BincangMuslimah.Com – Rasa-rasanya, mau semaju apa pun teknologi atau ekonomi suatu negara, jika patriarki sudah mengakar sangat dalam, maka langkah perempuan tetap terasa berat. Fisik dan mental diperah, dan mengorbankan masa depan adalah niscaya.
Adalah Kim Ji-Yeong, seorang perempuan, istri sekaligus ibu. Pada suatu waktu, dirinya mulai mengalami gangguan kesehatan mental di usia 33 tahun. Tepatnya di tahun 2015. Kim Ji Yeong beberapa kali ‘dirasuki’ oleh kerpibadian perempuan-perempuan yang dikenal. Ia bisa saja tiba-tiba menjadi sahabatnya yang telah meninggal. Bahkan Kim Ji Yeong bisa menjadi ibunya sendiri.
Novel ini dibuat dengan penulisan alur mundur dalam bentuk catatan medis dari seorang dokter spesialis kejiwaan. Melalui catatan medis ini, pembaca dibawa flash back. Melihat seluruh perjalanan hidup Ji-yeong sejak kecil hingga dewasa. Memahami mengapa mental Kim Ji Yeong bisa mengalami ganguan.
Dimulai dari masa kecilnya, Kim Je Yeong mengalami ketidakadilan sejak di dalam rumah. Di mana nenek, dan ayahnya lebih mengutamakan adik laki-lakinya. Kebutuhan Kim Ji Yeong dengan kakak perempuannya selalu jadi urusan nomor dua. Sedangkan adik laki-lakinya, harus dapat kualitas utama. Mereka berdua, selalu dapat giliran terakhir setelah adik laki-lakinya.
Tidak hanya di rumah. Ketidakadilan karena ‘menjadi’ perempuan pun mereka terima di sekolah. Di antaranya, aturan seragam yang dikenakan. Siswi punya aturan jauh lebih ketat namun tidak masuk akan dibandikan siswa.
Siswa selalu mendapatkan absen pertama, sedangkan siswi perempuan selalu ditempatkan setelahnya. Hal ini menanamkan pola pikir sejak dini. Bahwa laki-laki selalu memimpin di depan. Dan perempuan harus berada di belakang laki-laki.
Peristiwa lain yang cukup mencengangkan, adalah saat Kim Ji Yeong nyaris menjadi korban pelecehan seksual. Sang ayah justru memarahi Ji-yeong. Ayahnya menyalahkan Kim Ji Yeong karena tersenyum pada orang asing, kurang waspada dan pulang saat hari sudah gelap. Padahal, Kim Ji Yeong hanya pulang dari tempat bimbingan belajar.
Saat menjajaki perguruan tinggi, diskriminasi tidak berhenti begitu saja. Sebaliknya, malah semakin menjadi-jadi, mencengkram dan begitu menyesakkan. Saat melamar tempat magang sembari meyiapkan kelulusan, Kim Ji Yeong merasakan. Perusahaan lokal lebih memilih merekrut mahasiswa laki-laki untuk posisi magang.
Hal menyedihkan lainnya adalah, kampus bahkan memprioritaskan rekomendasi kerja untuk mahasiswa pria. Alasannya terdengar begitu menyakinkan, “perempuan akan menyusahkan jika nanti menikah.
Pun setelah Kim Ji yeong berhasil mendapatkan pekerjaan. Tapi ‘ujian’ tidak berhenti sampai di sana. Ia mendapati bahwa karyawan laki-laki baru dengan kualifikasi yang sama langsung mendapatkan gaji yang lebih tinggi.
Selama ia bekerja, perusahaan sengaja membentuk tim proyek jangka panjang yang hanya berisi karyawan laki-laki. Alasan manajemen adalah perempuan tidak bisa diandalkan dalam jangka panjang karena akan mengambil cuti hamil. Kim Ji-yeong dan rekan perempuan lainnya juga sering kali dipaksa menuangkan minuman untuk klien atau bos pria. Tidak jarang mereka mengalami lelucon berbau seksualitas.
Kisah hidup Kim Ji Yeong Ji-yeong tidak berhenti sampai di sana. Setelah menikah dan punya seorang anak, ia terpaksa mengorbankan karier yang dibangun dengan susah payah. Kim Ji Yeong engundurkan diri demi mengurus anak, karena biaya penitipan anak terlalu mahal dan suaminya tidak mungkin mengambil cuti.
Di sisi lain, dirinya juga kehilangan interaksi sosial orang dewasa, terkurung di apartemen kecil. Kelelahan secara fisik maupun mental karena mengurus bayi seorang diri tanpa sistem pendukung (support system) yang memadai.
Poin-poin penting
Buku ini menunjukkan jika gangguan psikologis yang dialami si tokoh utama tidak dipicu oleh satu kejadian besar. Hal ini terjadi karena adanya Kumpulan, akumulasi diskriminasi yang terus-menerus dialami sejak kecil. Perkataan seksis, favoritisme di rumah, dan candaan merendahkan di tempat kerja bukanlah hal sepele. Dampaknya bisa merusak mental seseorang di kemudian hari.
Novel ini juga menampilkan pentingnya berbagi peran dalam pernikahan. Lihat saja bagaimana beratnya menjadi Kim Ji-yeong. Ia terpaksa mengorbankan kariernya demi mengurus anak sendirian. Tidak sampai di sana.
Kim juga mengalami isolasi sosial dan kelelahan ekstrem. Kondisi yang dialami Kim Ji Yeong sebenarnya bisa diantisipasi. Pengasuhan anak dan urusan rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas istri. Suami perlu terlibat aktif secara emosional dan fisik, bukan sekadar menjadi “pembantu” sesekali.
Selain itu, menyalahkan korban pelecehan seksual juga harus dihentikan. Bagian ayah yang menyalahkan Kim Ji Yeong yang nyaris alami pelecehan seksual sesungguhnya masih ramai ditemukan. Masyarakat masih saja ada yang menghakimi korban saat alami kekerasan seksual.
Dan poin paling penting adalah perlunya memerhatikan sistem kerja yang setara. Sistem kerja yang tidak fleksibel, hingga kesenjangan upah berbasis gender memaksa banyak perempuan berpotensi kehilangan karier mereka setelah memiliki anak (glass ceiling).
Penyedia kerja dan pemerintah adalah pentingnya menciptakan regulasi yang mendukung ibu bekerja, seperti ruang menyusui yang layak, cuti melahirkan yang adil bagi ayah dan ibu, serta kesempatan promosi yang setara.
Ulasan Novel: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982
- Judul Asli: 82년생 김지영 (82-nyeon-saeng Kim Ji-yeong)
- Penulis: Cho Nam-joo
- Penerbit (Indonesia): Gramedia Pustaka Utama
- Tebal: 192 halaman
- Genre: Fiksi / Realisme Sosial / Feminisme
Rekomendasi