Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Ini Lima Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan dalam Hal Shalat

BincangMuslimah.Com – Shalat merupakan salah satu komponen rukun Islam yang harus dipenuhi bagi setiap Muslim. Baik laki-laki maupun perempuan harus memenuhi syarat dan rukunnya agar shalat yang mereka lakukan sah dan legal secara fikih. Namun, di dalam al-Fiqh al Manhaji Ala Madzhab al Imam al Syafii karya Dr. Mustafa al Khan dan Dr Mustafa al Bagha disebutkan terdapat 5 hal perbedaan antara laki-laki dan perempuan yang sunnah dilakukan di dalam shalat. Berikut ulasannya.

Pertama, bagi perempuan disunahkan dalam melaksanakan sujud untuk mengumpulkan sebagian anggota dengan anggota lainnya, yakni dengan cara mengumpulkan kedua siku-sikunya kepada lambungnya dan menempelkan perutnya dengan kedua pahanya, berbeda dengan laki-laki yang disunahkan menjauhkan siku-sikunya dari lambungnya dan mengangkat perutnya (agar tidak menyentuh) dari kedua pahanya.

Hal ini didasarkan dari Hadis riwayat imam Al-Baihaqi (2/232) bahwasannya Rasulullah saw. melewati dua perempuan yang sedang melaksanakan shalat, beliau pun mengatakan: “Jika kalian berdua sujud kemudian menempelkan sebagian anggota tubuh kepada bumi, maka sesungguhnya (sujudnya) perempuan tidaklah demikian, yang seperti laki-laki.” Maka dalam hadis tersebut dikatakan oleh Nabi Saw. secara gamblang bahwa tata cara sujud  antara laki-laki dan perempuan adalah berbeda. Jika laki-laki merenggangkan anggota tubuhnya sedangkan perempuan mengumpulkan atau menghimpit anggota badan dengan sebagian anggota badan lainnya.

Kedua, bagi perempuan hendaknya melirihkan suaranya ketika melaksanakan shalat di sisi seorang laki-laki lain (yang bukan mahramnya). Maka hendaknya perempuan tersebut tidak mengeraskan suaranya di dalam shalat yang disunahkan mengeraskan bacaannya (seperti shalat Maghrib, Isya dan Subuh).  Hal ini berdasarkan Q.S. Al Ahzab ayat 32 “Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara, sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya.” Berbeda halnya dengan laki-laki yang tetap disunahkan mengeraskan suaranya pada tempat-tempat yang disunahkan mengeraskan suara.

Ketiga, apabila terdapat sesuatu yang berkenaan dengan diri perempuan di tengah melaksanakan shalat, (misalnya imamnya lupa terhadap suatu gerakan shalat) dan ia ingin memberitahukan jama’ah lainnya atas apa yang terjadi, maka ia hendaknya bertepuk tangan dengan cara memukulkan (telapak) tangan sebelah kanan pada punggung tangan kiri.

Adapun bagi laki-laki, maka jika terjadi sesuatu hal terhadap dirinya di tengah shalat disunahkan membaca tasbih dengan suara keras, namun tidak dengan niat mengingatkan atau memberi tahu. Karena di dalam kitab syarah fathul qarib karya imam Abu Qasim al Gahzi disebutkan bahwa hendaknya bagi laki-laki tersebut ketika mengucapkan tasbih dengan niat berdzikir saja, atau boleh niat dzikir sekaligus memberitahu (imamnya yang salah) atau sekedar mengucapkan tanpa berniat apa-apa, maka tidak batal shalatnya.

Namun jika ia mengucapkan tasbih dengan niat memberitahu saja maka batal shalatnya. Keterangan ini didasari oleh hadis riwayat imam al Bukhari (no. 652)  dan imam Muslim (no. 421) dari sahabat Sahl bin Sa’d ra. Bahwasannya Rasulullah Saw. bersabda “Barang siapa yang tertimpa sesuatu di dalam shalatnya, maka hendaknya ia mengucapkan tasbih, maka sungguh jika ia membaca tasbih, maka imam diingatkan olehnya, sedangkan tepuk tangan khusus untuk perempuan.”

Keempat, aurat perempuan di dalam shalat adalah seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangannya, sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. An-Nur ayat 31 “Dan Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang tampak padanya.” Dan menurut pendapat yang masyhur sebagaimana yang dikutip oleh imam Ibnu Katsir di dalam tafsir al Qur’an al Adzimnya (juz 3/ hal 283) dikatakan bahwa yang dimaksud dengan perhiasan dan apa yang tampak padanya adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Keterangan aurat perempuan ini juga berdasarkan hadis riwayat Abu Daud nomer 640 Dari Ummi Salamah ra. Bahwasanya ia pernah bertanya kepada Nabi Saw. “Apakah sah shalatnya perempuan dengan memakai baju panjang dan penutup kepala tanpa menggunakan sarung? Beliau menjawab” “Jika baju panjang itu luas dan dapat menutupi kedua punggung telapak kakinya (maka sah shalat perempuan tersebut).”

Adapun aurat laki-laki di dalam shalat adalah anggota tubuh antara pusar dan lutut. Jika ia shalat dan anggota tubuh antara pusar dan lututnya saja yang tertutup, maka shalatnya sah. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan secara marfu’ dari imam Ad-Daru Quthni (1/231) dan imam al Baihaqi (2/229) “Apa yang terdapat di atas kedua lutut adalah termasuk aurat, dan apa yang terdapat di bawah pusar adalah termasuk aurat.”

Kelima, bagi perempuan tidak disunahkan mengumandangkan adzan, tetapi hanya disunahkan melantunkan iqamah saja. Namun jika ia mengumandangkan adzan dengan suara yang pelan, maka tidaklah makruh baginya. Hal ini dianggap sebagai bagian dari dzikir yang diharapkan pahala atasnya.

Adapun jika ia mengumandangkannya dengan suara yang lantang (keras) maka berhukum makruh. Dan akan berubah menjadi haram jika sampai menimbulkan fitnah. Sedangkan bagi laki-laki disunahkan mengumandangkan adzan setiap akan melaksanakan shalat.

Demikianlah lima perbedaan laki-Laki dan perempuan dalam hal shalat, semoga menjadi perhatian teman-teman semua.  Wa Allahu a’lam bis shawab.

*Artikel ini sebelumnya pernah dimuat BincangSyariah.Com

Rekomendasi

Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan

Tujuh Pembagian Waktu Shalat saat Isya, Mana yang Paling Utama?

Ini Pembagian Waktu Shalat saat ‘Ashar

Ini Pembagian Waktu Shalat saat Dzuhur

Tiga Tips Agar Shalat Menjadi Khusyu’

Annisa Nurul Hasanah
Ditulis oleh

Redaktur Pelaksana BincangMuslimah.Com, Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah

Komentari

Komentari

Terbaru

perempuan dan tuhannya perempuan dan tuhannya

Karimah al-Marwariyah, Ulama Perempuan yang Enggan Menikah

Kajian

Sholihah Wahid Hasyim: Tokoh Perempuan yang Aktif di Bidang Politik  

Kajian

Tafsir QS. Yūnus [10] Ayat 99: Ajaran Al-Qur’an tentang Toleransi

Kajian

Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan Hukum Iktikaf di Masjid Bagi Perempuan

Tujuh Pembagian Waktu Shalat saat Isya, Mana yang Paling Utama?

Ibadah

Mengenali Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Bagaimana Solusinya?

Kajian

perempuan khitan perempuan khitan

Melacak  Hadits Tentang Sunat Perempuan  

Kajian

Kisah Tukang Gali Kubur Menjadi Ulama Kisah Tukang Gali Kubur Menjadi Ulama

Kisah Tukang Gali Kubur Menjadi Ulama

Khazanah

Kisah Tiga Peneliti Tentang Sufi Perempuan  

Diari

Trending

Anak perhiasan dunia Anak perhiasan dunia

Parenting Islami: Mendidik Generasi Tauhid di Era Modern

Keluarga

Hukum Menginjak Makam Orang Muslim

Ibadah

Perbedaan Najis Ainiyah dan Najis Hukmiyah serta Cara Mensucikannya

Ibadah

krisis quarter life krisis quarter life

Perempuan Rentan Krisis Quarter Life: Kenali dan Hadapi

Diari

resolusi jihad resolusi jihad

Refleksi Hari Santri: Menghidupkan Semangat Resolusi Jihad di Masa Kini

Muslimah Daily

Pengertian Keluarga Sakinah dan Makna Perkawinan dalam Islam

Keluarga

Mengenal Tradisi Mulidan di Masyarakat Lombok

Kajian

17 Macam Mandi yang Disunnahkan dalam Islam

Ibadah

Connect