Ikuti Kami

Subscribe

Muslimah Daily

Benarkah Sulam Alis Tidak Boleh dalam Islam?

BincangMuslimah.Com – Sulam alis menjadi tren para wanita untuk menunjang penampilannya, terutama wanita perkotaan. Klinik-klinik yang menyediakan layanan ini pun makin marak dengan membandrol harga yang bermacam-macam. Fitrahnya, perempuan manapun selalu ingin nampak selalu cantik. Namun Islam telah mengatur umatnya untuk tidak melampaui aturan-aturan yang telah ditetapkan.

Sebelum beranjak ke pembahasan hukum sulam alis, kita perlu perhatikan bagaimana praktik sulam alis yang terjadi?

Sulam alis adalah prosedur kosmetik untuk mengisi alis dengan menanamkan pigmen berwarna dengan tekstur menyerupai rambut asli mengikuti jalur pertumbuhan rambut asli, alias feathering. Hampir sama dengan tato, hanya saja sulam alis penanaman pigmen warnanya tidak sampai ke lapisan terdalam. Warna hasil sulam alis pun tidak berlaku permanen seperti tato, ia hanya sampai pada lapisan epidermis dan hanya bertahan dua hingga tiga tahun.

Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim :

عن إبراهيم عن علقمة عن عبد الله قال لعن الله الواشمات والمستوشمات والنامصات والمتنمصات والمتفلجات للحسن المغيرات خلق الله

Artinya: dari Ibrahim bin Alqomah dari Abdillah Ra. berkata Allah melaknat wanita yang memasang tato, orang yang meminta ditato, yang menghilangkan rambut dari wajahnya, yang meminta dihilangkan rambut wajahnya dan yang mengikir giginya untuk memperindah dan mengubah ciptaan Allah.

Dalam kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, Imam Nawawi menjelaskan bahwa al-Waasyimah yang merupakan bentuk fail (subjek) berasal dari kata wasyama yang bermakna memasukkan jarum ke dalam salam satu anggota tubuh untuk ditanamkan warna kemudian warnanya berubah menjadi biru yang dalam praktik kita kenali adalah tato. Sulam alis pun demikian, meski tidak sampai ke lapisan terdalam.

Praktik sulam alis selain masuk kategori mentato (al-wasym) ia juga masuk praktik an-nashimah, yaitu pelaku pencukur rambut wajah. Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab yang sama bahwa keharaman mencukur rambut di wajah adalah pada alis dan rambut pinggir wajah (wa anna an-nahya innamaa huwa fii al-hawaajib wa maa fii ath-rofi al-wajh). Namun jika seorang perempuan yang tumbuh kumis dan jenggot maka diperbolehkan bahkan disunahkan untuk menghilangkannya.

Hal yang dipermasalahkan dalam praktik sulam alis adalah karena menyerupai tato, menyakitkan, dan merubah ciptaan Allah. Hadis di atas juga menerangkan keharaman melakukan praktik yang telah disebutkan disebabkan tujunnya yaitu mengubah ciptaan Allah.

*Artikel ini pernah dimuat BincangSyariah.Com

Rekomendasi

Zahrotun Nafisah
Ditulis oleh

Mahasiswa Jurusan Dirasat Islamiyah UIN Jakarta

Komentari

Komentari

Terbaru

membahagiakan ibu membahagiakan ibu

Definisi Anak Menurut Hukum, Umur Berapa Seorang Anak Dianggap Dewasa?

Kajian

Murtadha Muthahhari: Perempuan Butuh Kesetaraan, Bukan Keseragaman

Kajian

Riset Google: Wirausaha Perempuan di Indonesia Paling Banyak dari 12 Negara

Kajian

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 247: Membincang Kredibilitas Seorang Pemimpin

Kajian

Persiapan Calon Pengantin Menurut Agama, Check!

Muslimah Daily

Shafiyyah binti Huyay: Istri Nabi, Seorang Perempuan Yahudi yang Masuk Islam

Khazanah

Islamic Virtual Festival 2020 Digelar, Nazaruddin Umar: Mari Selami Spirit Kenabian

Muslimah Daily

orangtua dan guru orangtua dan guru

Peran Ganda Perempuan yang Berprofesi sebagai Guru

Kajian

Trending

Hukum Menginjak Makam Orang Muslim

Ibadah

Pengertian Keluarga Sakinah dan Makna Perkawinan dalam Islam

Keluarga

bersetubuh sebelum bersuci bersetubuh sebelum bersuci

Hukum Bersetubuh Sebelum Bersuci dari Haid

Kajian

krisis quarter life krisis quarter life

Perempuan Rentan Krisis Quarter Life: Kenali dan Hadapi

Diari

Perempuan Harus Menjadi Pembelajar

Muslimah Daily

menolak dijodohkan menolak dijodohkan

Kisah Pertemuan Kanjeng Nabi Muhammad dengan Siti Khadijah

Keluarga

Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Rahmah El-Yunusiah Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Rahmah El-Yunusiah

Konsep Pendidikan Perempuan Menurut Rahmah El-Yunusiah

Kajian

Selesai Haid tetapi Belum Mandi, Apakah Tetap Wajib Berpuasa? Selesai Haid tetapi Belum Mandi, Apakah Tetap Wajib Berpuasa?

Delapan Perkara yang Dilarang bagi Perempuan Haid

Ibadah

Connect