BincangMuslimah.Com- Rasulullah saw dikenal sebagai sosok yang jujur, adil dan bijak bahkan sebelum beliau diangkat sebagai rasul. Hal ini terlihat salah satunya dari kisah revitalisasi ka’bah oleh Rasulullah saw dan saran bijak beliau untuk mempersatukan kabilah Quraisy terkait peletakan hajar Aswad.
Kisah Rasulullah Merevitalisasi Ka’bah
Abu al-Fida’ di dalam kitab Ruh al-Bayan Jilid 6 halaman 23 mengutip dari Kitab Tafsir Jalalain bahwa Ka’bah pernah dibangun sebanyak 5 kali.
Pertama, pembangunan oleh para malaikat sebelum nabi Adam, saat itu Ka’bah terbuat dari batu permata merah, lalu diangkat ke langit pada masa banjir besar.
Kedua, pembangunan oleh nabi Ibrahim atas perintah dari Allah swt. Saat itu, nabi Ibrahim sejatinya belum mengetahui di mana Ka’bah harus dibangun. Lalu Allah memberikan petunjuk melalui al-khajuj (angin atau menurut al-Kalbi adalah awan) yang menyapu area yang harus dibangun yang ternyata adalah tempat Ka’bah yang lama dibangun.
Ketiga, pembangunan yang dilakukan oleh suku Quraisy pada zaman Jahiliyyah yang dilakukan sekitar 15 tahun.
Keempat, pembangunan Ka’bah oleh Abdullah bin al-Zubair.
Kelima, pembangunan Ka’bah dilakukan ileh al-Hajjaj, yakni bentuk Ka’bah yang kita lihat hingga saat ini.
Pada pembangunan Ka’bah ketiga yang dilakukan oleh orang-orang suku Quraisy, Ka’bah pernah mengalami kerusakan akibat banjir besar hingga fondasi dan dinding Ka’bah terkikis. Untuk memperbaikinya, para kabilah Quraisy bahu membahu untuk memperbaiki Ka’bah. Hingga sampai pada tahap yang paling krusial. Yakni peletakan Hajar Aswad, batu hitam yang memiliki nilai sakral dan historis yang tinggi hingga siapa pun yang mendapat kehormatan meletakkannya dianggap memperoleh kemuliaan besar.
Karena hal ini, perselisihan pun tak dapat dihindarkan. Setiap kabilah merasa paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad tersebut. Dalam keadaan demikian, hadirlah sosok Rasulullah memberikan saran yang sangat bijak. Saat itu Rasulullah menyampaikan saran bahwa siapapun yang pertama kali datang ke tempat tersebut keesokannya maka ia yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad. Hal ini pun disepakati oleh para kabilah Quraisy.
Rasulullah Meredam Konflik antar Kabilah
Saat hari itu tiba, ternyata Rasulullah lah yang pertama kali hadir. Namun, alih-alih Rasulullah meletakkan sendiri Hajar Aswad ke tempat semestinya, Rasulullah justru membentangkan sorbannya dan memberikan kesempatan pada setiap kabilah untuk memegang setiap sudut sorban tersebut. Hajar Aswad pun akhirnya di angkat bersama-sama menuju tempatnya. Sementara Rasulullah berkesempatan untuk meletakkan Hajar Aswad tersebut ke tempat semula sebagaimana saran yang sudah disepakati.
Kisah revitalisasi ka’bah merupakan salah satu bukti bagaimana Rasulullah mampu meredam konflik yang semula tampak tak bisa terhindarkan. Bukan hanya pemberi saran yang cerdas dan bijak, kisah ini juga memberikan keteladanan sifat Rasulullah yang mengutamakan nilai-nilai persatuan, musyawarah dan keadilan yang pada prinsipnya merupakan fondasi terpenting dalam kehidupan sosial.
Dengan demikian, gelar al-Amin (dapat dipercaya/orang yang amanah) pada Rasulullah bukan hanya gelar karena Rasulullah adalah manusia pilihan, melainkan juga sifat pribadi Rasulullah yang sudah melekat pada dirinya bahkan sebelum beliau menjadi Rasul.
Rekomendasi