Ikuti Kami

Keluarga

Empat Kiat Mendidik Anak Menurut Anjuran Islam

Ustadzah Oki Setiana Dewi
Gettyimages.com

BincangMuslimah.Com – Menurut perspektif Islam, anak merupakan  amanah yang juga bisa berujung menjadi fitnah jika pendidikan tidak diberikan dengan baik. Kelak di akhirat akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah. Dengan demikian, setiap orang tua berkewajiban untuk mendidik anaknya agar menjadi insan yang shaleh dan shalehah. Pun orang tua bertugas memberikan pendidikan pengetahuan, agar kelak anak menjadi orang yang berwawasan luas.  Berikut akan disebutkan empat kiat mendidik anak dalam Islam.

Semua ini, wujud pertanggung jawaban dari setiap orang tua, terhadap anaknya. Pun sebagai pertanggungjawaban orang tua pada Tuhan yang memberikan amanah berupa keturunan.  Denngan keturunan itu, kelak menjadi generasi yang bisa dibanggakan orang tua, bangsa, dan agama.

Seorang pendidik sebaiknya mengetahui ilmu mendidik untuk diterapkan pada anaknya. Sebaik-baik bahan pendidikan adalah mendidik anak berdasarkan metode Al-Qur’an dan Rasulullah. Hal ini dapat menciptakan generasi yang mencintai dan mengamalkan Islam secara subtansial.

Menurut Muhammad al-Zuhaili, dalam buku Menciptakan Remaja Dambaan Allah  mendidik anak secara Qur’an merupakan amal jariyah seorang pendidik, baik dia adalah orang tua atau seorang guru. Pendidik harus memiliki komitmen dalam mendidik anak-anaknya, sesuai dengan norma-norma dan hukum-hukum Islam.

Contoh sederhananya adalah seorang ayah tidak sepantasnya memberikan sumber penghasilan pada anak-anaknya yang berasal dari barang yang subhat, terlebih barang yang haram. Memberikan nafkah yang haram, hanya akan membiasakan anak berakhlak yang buruk kelak. Dan tertutup kemungkinan menjadi orang yang korup di masa depan.

Al-Qur’an menyeru kepada manusia, terlebih ayah untuk menjaga keluarganya dari siksa api neraka. Inilah cara mendidik anak versi Al-Qur’an yang pertama. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Tahrim/66:6;

Baca Juga:  Parenting Islami : Menanamkan Cinta Pada Anak, Bukan Takut

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarga mu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa apa yang diperintahkan.

Hal ini menegaskan bahwa orang tua memiliki peran strategis dalam rumah tangga. Buya Hamka dalam Tafisr Al Azhar mengatakan dari rumah tangga itulah dimulai menanamkan iman dan memupuk Islam. Oleh sebab itu, dari rumah tangga itulah akan terbentuk umat. Dan dalam umat itulah akan tegak masyarakat Islam. Masyarakat Islam ialah suatu masyarakat yang bersamaan pandangan hidup, bersamaan penilaian terhadap alam.

Kedua, menurut ajaran Islam seorang anak sebaiknya diajarkan tentang shalat. Orang tua sebaiknya memperkenalkan dan memberikan contoh pada anaknya tentang shalat. Sejak balita sudah membiasakan anak untuk mengambil air wudhu dan mengikuti gerakan sholat, meskipun belum benar sama sekali.

Jika anak sudah terbiasa melihat orang tuanya sholat dan meniru setiap gerakannya, kelak akan lebih mudah untuk diajari. Jamak kita saksikan dari video media sosial, ada saja tingkah lucu anak-anak yang mempraktikkan gerakan shalat. Ada yang rukuk, ada yang berdiri layaknya orang shalat. Tentu ini langkah yang bagus untuk memperkenalkan shalat.

 عن عمرو بن شعيب، عن أبيه، عن جده -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: مُرُوا أولادَكم بالصلاةِ وهم أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، واضْرِبُوهُمْ عليها، وهم أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ

Baca Juga:  Pentingnya Pendampingan Orang Tua Pada Anak dalam Bermedia Sosial

Artinya: Dari Amr Bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Perintahkan anak-anakmu melaksanakan sholat sedang mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka karena tinggal sholat sedang mereka berusia 10 tahun dan pisahkan antara mereka di tempat tidurnya.” (H.R Abu Daud)

Ketiga, menanamkan nilai-nilai keimanan (ketauhidan) pada anak. Hal ini  merupakan inti dari ajaran Islam dan risalah para Nabi yang diutus Allah. Tak bisa dipungkiri, konsep Tuhan dalam Islam adalah tauhid. Untuk itu menanamkan tauhid pada anak sejak usia dini adalah hal yang sangat penting.

Dalam tradisi Nusantara, pengenalan tauhid pada anak sudah mengakar lama. Ada tradisi mengaji sore—yang biasa dikenal dengan Ibtidaiyah—, anak-anak diajarkan sifat 20. Para anak-anak yang sekolah agama sore ini secara bersama-sama menyanyikan dan bersyair tentang sifat-sifat Allah, mulai dari wujud hingga kalam.

Tradisi ini terbilang penting, sebagai awal mengenalkan Allah pada anak-anak. Dengan demikian, keimanan sudah tertanam dalam diri anak sejak belia. Jangan dikira anak-anak itu tidak dapat menjangkau makna Ketuhanan itu. Tidakkah kita sadar bagaimana Nabi Ibrahim mencari Tuhan padahal belum dewasa? Tidakkah kita sadar, bagaimana bayi yang saksi Nabi Yusuf begitu fasih menceritakan Keesaan Allah.

Mengajarkan tauhid juga dipraktikkan Nabi pada anak-anaknya. Hal itu bisa dilihat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Hakim. Dalam hadis itu dijelaskan bahwa Nabi mengazankan telinga Hasan dan Husein. Toh, pada adzan itu ada kalimat tauhid yakni persaksian hamba akan Tuhannya. Simak hadis riwayat Abu Rafi’:

عَنْ أَبِي رَافِعٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِى أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِىٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاَةِ.

Baca Juga:  Nasihat Nabi untuk Suami yang Tergoda Perempuan Lain

 Artnya; Dari Abi Rafi, ia berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengadzani telinga Al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fatimah, dengan adzan shalat” (HR. Abu Daud, At-Tirmizy dan Al-Hakim)

Keempat, seorang anak seyogianya diajarkan berpuasa sejak belia. Mengajak anak untuk mulai mengenal puasa sejak dini, merupakan hal yang baik. Seorang anak kira-kira pada usia 6 tahun sudah dibangunkan untuk melaksanakan sahur.  Pun bisa juga dengan menggunakan cara melaksanakan puasa setengah hari atau berselang seling, baru selanjutnya puasa penuh seharian.

Di samping itu seorang tua juga bisa menanamkan nilai pada anak, terkait segala manfaat dan berkah dari puasa. Bisa juga orang tua menjanjikan hadiah bagi anak yang mampu berpuasa. Ini semua untuk mengenalkan rukun Islam pada anak. Agar kelak tak lalai pada kewajiban agama.

 

Rekomendasi

Mengenal Umma Dewi: Penulis Buku “Anak Bertanya, Umma Menjawab” Mengenal Umma Dewi: Penulis Buku “Anak Bertanya, Umma Menjawab”

Mengenal Umma Dewi: Penulis Buku “Anak Bertanya, Umma Menjawab”

Mengenal Oldest Child Syndrome, Dear Anak Pertama: Bahumu Tak Harus Selalu Sekuat Baja Mengenal Oldest Child Syndrome, Dear Anak Pertama: Bahumu Tak Harus Selalu Sekuat Baja

QS. Al‑Baqarah Ayat 233: Perhatian Islam terhadap Hak Reproduksi Ibu serta Tumbuh Kembang Bayi

Fatherless dan Ancaman Predator Seksual: Tangki Kasih Sayang yang Kosong Buat Anak Rentan Jadi Korban Fatherless dan Ancaman Predator Seksual: Tangki Kasih Sayang yang Kosong Buat Anak Rentan Jadi Korban

Di Balik Candaan “Ibu Sambung”: Mengapa Sosok Ayah Seperti Daehoon Jadi Harapan Banyak Perempuan Indonesia

Melindungi Anak dari Pelecehan: Pentingnya Mengenalkan Bagian Tubuh Pribadi Sejak Kecil Melindungi Anak dari Pelecehan: Pentingnya Mengenalkan Bagian Tubuh Pribadi Sejak Kecil

Melindungi Anak dari Pelecehan: Pentingnya Mengenalkan Bagian Tubuh Pribadi Sejak Kecil

Ditulis oleh

Mahasiswa Hukum Keluarga di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Saat ini penulis juga aktif di Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Komentari

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

Mewarisi Dendam atau Memutus Luka Keluarga? Refleksi Novel Makamkan Ibu di Samping Ayah

buku

Nama Nabi Sulaiman Didahulukan Nama Nabi Sulaiman Didahulukan

Tafsir Surah An-Naml Ayat 30; Hikmah Nama Nabi Sulaiman Didahulukan daripada Nama Allah

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan? Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Bagaimana Pandangan Maqashid Syariah mengenai Kebakaran Hutan di Kalimantan?

Muslimah Talk

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya? Mu'asyarah bil Ma'ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Mu’asyarah bil Ma’ruf dalam Pernikahan, Bagaimana Idealnya?

Keluarga

Trending

Nasihat Pernikahan Gus Mus Nasihat Pernikahan Gus Mus

Doa untuk Pengantin Baru

Ibadah

Surat Al-Ahzab Ayat 33 Surat Al-Ahzab Ayat 33

Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33; Domestikasi Perempuan, Syariat atau Belenggu Kultural?

Kajian

Mengenal Tujuh Macam Kebiasaan Istihadhah

Ibadah

diperhatikan Memilih pasangan hidup diperhatikan Memilih pasangan hidup

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Hal yang Harus Diperhatikan saat Memilih Pasangan Hidup

Kajian

Tata Cara Shalat Perempuan Tata Cara Shalat Perempuan

Tata Cara Shalat Perempuan Istihadhah

Ibadah

air ketuban air ketuban

Benarkah dengan Membaca Surah Yusuf Anak yang Dikandung akan Tampan?

Kajian

kehidupan muhammad sebelum nabi kehidupan muhammad sebelum nabi

Kenapa Sahabat Nabi Tidak Merayakan Maulid?

Khazanah

lelaki perempuan mata allah lelaki perempuan mata allah

Feminisme Al-Qur’an, Tafsir An-Nahl 97; Lelaki dan Perempuan di Mata Allah

Kajian

Connect