Ikuti Kami

Subscribe

Diari

Siti Hajar: Uswah Bagi Para Spiritual Climbers

BincangMuslimah.com– Kisah Siti Hajar memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Upaya Siti Hajar yang tak kenal menyerah dan berputus asa dalam mencari air untuk anaknya melambangkan sikap persisten (keteguhan hati untuk terus berjuang). Keteguhan hati disertai niat yang tulus karena Allah semata telah mendorong Siti Hajar untuk terus berjuang mencari air di tengah padang pasir gersang. Ia yakin Allah pasti menolongnya. Pertolongan Allah datang bersama kesabaran dan kegigihan.

Teladan dari Siti Hajar ini diabadikan dalam salah satu rukun ibadah haji, yaitu sa’i (berlari-lari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali); untuk mengajarkan umat manusia sikap persisten dalam berusaha mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Nilai ibadah dalam sa’i terletak saat berjalan dan berlari.

Dalam konteks kehidupan yang luas, setiap ikhtiar yang kita lakukan untuk mewujudkan keadaan yang lebih baik bernilai ibadah di sisi Allah. Tidak ada yang sia-sia jika kita melakukannya secara tulus karena Allah semata. Kewajiban manusia adalah terus berusaha tanpa kenal putus asa. Niscaya Allah akan memberikan “air zamzam” sebagai simbol rezeki yang berkah, keberkahan, dan kesuksesan.

Kalau kisah Siti Hajar tersebut dikaitkan dengan psikologi, kita akan menemukan istilah Adversity Quotient (AQ), yaitu kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk sanggup bertahan dalam setiap kesulitan hidup dan sanggup pula mengatasinya. AQ mengukur kemampuan seseorang dalam mengatasi setiap persoalan hidup tanpa berputus asa. Ini adalah penemuan karya Paul G Stoltz.

Stoltz membagi manusia menjadi tiga tipe dalam analogi mendaki gunung:

Pertama, quitters, yaitu orang-orang yang berhenti. Orang-orang jenis ini berhenti di tengah pendakian, mudah putus asa, dan menyerah. Kehidupan mereka terus diliputi kesusahan.

Kedua, campers, yaitu orang-orang yang berkemah. Orang-orang jenis ini melakukan pendakian, namun sudah berhenti sebelum mencapai puncak. Orang-orang tipe ini masih lebih baik daripada quitters karena setidaknya berani menghadapi tantangan. Banyak orang yang termasuk tipe ini. Pendakian yang belum selesai mereka anggap sebagai kesuksesan akhir. Sebenarnya tidak demikian karena masih banyak potensi dalam dirinya yang belum teraktualisasi hingga menjadi sia-sia.

Ketiga, climbers, yaitu para pendaki. Orang-orang tipe ini selalu optimistis, berpikir positif, dan terus berjuang sampai meraih apa yang dicita-citakan. Mereka selalu bisa melihat peluang dan celah dari setiap tantangan dan rintangan, melihat senoktah harapan di balik kesulitan, dan selalu bergairah untuk maju. Noktah kecil yang oleh orang lain dianggap sepele, bagi para climbers adalah cahaya penerang jalan menuju kesuksesan. (Paul G. Stolz, Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Penerjemah T. Hermaya. PT Grasindo, 2007)

Siti Hajar adalah tipe climbers sejati yang memiliki tingkat AQ sangat tinggi apabila diukur saat itu. Perempuan yang tidak mengenal putus asa dan pantang menyerah. Inilah teladan dari Siti Hajar bagi umat Islam. Uswah bagi para spiritual climbers.

Sekarang, mari kita berpikir sejenak.

Siti Hajar adalah seorang wanita bekas budak dari Ethiopia. Ia berjuang seorang diri di tengah padang pasir gersang untuk menyelamatkan putranya, Ismail.

Perhatikanlah kata-kata kunci berikut ini: seorang perempuan, bekas budak, seorang diri, di tengah padang pasir gersang, panas terik, berlari-lari antara Bukit Shafa dan Marwah tujuh kali.

Jika kita mengacu kepada teori Adversity Quotient-nya Stoltz, bagaimana mungkin seorang climbers gaya Stoltz masih bisa melihat setitik noktah harapan saat itu?

Kala otak atau IQ tidak melihat harapan di tengah padang pasir gersang. Ketika emosi (EQ) sudah berputus asa. Saat intuaisi (AQ) tidak lagi bisa melihat peluang. Ketika sikap proaktifnya pupus. Saat pikiran bawah sadarnya runtuh. Siti Hajar tetap percaya pada harapan. Apa cahaya harapan itu? Itulah cahaya hidayah Allah. Keyakinan dan harapan total akan pertolongan Allah. Inilah esensi yang bisa dipetik dari kisah Siti Hajar dan Ismail.

Jika kita telah memiliki keyakinan yang total kepada Allah, jangan khawatir dan bersedih hati saat menghadapi setiap kesulitan dan rintangan. Segalanya ada dalam genggaman Allah. Teramat mudah bagi Allah untuk menghilangkan kesulitan dan rintangan tersebut, serta membukakan pintu rezeki dari segala penjuru.

Dalam Islam kita mengenal konsep raja’. Raja’, secara etimologi, berarti berharap atau harapan. Secara terminologi, raja’ adalah menautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan datang (ta’liqul qalbi bi mahbub fi mustaqbal). Raja’ harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Sebab harapan tanpa usaha namanya angan-angan (tamanni).

Rekomendasi

Meneladani Kisah Siti Hajar Ibunda Nabi Ismail As

Miratul Izzatillah
Ditulis oleh

Penulis Buku “NW Studies II” dan “Senandung Aforisme, Catatan Ruang Waktu Etika dan Cinta Si Gadis”. Saat ini sedang menyelesaikan gelar Magister Aqidah dan Filsafat Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Komentari

Komentari

Terbaru

piagam madinah falsafah hidup piagam madinah falsafah hidup

Piagam Madinah, Falsafah Hidup Berbangsa dan Bernegara

Khazanah

Melaksanakan Pernikahan Bulan Shafar Melaksanakan Pernikahan Bulan Shafar

Melaksanakan Pernikahan di Bulan Shafar, Benarkah Tidak Boleh?

Kajian

aksi dokter sperma makanan aksi dokter sperma makanan

Aksi Dokter Campur Sperma ke Makanan; Kejahatan Seksual Terhadap Perempuan

Muslimah Talk

murtad wajib mengqadha shalat murtad wajib mengqadha shalat

Murtad Lalu Beriman Lagi, Wajib Mengqadha Shalat?

Kajian

koma wajibkah menqadha shalatnya koma wajibkah menqadha shalatnya

Pasien Covid-19 Koma, Wajibkah Ia Mengqadha Shalat Setelah Sembuh?

Kajian

hadis perempuan penduduk neraka hadis perempuan penduduk neraka

Bincang Hadis, Perempuan Penduduk Neraka Terbanyak

Kajian

dzikir 1000 kebaikan sehari dzikir 1000 kebaikan sehari

Ini Bacaan Dzikir Untuk Memperoleh 1000 Kebaikan Dalam Sehari

Ibadah

anhar palestina melahirkan penjara anhar palestina melahirkan penjara

Anhar al-Deek, Perempuan Palestina yang Nyaris Melahirkan di Penjara

Muslimah Talk

Trending

makna sekufu dalam pernikahan makna sekufu dalam pernikahan

Memilih Pasangan; Ikhtiar Menuju Pernikahan

Keluarga

anak menolong orang tuanya anak menolong orang tuanya

Bisakah Seorang Anak Menolong Orang Tuanya di Akhirat?

Keluarga

Pakaian di Masa Rasulullah Pakaian di Masa Rasulullah

Pakaian di Masa Rasulullah (2)

Kajian

Perundungan perempuan pengalaman biologis Perundungan perempuan pengalaman biologis

Perundungan Terhadap Perempuan karena Pengalaman Biologis

Muslimah Talk

mahram mertua cerai pasangan mahram mertua cerai pasangan

Status Mahram Mertua Pasca Cerai dari Pasangan

Keluarga

Bagaimana Islam Memandang Konsep Childfree?

Kajian

Menentukan Kriteria Sekufu pernikahan Menentukan Kriteria Sekufu pernikahan

Bagaimana Seharusnya Menentukan Kriteria Sekufu dalam Pernikahan?

Kajian

janda stigma negatif melekat janda stigma negatif melekat

Janda dan Stigma Negatif yang Melekat

Muslimah Talk

Connect