BincangMuslimah.Com – Tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar baik-baik saja. Ada kalanya senyum yang selalu mengembang, sikap yang tampak tegar, atau kebiasaan untuk terus membantu orang lain justru menjadi cara seseorang menyembunyikan rasa takut dan luka yang belum sembuh.
Melalui buku Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ mengajak pembaca memahami bagaimana pengalaman masa kecil membentuk “topeng” yang kita kenakan hingga dewasa. Buku ini membahas bagaimana trauma, pola asuh, dan pengalaman emosional di masa kanak-kanak dapat memengaruhi cara seseorang memandang diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain.
Inner Child: Luka yang Tidak Selalu Hilang Saat Kita Dewasa
“Dalam perjalanan hidup, tujuan kita bukan melepaskan topeng selamanya. Ingat, dunia tidak siap melihat wajah kita apa adanya. Mungkin ada saatnya kita bisa melepaskan topeng saat kita sendirian. Tapi selama kita masih berelasi dengan manusia lain di panggung sandiwara ini, kemungkinan kita akan terus membutuhkan topeng tersebut”
Salah satu gagasan paling menarik dalam buku ini adalah tentang “topeng”. Bukan topeng dalam arti harfiah, melainkan identitas yang dibangun agar seseorang dapat diterima oleh lingkungan.
Akibatnya, ketika dewasa mereka menciptakan berbagai topeng. Ada yang menjadi perfeksionis, ada yang selalu berusaha menyenangkan orang lain, dan ada pula yang tampak sangat mandiri tetapi sebenarnya takut meminta bantuan.
Salah satu konsep yang sangat dekat dengan isi buku ini adalah inner child. Secara sederhana, inner child ialah bagian diri yang menyimpan pengalaman, emosi, dan kebutuhan masa kanak-kanak yang belum terselesaikan.
Dalam buku ini terdapat tokoh bernama Stelora. Saat kecil ia dituntuk untuk sempurna dan sering diabaikan emosinya karena memiliki adik penderita epilepsi. Ternyata, ia tumbuh menjadi orang dewasa yang sulit mengungkapkan perasaan karena takut dianggap merepotkan.
Tokoh lainnya ialah Viktor. Sejak kecil ia mendapat tuntutan dari ayahnya untuk menjadi laki-laki yang maskulin, tegas, bahkan tidak boleh melakukan hal-hal yang terlihat feminin.
Sejak kecil, banyak orang belajar bahwa menunjukkan emosi tertentu tidak selalu aman. Ada anak yang terbiasa mendapat teguran ketika menangis dan ada yang harus selalu menjadi juara agar mendapat perhatian. Di sisi lain, ada pula yang mendapat paksaan untuk menjadi sosok kuat meski sebenarnya sedang terluka.
Pesan inilah yang menjadi inti buku. Banyak orang dewasa menjalani hidup sambil membawa luka lama yang tidak pernah benar-benar diproses. Mereka mungkin telah sukses dalam pekerjaan, memiliki keluarga, atau tampak baik-baik saja dari luar. Namun, di dalam diri terdapat sosok anak kecil yang tangki cintanya tidak penuh.
Ketika Topeng Superhero Berubah Menjadi People Pleaser
Bentuk topeng lainnya adalah people pleaser, yaitu kecenderungan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan diri sendiri.
Sekilas, sifat ini terlihat positif. Orang yang people pleaser biasanya ramah, mudah membantu, dan jarang menolak permintaan orang lain. Namun, di balik itu sering tersembunyi ketakutan yang lebih dalam: takut ditolak, takut tidak disukai, atau takut kehilangan penerimaan dari lingkungan.
Melalui tema topeng dalam buku ini, pembaca dapat melihat bahwa perilaku people pleaser sering kali bersumber daro pengalaman masa kecil. Ada anak yang hanya mendapatkan pujian ketika berprestasi, ada yang harus selalu menurut agar tidak dimarahi, dan ada pula yang terbiasa menekan kebutuhan dirinya demi menjaga kenyamanan orang lain. Pengalaman-pengalaman tersebut kemudian terbawa hingga dewasa sebagai pola perilaku yang tampak “baik”, tetapi melelahkan.
Akibatnya, seseorang bisa merasa kesulitan berkata “tidak”, merasa bersalah ketika memprioritaskan diri sendiri, atau terus-menerus mencari validasi dari orang lain. Topeng superhero yang ia pakai membuatnya selalu tampak kuat dan siap membantu, padahal ia sedang menyimpan kelelahan.
Berdamai dengan Diri, Bukan Menjadi Sempurna
Menariknya, buku ini tidak mengajak pembaca untuk membenci topeng yang selama mereka pakai. Sebaliknya, dr. Andreas mengajak pembaca memahami bahwa topeng tersebut pernah memiliki fungsi penting untuk membantu seseorang bertahan menghadapi situasi yang sulit.
Namun, ketika topeng itu terus dipakai hingga dewasa, seseorang bisa kehilangan hubungan yang sehat dengan diri sendiri. Karena itu, proses pemulihan bukan tentang menjadi sempurna atau sepenuhnya menghilangkan luka. Proses tersebut lebih dekat pada keberanian untuk mengenali kebutuhan inner child. Juga menetapkan batasan yang sehat dan belajar menerima diri tanpa harus selalu mendapatkan persetujuan dari orang lain.
Melalui pembahasan tentang trauma masa kecil, topeng sosial, dan proses penyembuhan, dr. Andreas Kurniawan mengingatkan bahwa banyak orang yang tampak kuat sebenarnya hanya sedang berusaha bertahan.
Langkah pertama untuk pulih adalah berhenti berpura-pura menjadi superhero, lalu mulai mendengarkan suara anak kecil yang selama ini bersembunyi di dalam diri kita. Kita tidak harus terus terlihat kuat. Kadang-kadang, bentuk keberanian terbesar justru terletak pada kemampuan untuk mengakui bahwa kita pernah terluka dan sedang belajar pulih.
Judul: Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero
Penulis: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tahun Terbit: 2026
ISBN: 978-602-06-8846-6
Jumlah Halaman: 268 halaman
