardlu. Dan kesunnahan inni akan tercapai dengan melakukan puasa Syawal baik berturut-turut maupun terpisah dari hari raya idul fitri. Akan tetapi, berturut-turut dan menyambung puasa Syawal dengan hari raya adalah lebih utama. Dan puasa sunnah Syawal ini akan luput ketika berlalunya bulan Syawal. Dan sunah untuk mengqadla’nya.”
Niat Puasa Qada dan Puasa Syawal
Ketiga, harus berniat qadla’ dan sunnah Syawal ketika melakukan puasa qadla’ (ganti puasa Ramadan) di bulan Syawal agar tetap mendapatkan kesunnahan. Ketika memiliki hutang puasa Ramadan, maka sudah seharusnya mendahulukan puasa qada’ ini daripada melakukan kesunnahan.
Akan tetapi, bagi orang-orang yang memiliki tanggungan puasa qada’ ini tidak perlu khawatir. Karena baik mengqadla’ puasa ataupun sunnah puasa di bulan Syawal masih dapat tercapai dengan semata-mata meniatkan puasa qada’ saja. Sebagaimana yang keterangan Syekh Abu Bakar Syatha al-Dimyathi di dalam kitab I’anah al-Thalibin ‘ala Halli Alfazh Fath al-Mu’in juz 2 halaman 252:
زاد في الإيعاب ومن ثم أفتى البارزي بأنه لو صام فيه قضاء أو نحوه حصلا، نواه معه أو لا
“Lalu ditambahkan di dalam kitab al-I’ab dan dari sana Syekh al-Barazi berfatwa bahwa seandainya pada hari yang disunnahkan untuk berpuasa seseorang melakukan puasa qadla’ atau semisalnya, maka keduanya tercapai. Baik ia meniatkannya ataupun tidak.”
Demikianlah beberapa hal yang sering disalahpahami dalam pelaksanaan puasa Syawal yang berujung kesan bahwa puasa Syawal sulit untuk dilakukan. Padahal Allah sudah menjadikan Islam sebagai agama yang toleran dan tidak memberatkan. Sehingga tentu dalam melaksanakan berbagai ibadah ataupun lainnya terdapat banyak cara yang dapat mempermudah para hamba untuk menjalankannya.
Semoga bermanfaat.
Rekomendasi