Ikuti Kami

Subscribe

Ibadah

Benarkah Orang Pingsan Tidak Wajib Mengqadha Shalatnya?

menyadari salah kiblat shalat

BincangMuslimah.Com – Termasuk salah satu syarat wajibnya shalat adalah mukallaf, yakni sudah masuk dalam usia baligh dan berakal. Oleh karena itu, bagi orang yang belum baligh dan berakal maka kewajiban melaksanakan shalat menjadi gugur. Hal ini berlandaskan hadis:

رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يعقل

Diangkat pena (tidak dikenai kewajiban) pada tiga orang yaitu orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh dan orang gila sampai ia berakal. (HR. Muslim)

Orang yang pingsan berada dalam posisi di tengah-tengah antara orang yang gila dan orang yang tidur. Hal ini sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali:

وَقَالَ الْغَزَالِيُّ الْجُنُونُ يُزِيلُهُ وَالإِغْمَاءُ يَغْمُرُهُ وَالنَّوْمُ يَسْتُرُهُ

Al-ghazali berpendapat,“Gila dapat menghilangkan akal, pingsan dapat menenggelamkan akal, dan tidur dapat menutup akal.

Sehingga dalam fiqh masih terdapat perincian hukum (tafshil) pada orang yang pingsan. Adakalanya disamakan dengan orang yang tidur dan adakalanya disamakan dengan orang yang gila. Contohnya adalah dalam masalah kewajiban mengqadha shalat, orang yang pingsan mempunyai hukum yang sama dengan orang yang gila dalam hal tidak wajibnya mengqadha shalat ketika dalam keadaan pingsan atau masa gila berlangsung lama, mulai awal masuknya waktu sampai keluarnya waktu shalat.

Hal ini sebagaimana pendapat syaikh jalaluddin as-suyuti dalam kitabnya al-asybah wa an-nadza’ir sebagai berikut,

 وَاعْلَمْ أَنَّ الثَّلاثَةَ قَدْ يَشْتَرِكُونَ فِي أَحْكَامٍ وَقَدْ يَنْفَرِدُ النَّائِمُ عَنْ الْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ تَارَةً يَلْحَقُ بِالنَّائِمِ وَتَارَةً يَلْحَقُ بِالْمَجْنُونِ وَبَيَانُ ذَلِكَ بِفُرُوعٍ الأَوَّلُ الْحَدَثُ يَشْتَرِكُ فِيهِ الثَّلاثَةُ الثَّانِي اسْتِحْبَابُ الْغُسْلِ عِنْدَ الإِفَاقَةِ لِلْمَجْنُونِ وَمِثْلُهُ الْمُغْمَى عَلَيْهِ الثَّالِثُ قَضَاءُ الصَّلاةِ إذَا اسْتَغْرَقَ ذَلِكَ الْوَقْتَ يَجِبُ عَلَى النَّائِمِ دُونَ الْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ كَالْمَجْنُونِ

Ketahuilah olehmu bahwa tiga hal ini (gila, pingsan, tidur) terkadang sama dalam beberapa hukum, dan terkadang orang yang tidur memiliki hukum tersendiri yang berbeda dari orang yang gila dan pingsan. Orang yang pingsan terkadang di satu sisi sama dengan orang yang tidur dan di sisi yang lain sama dengan orang gila. Penjelasan hal tersebut terdapat dalam beberapa cabang-cabang fiqih. Pertama, hilangnya hadats kecil berlaku bagi tiga orang tersebut (tidur, pingsan, dan gila). Kedua, sunnahnya melaksanakan mandi bagi orang yang baru sadar dari sifat gila dan pingsan (tidak berlaku bagi orang yang baru bangun tidur). Ketiga, mengqadha shalat ketika waktu dihabiskan dengan tidur adalah hal yang wajib, berbeda halnya bagi orang yang menghabiskan waktu shalat (tidak menemui waktu shalat) karena gila, sedangkan orang yang pingsan dalam permasalahan ini sama dengan orang yang gila (dalam hal tidak wajib qadha). (Syaikh Jalaluddin As-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nadhair, hal. 213)

Beda halnya ketika orang yang pingsan masih sempat menututi waktu shalat, dalam keadaan demikian ia tetap wajib melaksanakan shalat yang tertunda karena faktor pingsan. Namun kewajiban ini dibatasi dengan ketentuan ketika memang waktu tersadar yang dialami oleh orang yang pingsan ini masih mencukupi untuk melakukan shalat secara sempurna.

Sedangkan ketika masa tersadar yang dialami oleh seseorang sebelum ia pingsan tidak cukup untuk dibuat melakukan shalat secara sempurna, seperti hanya tersadar dalam waktu  satu menit setelah masuknya waktu shalat, dan jelas-jelas waktu satu menit tersebut tidak cukup untuk digunakan melaksanakan shalat sampai selesai, maka dalam keadaan demikian ia tetap tidak diwajibkan untuk mengqadha shalatnya.

Hal ini sebagaimana pendapat Syaikh Muhammad bin Salim dalam karyanya Sullam at-Taufiq dan syarahnya, kitab Is’ad ar-Rafiq:

فَإِنْ طَرَأَ مَانِعٌ كَحَيْضٍ أَوْجُنُوْنٍ أَوْإِغْمَاءٍ وَكَانَ طُرُوُّهُ بَعْدَ مَا مَضَى مِنْ أَوَّلِ وَقْتِهَا مَا يَسَعُهَا أَيْ يَسَعُ أَرْكَانَهَا فَقَطْ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُ الطُّهْرِ عَلَى الْوَقْتِ كَسَلِيمٍ غَيْرَ مُتَيَمِّمٍ وَبَعْدَ أَنْ يَمْضِيَ مِنْهُ مَا يَسَعُهَا وَطُهْرَهَا بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ لاَيُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُهُ لِنَحْوِ سَلِسٍ لَزِمَهُ بَعْدَ زَوَالِ الْمَانِعِ قَضَاؤُهَا أَيْ قَضَاءُ صَلاَةِ ذَلِكَ الْوَقْتِ ِلإِدْرَاكِهِ مِنْ وَقْتِهَا مَا يُمْكِنُهُ فِعْلُهَا فِيْهِ فَلاَ يَسْقُطُ بِمَا طَرَأَ

Jika perkara yang menghalangi melakukan shalat ini datang, seperti haid, gila, pingsan, dan hal tersebut terjadi setelah masa yang cukup untuk melakukan shalat bagi orang yang dapat mendahulukan bersuci dari masuknya waktu, seperti orang yang selamat (dari hadats yang terus-menerus) yang tidak bersuci dengan tayammum. Atau udzur tadi datang setelah lewatnya waktu yang cukup untuk bersuci dan melakukan shalat bagi orang yang tidak dapat mendahulukan bersuci dari masuknya waktu, seperti karena faktor terkena tsalisilbaul (buang air terus-menerus) maka wajib baginya untuk mengqadha shalat pada waktu itu sebab ia menemui waktu (wajibnya) shalat pada masa yang mungkin untuk melakukan shalat, maka kewajiban shalat tidak menjadi gugur sebab udzur yang baru datang (Syekh Muhammad bin Salim, Is’ad ar-Rafiq, juz 1, hal. 72)

Semoga bermanfaat Wallahua’lam……

 

Rekomendasi

Melaksanakan Shalat Ketika Adzan Melaksanakan Shalat Ketika Adzan

Murtad Lalu Beriman Lagi, Wajib Mengqadha Shalat?

Shalat Jamak syarat dilakukan Shalat Jamak syarat dilakukan

Cara Mengganti Shalat yang Lama Ditinggalkan

perempuan mel shalat jenazah perempuan mel shalat jenazah

Darah Haid Keluar Saat Masuk Waktu Shalat, Apakah Harus Mengqadha Shalat?

Haruskah Mengqadha Shalat Idul Haruskah Mengqadha Shalat Idul

Haruskah Mengqadha Shalat Idul Fitri Jika Tertinggal?

Ziadatul Widadz
Ditulis oleh

Aktivis IKSASS (Ikatan Santri Salafiyah Syafi'iyah) Surabaya

Komentari

Komentari

Terbaru

Kisah Ibnu Rusyd yang Pernah Ditolong oleh Yahudi

Kajian

seragam sekolah identitas keagamaan seragam sekolah identitas keagamaan

Sengkarut Seragam Sekolah dengan Identitas Keagamaan, Akankah Sekolah Berujung Jadi Ranah Intoleransi?

Muslimah Talk

Drama Extraordinary Attorney Woo Drama Extraordinary Attorney Woo

Perempuan Penyandang Disabilitas Mental menjadi Pengacara Hebat di Drama Extraordinary Attorney Woo

Muslimah Talk

Muawiyah Menikahi non muslim Muawiyah Menikahi non muslim

Kisah Khalifah Muawiyah Menikahi Perempuan Non Muslim

Khazanah

Bulan Haram 3 Berurutan Bulan Haram 3 Berurutan

Mengapa Bulan Haram 3 Berurutan, Sedangkan 1 Bulan Terpisah?

Kajian

Pekan ASI Sedunia ibu Pekan ASI Sedunia ibu

Pekan ASI Sedunia: Ayah Perlu Jadi Support System untuk Ibu

Muslimah Talk

jalan damai kasus perundungan jalan damai kasus perundungan

Tidak Ada Penyelesaian ‘Jalan Damai’ pada Kasus Perundungan dan Kekerasan Seksual

Muslimah Talk

Siswi SMA Dipaksa Berjilbab Siswi SMA Dipaksa Berjilbab

Siswi SMA Negeri Bantul Dipaksa Berjilbab, Seharusnya Tiada Paksaan dalam Berjilbab

Muslimah Talk

Trending

Bulan Haram 3 Berurutan Bulan Haram 3 Berurutan

Amalan yang Bisa Dilakukan di Awal Tahun Hijriah

Ibadah

Memahami Makna I'jaz Al Qur'an Memahami Makna I'jaz Al Qur'an

Memahami Makna I’jaz Al Qur’an

Kajian

Perempuan dalam Historiografi Islam Perempuan dalam Historiografi Islam

Perempuan dalam Historiografi Islam

Kajian

Sejarah Kurban Sebelum Islam Sejarah Kurban Sebelum Islam

Sejarah Kurban Sebelum Nabi Ibrahim

Kajian

Tempat Duduk jenis kekerasan Tempat Duduk jenis kekerasan

Efektifkah Pemisahan Tempat Duduk Penumpang Berdasarkan Jenis Kelamin untuk Menangkal Kekerasan Seksual?

Muslimah Talk

Pelaku Pemerkosaan Dibela Ayahnya Pelaku Pemerkosaan Dibela Ayahnya

Pelaku Pemerkosaan Dibela Ayahnya, Padahal Nabi Tegas Menegakkan Hukum Termasuk pada Anaknya

Khazanah

Tingkatan Cinta Ibnu Arabi Tingkatan Cinta Ibnu Arabi

Tingkatan Cinta Menurut Ibnu Arabi

Kajian

Rasulullah Disalip Emak-emak Rasulullah Disalip Emak-emak

Kisah Rasulullah Disalip Emak-emak

Khazanah

Connect