Ikuti Kami

Subscribe

Kajian

3 Faktor Perempuan Mampu Berperan di Ranah Politik Menurut Sinta Nuriyah Wahid

Peran Politik Perempuan
detaktangsel.com

BincangMuslimah.Com – Ibu Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid, selain dikenal sebagai istri Gusdur presiden Indonesia yang ke empat, juga dikenal sebagai perempuan yang memiliki pemikiran yang ikonik khususnya terkait keadilan perempuan dan pluralisme. Bentuk pemikiran ibu Sinta Nuriyah yang terstruktur ini juga masih jarang diketahui, karena beliau lebih aktif action langsung dari pada bersuara di media.

Pemikiran Ibu Sinta Nuriyah ini terlahir juga karena peran beliau yang sungguh aktif luar biasa pada keadilan perempuan. Selama bertahun-tahun Ibu Sinta Nuriyah pengabdikan dirinya sebagai aktivis swadaya masyarakat, beliau pernah menjadi pimpinan Lembaga Swadaya Masyarakat Puan Amal Hayati, sebagai seorang peneliti bahkan juga advokator untuk hak-hak perempuan dari kaum yang termajinalkan.

Ibu Sinta Nuriyah Wahid juga memiliki jejak sebagai mantan wartawan sekaligus memiliki latar belakang pendidikan bidang kajian wanita. Maka tidak heran, jika setiap gagasan yang beliau berikan terkait perempuan sangat jelas, runtut, argumetatif serta obyektif.

Ibu Sinta Nuriyah mengalami kelumpuhan kaki sudah sejak beliau mengenyam pendidikan Masternya di kampus UI, dan mulai saat itu, beliau sudah mulai berteman dengan tongkatnya untuk membantu beliau berjalan. Meski ada tragedi musibah yang dialami oleh bu Sinta, tidak menjadikan pudarnya semangat bu Sinta untuk tetap berperan aktif pada pemberdayaan perempuan dan keadilan perempuan.

Berangkat dari sini, kita ingin membumikan kembali segala pemikiran beliau terkait perempuan. Belia juga menegaskan bahwa wanita berhak untuk berperan aktif pada ranah politik. Berikut ibu Sinta Nuriyah juga menjelaskan terkait faktor yang menyebabkan perempuan dapat berperan aktif pada ranah politik di Indonesia. Beliau mengelomppokkan ada tiga faktor yang menjadi penyebabnya. Berikut ulasannya.

 

Tiga Faktor Perempuan Mampu Menempatkan Peran di Ranah Politik

Mengutip ulasan ibu Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid pada karyanya yang berjudul Perempuan dan Pluralisme, beliau mengatakan ada tiga faktor yang menyebabkan perempuan dalam berperan pada ranah politik.

Faktor yang pertama ialah sistem dan struktur politik. Secara historisitas, sistem politik di Indonesia memberikan peluang terhadap perempuan untuk masuk kedalam bagian politik. Baik itu sistem politik yang bersifat kerajaan atau monarki maupun sistem politik pemerintahan yang bersifat demokrasi, yang mana peran perempuan mampu menempati posisi dalam kancah politik.

Kemudian faktor yang kedua, yaitu faktor kultural. Meskipun banyak masyarakat Indonesia yang menyatakan atau menuduh, bahwa Indonesia masih menganut sistem budaya patriarki. Namun, jika kita mengkoscek sejarah, ternyata banyak peran perempuan dalam proses memperjuangkan negara kesatuan Indonesia.

Dan jelasnya, peran perempuan tidak hanya bermain dibalik layar, akan tetapi juga berhak memiliki posisi dalam pusat kekuasaan. Fenomena ini sudah terjadi di Indonesia, jauh sebelum barat mempresentasikan tentang gagasan modernisme dan rasionalisme. Ini artinya, kultur yang ada di Indonesia bukan menjadi hambatan bagi pejuang politik perempuan di Indonesia. Karena perlu ditegaskan kembali bahwa, kultur Indonesia membuka lebar pada peran perempuan.

Kemudian faktor yang ketiga adalah faktor kapasitas dan kualitas perempuan. Di sini, sebenarnya faktor pertama dan kedua yang sudah dijelaskan di atas bukanlah faktor yang dominan. Akan tetapi faktor yang ketiga inilah yang dominannya, yakni faktor kapasitas dan kualitas inidividu perempuan.

Artinya adalah, sistem poltik yang berjalan dan kultur yang ada, tidak banyak berpengaruh, jika ia memiliki kapasitas yang layak dan bisa mencapai posisi politik yang bagus serta strategis. Maka, dia bisa menempati peran politik di Indonesia.

Oleh karena itu, dari sini kita dapat memahami bahwa kondisi Indonesia yang demikian, menurut ibu Sinta Nuriyah, yang terpenting bagi pejuang politik perempan ialah meningkatkan kualitas pemikiran dan kapabilitas kaum perempuan khususnya di bidang politik.

Bentuk pemikiran yang dimiliki oleh Sinta Nuriyah ini juga tidak terlepas dengan peran Gusdur, yang bersikap konsisten terhadap pemberdayaan perempuan, meskipun menghadapi banyak resiko. Tujuan Gusdur melakukan pemberdayaan perempuan ialah bukti bahwa kaum perempuan juga bisa mentransformatifkan keberagaman dari yang simbolik formal kearah yang lebih transformatif subtansial.

Rekomendasi

Norma Azmi Farida
Ditulis oleh

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di CRIS Foundation (Center for Research dan of Islamic Studies)

Komentari

Komentari

Terbaru

Tips Menjaga Kesehatan Ibu Hamil Agar Janin Tumbuh Sehat

Muslimah Daily

perempuan ideal dalam al-qur'an perempuan ideal dalam al-qur'an

Ingin Mendapatkan Pahala Seperti Haji dan Umrah? Lakukan Shalat Sunnah Ini!

Ibadah

perempuan dan tuhannya perempuan dan tuhannya

Karimah al-Marwariyah, Ulama Perempuan yang Enggan Menikah

Kajian

Sholihah Wahid Hasyim: Tokoh Perempuan yang Aktif di Bidang Politik  

Kajian

Tafsir QS. Yūnus [10] Ayat 99: Ajaran Al-Qur’an tentang Toleransi

Kajian

Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan

Tujuh Pembagian Waktu Shalat saat Isya, Mana yang Paling Utama?

Ibadah

Mengenali Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Bagaimana Solusinya?

Kajian

perempuan khitan perempuan khitan

Melacak  Hadits Tentang Sunat Perempuan  

Kajian

Trending

Anak perhiasan dunia Anak perhiasan dunia

Parenting Islami: Mendidik Generasi Tauhid di Era Modern

Keluarga

Hukum Menginjak Makam Orang Muslim

Ibadah

Perbedaan Najis Ainiyah dan Najis Hukmiyah serta Cara Mensucikannya

Ibadah

krisis quarter life krisis quarter life

Perempuan Rentan Krisis Quarter Life: Kenali dan Hadapi

Diari

resolusi jihad resolusi jihad

Refleksi Hari Santri: Menghidupkan Semangat Resolusi Jihad di Masa Kini

Muslimah Daily

Pengertian Keluarga Sakinah dan Makna Perkawinan dalam Islam

Keluarga

Perempuan Harus Menjadi Pembelajar

Muslimah Daily

Mengenal Tradisi Mulidan di Masyarakat Lombok

Kajian

Connect